Vonny Veronica (30) dua kali ikut event lari Bank Jateng Borobudur Marathon atau Bomar. Ia terbang dari rumahnya di Ketapang, Kalimantan Barat, memesan homestay, hingga berbelanja oleh-oleh untuk menikmati buah tangan dari Magelang, Jawa Tengah.
Bagi Vonny, bisa ikut Bomar sekaligus berwisata ke Jateng adalah hal yang menyenangkan. Setahun sekali menyisihkan dana lebih dari Rp 5 juta untuk berwisata olahraga ke Jawa tak memberatkannya.
Vonny menekuni olahraga lari sejak 2023. Sejak itu pula ia tertarik ikut lari di Bank Jateng Borobudur Marathon karena terpesona cerita rekan-rekan larinya. Menurut mereka, Bomar sangat mengesankan.
”Mereka pulang dengan cerita yang banyak dan berkesan. Saya jadi penasaran,” katanya, Sabtu (24/1/2026).
Vonny pun mendaftar Bank Jateng Borobudur Marathon. Ia beruntung karena bisa masuk daftar pelari kategori maraton pada 2024. Bahkan, pada 2025, ia terpilih menjadi pacer yang bertugas menjadi pemandu para pelari dengan kecepatan tertentu.
Seperti halnya para pelari lain, hatinya pun tertambat di Bank Jateng Borobudur Marathon. Dalam event olahraga mana pun yang telah dia ikuti, suasana cheering Bomar adalah yang paling manis dan membuat kangen.
Warga menyapa dengan ramah, memberi semangat dengan meriah, bahkan menawarkan jajanan dan minuman yang mereka punyai. Bahkan, ada warga yang khusus memberikan semangat padanya di tengah race.
Sepanjang race ia juga menikmati pemandangan menyenangkan yang tak putus-putus. Ini menjadi obat dari rute yang lumayan menghajar fisik. Jadilah Bomar tujuan wisata berlarinya setiap tahun.
Inggit, pelari dari Yogyakarta, pun ketagihan. Setiap tahun, ia dan suaminya war tiket Bank Jateng Borobudur Marathon, war tempat penginapan, bahkan war ojek saat hendak berangkat ke lokasi start. Dari sekian banyak pelari yang tak dapat tempat menginap, Inggit termasuk beruntung.
Pengalamannya dalam beberapa gelaran Bank Jateng Borobudur Marathon sebelumnya membuat ia mengenal agen yang bisa mencarikannya tempat menginap. Terakhir ia menginap di rumah warga dekat Candi Mendut. Satu kamar berdua suaminya, ia membayar Rp 700.000 per malam.
Banyak juga rekannya yang tak mendapatkan tempat menginap. Agar mereka tetap bisa istirahat, pemilik homestay akhirnya menyulap ruang tamu mereka menjadi tempat istirahat rombongan pelari menggunakan kasur-kasur ekstra.
Keramahan pemilik homestay juga melekat dalam benak Inggit. Hidangan teh hangat, gorengan, dan sapaan ramah setiap saat menghangatkan hatinya. ”Suasana seperti pulang kampung saat Lebaran,” ujar Inggit.
Agus, pelari dari Semarang, tak kesulitan mencari akomodasi dan tiket, karena ia tinggal tak jauh dari Magelang. Namun, ia selalu kesulitan mendapatkan slot untuk bisa berlari di Bomar. Ia pun memilih jalan ninjanya yakni menabung di Bank Jateng untuk mendapatkan slot lari.
Dalam survei dampak penyelenggaran Bank Jateng Borobudur Marathon 2025 oleh Litbang Kompas, sebanyak 64,3 persen dari 583 pelari menyatakan Bank Jateng Borobudur Marathon menjadi event terbaik di 2025.
Sebanyak 36,3 persen menilai Bomar dinilai bagus, keren, asyik, seru, ramai, dan meriah. Sebanyak 16,3 persen pun menganggap cheering dan venue-nya terbaik.
