EtIndonesia. Orang yang berhati lapang akan selalu memiliki dunia yang lebih luas dibanding orang lain, dan peluang yang dimilikinya pun akan selalu lebih banyak.
Saya masih ingat, tiga tahun lalu ketika perusahaan kami menghadapi krisis operasional yang sangat berat. Tiba-tiba bagian keuangan memberi tahu bahwa sebuah perusahaan Jepang menolak membayar biaya iklan sebesar 250.000 dolar Taiwan. Alasannya, alamat yang tercantum dalam materi iklan salah. Staf pemasaran lalai melakukan pengecekan akhir, dan setelah klien menyatakan penolakan pembayaran, staf tersebut malah mengundurkan diri begitu saja.
Saya pun segera mendatangi perusahaan Jepang itu untuk meminta maaf kepada pimpinan mereka, Tuan Ono.
Saat bertemu dengannya, raut wajahnya tampak serius. Dia mengajukan tuntutan ganti rugi iklan, termasuk surat permintaan maaf dan rencana kompensasi. Jika tidak, dia bersikeras tidak akan melakukan pembayaran.
Sikap dan Ketulusan dalam Menyelesaikan Masalah
Di tengah krisis keuangan perusahaan, ditambah klien menolak membayar biaya iklan, rasanya benar-benar seperti tertimpa musibah bertubi-tubi. Dalam hati saya sempat berpikir: kehilangan satu klien saja sudah cukup berat, mengapa harus sampai merendahkan diri demi 250.000 dolar Taiwan?
Namun kemudian muncul pemikiran lain: jika satu per satu klien pergi, maka bisnis pun akan runtuh. Untuk menyelesaikan kesulitan perusahaan, yang terpenting adalah mengembalikan kepercayaan klien.
Akhirnya, saya memutuskan untuk merebut kembali kepercayaan Tuan Ono.
Keesokan harinya, saya menyerahkan surat permintaan maaf dan rencana kompensasi ke kantornya.
Setelah membacanya, Tuan Ono tersenyum tipis, mempersilakan saya masuk ke ruang tamu khusus, lalu berkata: “Perusahaan Jepang sangat menjunjung tinggi sikap dalam bekerja. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi yang terpenting adalah mampu menyadari dan memperbaikinya.
Dari sikap seseorang, kita bisa menilai apakah dia benar-benar menyesali kesalahan dan mau berubah.
Perusahaan Anda adalah usaha kecil menengah yang sedang berkembang. Karyawan masih muda dan kurang pengalaman, sehingga kesalahan penulisan iklan memang sulit dihindari sepenuhnya. Namun ketika masalah muncul, yang penting adalah bagaimana mendidik karyawan untuk menghadapi klien dengan sikap yang benar dan menyelesaikan masalah.
Yang saya pedulikan bukanlah besar kecilnya kompensasi, melainkan ketulusan dan sikap dalam menyelesaikan masalah. Kami mencari mitra jangka panjang—jika Anda berkembang, kami pun ikut berkembang.
Berdasarkan prinsip hidup berdampingan dan berkembang bersama, kami tetap berharap dapat terus bekerja sama dengan Anda. Surat permintaan maaf dan rencana kompensasi ini saya terima. Terima kasih atas usaha Anda.”
Ucapan singkat itu membuat saya sangat menghormati filosofi manajemen perusahaan multinasional Jepang.
Saat hendak meninggalkan ruang tamu, asisten Tuan Ono memberikan saya sebuah suvenir perusahaan dan sepucuk surat. Dalam hati saya berpikir, orang Jepang memang sangat sopan. Masalah terselesaikan, klien tetap bertahan, dan beban di hati terasa jauh lebih ringan.
Namun ketika saya kembali ke kantor dan membuka hadiah itu—sebuah pulpen—lalu membuka amplopnya, saya terkejut. Di dalamnya terdapat cek tunai senilai 250.000 dolar Taiwan!
Saya benar-benar tak menyangka. Dengan segera saya menelepon Tuan Ono untuk mengucapkan terima kasih.
Di telepon, dia berkata dengan nada tenang: “250.000 dolar Taiwan sangat berarti bagi perusahaan majalah yang sedang merintis usaha. Saya menghargai sikap dan ketulusan Anda dalam menyelesaikan masalah. Semoga usaha Anda sukses—teruslah berjuang!”
Setelah menutup telepon, air mata saya mengalir deras. Itu adalah air mata haru yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup.
