Saat Jadi Komut, Ahok: Kondisi Kami Itu Berdarah-darah!

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyatakan, kondisi Pertamina sangat berdarah-darah saat dirinya menjabat sebagai Komisaris Utama (Komut) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

Ungkapan Ahok disampaikan saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendalami cara Komisaris Utama mengawasi Pertamina agar tetap memperoleh keuntungan.

Ahok menegaskan, meski Pertamina menguasai pasar migas, namun pergerakan uang alias cash flow di perusahaan justru tidak terus mendapatkan untung.

"Ini mohon maaf Pak Jaksa, Pak Hakim. Justru Pertamina itu berdarah-darah sebetulnya di tata niaga itu, cash flow-nya itu merah, rugi. Berapa kali rugi," ujar Ahok, saat menjadi saksi dari JPU dalam kapasitasnya sebagai eks Komut Pertamina pada perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Baca juga: Ahok Bongkar Penyimpangan Bawahannya, Salah Satunya Peningkatan Kuota Impor Minyak

Ahok mengatakan, kondisi kerugian yang dialami Pertamina disebabkan pemerintah meminta agar barang subsidi tidak boleh dinaikkan.

Oleh sebab itu, Pertamina kerap meminjam dana untuk menutupi kerugian perusahaan.

"Di situlah kami terpaksa minjam uang dengan pendek, Direksi pinjam, kami setuju," imbuh dia.

Ahok mengaku sempat melaporkan persoalan tersebut kepada Presiden.

Dia mengusulkan agar sistem subsidi diubah menjadi berbasis individu melalui mekanisme digital lewat aplikasi MyPertamina.

Namun, usulan tersebut tidak disetujui Presiden.

Padahal, perubahan sistem subsidi itu dinilai dapat membuat Pertamina memperoleh keuntungan sekitar 6 miliar dollar AS per tahun.

"Lalu apa yang terjadi? Tidak disetujui. Nah, itu yang saya sampaikan, Pak. Padahal, kalau saya bilang, saya bisa untung 6 miliar dollar AS kami, kalau subsidi tidak dalam bentuk barang tapi dengan sistem voucer digital," pungkas dia.

Diberitakan sebelumnya, perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah ini mempunyai sejumlah terdakwa yang tengah diadili oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Baca juga: Ahok Pernah Minta Listyo Sigit Jaga Kilang Minyak: Siapa yang Sabotase, Tembak!

Mereka adalah Beneficial Owner PT Orbit Terminal Merak, Muhamad Kerry Adrianto Riza; Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Yoki Firnandi; VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional, Agus Purwono.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Lalu, Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, Dimas Werhaspati; dan Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak, Gading Ramadhan Joedo.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Saksi Akui Terima Rp1,8 Miliar dalam Kasus Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Gantikan Adies Kadir, Sari Yuliati Resmi Duduki Kursi Wakil Ketua DPR RI
• 5 jam laludisway.id
thumb
Trump Kirim Kepala Perbatasan AS ke Minneapolis Buntut Ricuh Penembakan Maut
• 20 jam laludetik.com
thumb
Menlu Sugiono Disambut Budi Djiwandono di DPR, Ada Apa?
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Pengamat: Reshuffle Mungkin Terjadi dalam Konteks Luas
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.