Sebaliknya kehadiran ribuan pelari dalam ajang Bank Jateng Borobudur Marathon juga membawa berkah bagi para pelaku usaha. Sebanyak 94,2 persen pelari yang datang ke Magelang berasal dari luar kota. Kemudian 87,8 persen di antaranya memilih menginap. Mereka rata-rata membawa tiga teman atau keluarganya ikut serta.
Dari jumlah yang memilih menginap, 42,9 persen dari mereka menginap sehari di Magelang, 30,9 persen menginap 2 hari, 16,6 persen menginap tiga hari, dan sisanya menginap lebih dari 4 hari. Homestay jadi pilihan terbanyak setelah rumah pribadi, keluarga, hotel hingga sewa rumah.
Kedatangan mereka pun membuat permintaan tempat menginap menjadi tinggi. Kampung Homestay Ngaran 2 di Kecamatan Borobudur, misalnya, laris manis. Begitu panitia menetapkan jadwal race, kamar-kamar yang disewakan di kampung homestay langsung penuh.
”Meski kami bilang sudah penuh, tetap banyak yang menghubungi untuk memesan kamar. Karena sudah tidak ada lagi kamar, kami sampai harus mengalihkan ke homestay-homestay yang ada di kampung sebelah hingga ke daerah lain, seperti Kecamatan Mungkid,” kata koordinator Paguyuban Kampung Homestay Ngaran 2, Muslih.
Dari tahun ke tahun, Kampung Homestay Ngaran 2 turut bertumbuh seiring Bank Jateng Borobudur Marathon. Pada 2018, misalnya, di kampung itu baru ada 15 unit homestay dengan jumlah sekitar 70 kamar. Kini, sudah ada 32 unit homestay dengan jumlah kamar lebih dari 150.
Tak hanya bertambah jumlah kamarnya, kualitas setiap homestay juga terus meningkat. Dulu, belum banyak homestay yang memiliki fasilitas kamar mandi dalam kamar dan pendingin ruangan. Kini, mayoritas sudah memiliki fasilitas kamar mandi dalam dan pendingin ruangan.
Selama penyelenggaraan Bank Jateng Borobudur Marathon, tingkat keterisian kamar di Kampung Homestay Ngaran 2, kata Muslih, melonjak menjadi 100 persen. Biasanya, okupansi di kampung homestay itu 30-50 persen.
”Tidak hanya waktu lomba, dari seminggu sebelum lomba juga kadang-kadang sudah penuh karena ada panitia yang mulai menginap untuk persiapan,” ujar Muslih.
Muslih juga mendapatkan cerita mengenai kebahagiaan para pelaku usaha kuliner yang merasa terdampak Bomar. Salah satu pedagang nasi goreng, misalnya, sudah bisa pulang sebelum pukul 22.00 WIB karena dagangannya laris. Padahal, biasanya dagangannya masih banyak yang belum laku hingga pukul 24.00.
Pelaku usaha peyewaan sepeda dan sepeda motor juga kecipratan rezeki. Selama Bank Jateng Borobudur Marathon, jumlah penyewa meningkat.
Adanya dampak ekonomi yang timbul akibat penyelenggaran Bank Jateng Borobudur Marathon juga diungkapkan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Jateng AR Hanung Triyono.
”Yang terdampak banyak, penginapan, hotel, restoran, rumah makan, pusat berbelanjaan, dan lain-lain. Kemudian, dari tempat-tempat wisata juga terdampak, kunjungannya jadi meningkat,” kata Hanung.
Menurut Hanung, ke depan, pihaknya bakal bekerja sama dengan pelaku wisata di Jateng untuk menarik para pelari agar berkunjung ke berbagai tempat wisata agar perputaran uang kian terasa. Hal itu bisa dilakukan, misalnya, dengan menyelenggarakan event tertentu agar para pelari semakin tertarik.
Peningkatan kapasitas juga terus dilakukan kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jateng melalui berbagai program. Harapannya, barang maupun jasa yang mereka tawarkan bisa menarik pelari sehingga keuntungan yang didapatkan juga lebih banyak.