Walaupun Tuan Ono telah dipindahkan kembali ke Tokyo dua tahun lalu, saya tidak pernah melupakan pelajaran berharga darinya. Dalam perjalanan mengelola perusahaan setelah itu, saya berusaha meneladani semangat Ono—lebih sedikit menyalahkan, lebih banyak bersikap lapang—dalam memperlakukan mitra kerja dan orang lain.
Menjaga Fleksibilitas Kerja untuk Meningkatkan Daya Saing
Dalam dunia kerja, sering kali atasan memberi tugas di luar tanggung jawab kita. Lalu bagaimana sebaiknya menyikapinya? Langsung menolak, atau menerima semuanya?
Belum lama ini, seorang mahasiswa menelepon saya dengan kebingungan yang sama. Jawaban saya adalah: ada beberapa kemungkinan mengapa atasan memberi Anda tugas di luar job description.
Pertama, untuk melatih Anda. Misalnya, Anda bertugas di bidang SDM, tetapi suatu hari diminta menangani keuangan atau audit. Anda mungkin mengeluh karena pekerjaan sudah banyak. Padahal, bisa jadi atasan ingin mengembangkan kemampuan Anda di bidang lain dan sekaligus menilai potensi Anda.
Kedua, sebagai pengakuan atas kemampuan Anda. Atasan mungkin merasa orang yang sebelumnya menangani tugas tersebut tidak mampu menyelesaikannya dengan baik, sehingga mempercayakannya kepada Anda—karena Anda dinilai kompeten.
Ketiga, sebagai pengakuan atas karakter Anda. Terkadang tugas itu remeh dan merepotkan, sehingga semua orang menghindar. Namun karena Anda dikenal rajin, tidak banyak mengeluh, dan tidak perhitungan, atasan meminta bantuan Anda.
Tentu saja, ada kalanya atasan hanya menganggap Anda “mudah dimanfaatkan” dan menumpukkan pekerjaan yang tidak diinginkan orang lain kepada Anda.
Dalam situasi seperti ini, apakah kita harus terus menebak-nebak niat atasan?
Menurut saya, apa pun motivasi atasan, kita sebaiknya berpikir positif dan menganggapnya sebagai kesempatan menambah pengalaman serta memperluas wawasan di luar bidang kerja kita.
Dengan pola pikir seperti ini, fleksibilitas Anda dalam organisasi akan jauh lebih besar dibanding orang lain.
Seorang pimpinan biasanya lebih menyukai karyawan yang fleksibel. Di tengah persaingan yang ketat, sebuah organisasi ibarat organisme hidup yang harus cepat beradaptasi dengan perubahan pasar. Semakin fleksibel Anda, semakin besar peluang Anda untuk diakui dan dipromosikan. Sebaliknya, jika kaku, atasan akan menganggap Anda sebagai “bidak yang sulit dimainkan”.
Karena itu, ketika atasan memberi pekerjaan tambahan, anggaplah sebagai tantangan. Cobalah terlebih dahulu apakah Anda mampu menanggungnya. Prosesnya memang penuh tekanan dan tidak nyaman, tetapi hanya melalui tekananlah seseorang bisa bertumbuh.
Tentu, jika beban sudah benar-benar melampaui kemampuan, tetap perlu menyampaikannya secara tepat waktu agar tidak mengganggu kinerja.
Kesempatan untuk meningkatkan daya saing diri sebenarnya ada di mana-mana. Saat pekerjaan utama sudah selesai, Anda bisa menawarkan bantuan kepada rekan kerja dan belajar dari proses tersebut. Dalam rapat, meskipun topik yang dibahas bukan bidang Anda, mendengarkan dengan saksama bisa memberi wawasan baru.
Semua itu adalah kesempatan emas untuk melatih diri dan membangun kemampuan.
Karena itu, baik menerima tugas tambahan dari atasan maupun terlibat dalam pekerjaan di luar tanggung jawab, jika disikapi dengan pikiran positif, akan meningkatkan fleksibilitas kerja dan sangat bermanfaat bagi karier di masa depan.
Belajarlah melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukan orang lain—maka Anda bisa melangkah menuju kesuksesan seperti Yan Changshou, yang dikenal sebagai “CEO berhati singa”.
Renungan
Berbuat salah adalah hal yang wajar. Seperti pepatah lama: orang sakti pun kadang keliru, manusia mana yang tak pernah salah langkah. Menghindari masalah hanya akan membuatnya semakin besar. Sebaliknya, keberanian untuk menghadapi dan memperbaiki kesalahan akan meminimalkan kerugian bagi semua pihak—dan sekaligus meninggalkan kesan baik di hati klien.(jhn/yn)




