Sebelum warga ibu kota benar-benar bangun dari lelapnya malam, para tukang bubur racing memulai hari lebih awal. Dengan motor yang dimodifikasi sedemikian rupa, mereka menjajakan bubur untuk para pekerja di Jakarta.
Di Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat, ada Jamal, pria 43 tahun yang menjajakan bubur dari pagi hari. Jamal mengaku telah menggantungkan kehidupannya dan keluarga dengan berjualan bubur selama 20 tahun.
Dari berjualan sarapan itu, Jamal mengantongi omzet Rp 1 juta per harinya dan kini berhasil membeli kendaraan dan rumah melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Kalau porsi kita enggak hitung ya, satu dandang, (omzet harian) Rp 1 juta. (Barang yang telah dibeli? yang paling berharga rumah tapi rumahnya itu kredit (KPR). (Terus) ini motor,” kata Jamal saat ditemui kumparan di lapak dagangannya, di Jakarta Pusat, Senin (26/1).
Jamal menyebutkan profesi berjualan bubur ini dilakoninya secara turun temurun, dimulai ayahnya, dia dan kini ketiga adiknya juga mengikuti jejak langkahnya.
Mulanya, Jamal berjualan bubur dengan menggunakan gerobak. Sayangnya beberapa kali harus berurusan dengan Satpol PP. Kemudian pada 2010, Jamal memutuskan untuk beralih menjadi tukang bubur racing.
Jamal menilai profesi tukang bubur racing ini kian ramai. Banyak teman seprofesinya yang berasal dari Tambun, Bekasi. Jamal menyebutkan setiap paginya, Jakarta akan kedatangan rombongan tukang bubur racing dari Tambun yang siap menjajakan dagangannya di Jakarta.
“Banyaknya Tambun kalau (tukang bubur) motor, dari Tambun (berangkat) subuh bareng-bareng,” ungkap Jamal.
Tak jauh dari tempat Jamal, di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, ada Luqman, adik bungsu Jamal yang berusia 23 tahun dan menjadi salah satu tukang bubur racing di sana.
Luqman mengaku baru menggeluti profesi ini selama 3 bulan setelah kontrak kerjanya sebagai Office Boy (OB) tidak diperpanjang. Dengan profesi barunya ini, Luqman mengaku telah berhasil merenovasi rumahnya.
“Iya (omzet) Rp 500 ribu sehari dapat. Kalau barang belum (banyak yang dibeli) paling buat renov rumah aja sih,” ungkap Luqman.
“Ini saya baru, soalnya kan tadinya saya kerja. Terus kontraknya habis. Keluarga saya semuanya dagang (bubur), empat bersaudara. Jadi saya lanjut dagang aja,” tambahnya.