Supaya transaksi ekonomi yang terjadi di Jateng semakin banyak, pemerintah juga akan menarik para pelari dari luar daerah atau luar negeri untuk masuk lewat Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang.
Sebagaimana terekam dalam survei dan penghitungan dampak ekonomi yang dilakukan oleh Litbang Kompas sejak tahun 2017. Perputaran uang pada Bank Jateng Borobudur Marathon tahun 2017 sekitar Rp 15,1 miliar dari aktivitas belanja peserta lari. Mulai dari transportasi menuju Magelang, penginapan, hingga anggaran berwisata di sekitar Magelang. Diperkirakan, rata-rata total pengeluaran setiap peserta Rp 1,7 juta.
Seiring dengan jumlah peserta yang terus bertambah, dampak ekonomi yang dihasilkan pun semakin besar. Pada tahun 2018 dan 2019, perputaran uang dari pengeluaran belanja peserta meningkat menjadi Rp 26,5 miliar dan Rp 30,5 miliar. Nilai belanja setiap peserta pun juga bertambah Rp 2,6 juta per orang (2018) dan Rp 2,8 juta (2019).
Bank Jateng mencatat event ini menciptakan lonjakan aktivitas ekonomi di Magelang dan sekitarnya. Perputaran ekonomi UMKM baik kuliner, suvenir, homestay, dan transportasi dengan total transaksi sebesar Rp 84,63 miliar.
Penggunaan layanan pembayaran nontunai pun gencar dilakukan dan adanya permintaan kebutuhan modal kerja jangka pendek. Bahkan, lapangan kerja temporer dan berkelanjutan turut terbentuk.
Direktur Utama Bank Jateng Irianto Harko Saputro memandang Bank Jateng Borobudur Marathon yang konsisten diselenggarakan sebagai potensi ekonomi strategis yang bernilai jangka panjang bagi Jawa Tengah.
Bagi pihaknya, Bomar bukan sekadar ajang lari, melainkan acara pariwisata olahraga (sport tourism) bertaraf internasional yang mampu menarik ribuan peserta dari dalam dan luar negeri. Dampaknya langsung terasa pada tingkat hunian hotel, UMKM kuliner dan kerajinan, transportasi lokal, serta ekonomi masyarakat sekitar Borobudur.
Bank Jateng Borobudur Marathon menjadi etalase UMKM Jawa Tengah. Melalui event ini, UMKM naik kelas dari pasar lokal ke nasional bahkan internasional, terdorong untuk go digital (QRIS, pembayaran nontunai), dan membutuhkan pembiayaan berkelanjutan.
Bank Jateng, tambahnya, telah mengurasi 77 UMKM di Jawa Tengah menjadi 46 UMKM melalui program Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yaitu ”Jateng Berdikari”, di mana produk-produk pelaku UMKM itu dipasarkan melalui Whatsapp commerce.
Hal ini juga selaras dengan visi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yakni ”Ngopeni Nglakoni Jateng”. Di sinilah Bank Jateng hadir sebagai mitra pendampingan UMKM, permodalan, dan transaksi keuangan nontunai.
Bank Jateng Borobudur Marathon yang mengambil lokasi di destinasi wisata prioritas menjadi strategi cerdas karena memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperluas manfaat ekonomi hingga ke desa-desa sekitar, serta menjaga keberlanjutan pariwisata berbasis budaya dan alam.
Bagi Irianto, konsistensi sembilan tahun menunjukkan Bank Jateng Borobudur Marathon telah menjadi jenama kuat Jawa Tengah yang turut memperkuat citra Jawa Tengah sebagai daerah ramah investasi dan pariwisata sekaligus mempertegas peran Bank Jateng sebagai bank daerah yang adaptif, modern, dan mendukung pariwisata olahraga.
Setelah bertahun-tahun terselenggara, Ketua Yayasan Borobudur Marathon Liem Chie An kini bisa mewujudkan mimpinya terhadap Borobudur Marathon yang ia rintis. Bank Jateng Borobudur Marathon telah menjelma dari ajang lari menjadi berkah bagi warga Magelang dan sekitarnya.




