Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendukung langkah Kementerian Perindustrian dalam membangun ekosistem industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) nasional. Hal tersebut, diungkapkan oleh Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Banyu Biru Djarot, dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Perindustrian.
Dalam forum tersebut, Banyu Biru menekankan dua hal utama, yakni apresiasi atas kinerja industri nasional serta penguatan kebijakan strategis untuk menghadapi tantangan industri masa depan.
Ia mengapresiasi capaian sektor industri nasional yang dinilai menunjukkan kinerja positif dan daya saing yang semakin kuat di tingkat regional.
“Saya ingin menyampaikan dua hal, pertama apresiasi dan kedua penguatan. Apresiasi pertama untuk IPNM yang pertumbuhan kurvanya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, kedua manufacturing value added Indonesia peringkat pertama di ASEAN tahun 2024, dan ketiga terima kasih atas langkah cepat menangani pascabencana dengan menghidupkan kembali industri kecil di Sumatera,” ujar Banyu Biru.
Pada aspek penguatan, Banyu Biru menyoroti peluncuran Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) sebagai langkah strategis dalam membangun fondasi industri berbasis teknologi tinggi di Indonesia. Ia menilai inisiatif tersebut perlu diiringi dengan kebijakan insentif yang tepat sasaran.
“Pengenalan ICDEC merupakan langkah penting. Namun, perlu diperkuat dengan insentif bagi industri semikonduktor, AI, pengembangan cloud infrastructure, serta hilirisasi logam tanah jarang,” katanya.
Menurut Banyu Biru, arah kebijakan industri nasional saat ini telah bergerak ke jalur yang tepat, yakni dari ekonomi berbasis digital menuju intelligence economy.
“Menurut saya arahnya sudah sangat bagus, dari digital economy ke intelligence economy,” ucapnya.
Ia juga mengutip kerangka pemikiran CEO NVIDIA, Jensen Huang, terkait pembangunan ekosistem teknologi tinggi yang mencakup lima elemen utama, mulai dari energi, chip, model AI, infrastruktur cloud, hingga aplikasi.
Selain itu, Banyu Biru mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan ICDEC. Tercatat, sebanyak 16 kampus telah berpartisipasi dalam inisiatif tersebut.
“Saya mengapresiasi keterlibatan 16 universitas. Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif 2025, investasi dan dukungan anggaran sektor aplikasi telah melampaui Rp40 triliun. Potensinya sangat besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Banyu Biru menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk belajar dari praktik terbaik global, seperti Taiwan dengan TSMC, China dengan SMIC, serta Korea Selatan dan Amerika Serikat melalui Samsung dan Intel.
Ia pun mendorong perancangan insentif fiskal dan nonfiskal yang lebih selektif dan strategis agar mampu menarik investasi sekaligus membangun ekosistem industri dari hulu hingga hilir.
“Insentif harus dirancang secara tepat agar tidak hanya menarik investasi, tetapi juga memastikan hilirisasi logam tanah jarang yang bernilai tambah dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





