Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Pemerintah memprioritaskan pengendalian harga komoditas pangan untuk menjaga inflasi nasional tetap terkendali dan tidak menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Fokus ini dinilai krusial di tengah tren inflasi yang menunjukkan peningkatan pada akhir 2025.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan bahwa inflasi nasional sejauh ini masih berada dalam batas aman berkat koordinasi rutin antara pemerintah pusat dan daerah.
Meski demikian, pemerintah terus mencermati pergerakan inflasi, terutama pada komoditas yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
“Inflasi ini bisa terkendali karena rapat seperti ini dilakukan setiap minggu. Semua daerah bekerja, semua kementerian bekerja,” ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang juga membahas evaluasi dukungan pemerintah daerah terhadap Program 3 Juta Rumah, di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Desember 2025 secara year on year tercatat sebesar 2,92 persen. Angka ini mendekati 3 persen, namun masih berada di bawah ambang batas maksimal inflasi yang ditetapkan pemerintah, yakni 3,5 persen.
Tito mengingatkan, apabila inflasi menembus batas tersebut, dampak terberat akan dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah yang mengandalkan pendapatan harian.
Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, daging, dan ikan akan langsung menekan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bagi masyarakat dengan penghasilan harian, kenaikan harga pangan itu sangat terasa,” ucap Tito.
Dalam pemaparannya, Tito juga menyoroti bahwa salah satu penyumbang inflasi terbesar secara tahunan saat ini berasal dari harga emas perhiasan, yang dipengaruhi dinamika global. Lonjakan harga emas terjadi secara luas dan turut berdampak di Indonesia.
“Harga emas per hari ini sudah hampir mendekati 3 juta rupiah per gram,” kata Tito.
Selain emas, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga di sektor makanan dan minuman, transportasi, serta perawatan pribadi. Peningkatan permintaan saat momentum Natal dan Tahun Baru turut menjadi faktor pendorong inflasi pada Desember 2025.
Pemerintah, kata Tito, tidak hanya berfokus pada angka inflasi, tetapi juga mencermati tren pergerakannya. Inflasi nasional tercatat meningkat dari 2,72 persen pada November 2025 menjadi 2,92 persen pada Desember 2025.
“Artinya, ada tren naik dan ini harus diwaspadai,” tutur Tito.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menegaskan pengendalian inflasi akan difokuskan pada komoditas yang paling dirasakan masyarakat, khususnya sektor pangan.
Pemerintah menyadari bahwa harga emas sulit dikendalikan karena mengikuti pasar global, sehingga langkah intervensi difokuskan pada faktor-faktor domestik.
“Kalau emas perhiasan tidak bisa kita bendung karena harga dunia, maka kita harus fokus pada komoditas lain, terutama makanan dan minuman yang paling dirasakan masyarakat,” kata Tito.
Editor: Redaktur TVRINews





