Di Antara Derap Kuda dan Deru Kota

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Derap kaki kuda terdengar pelan di tengah ramainya jalanan Yogyakarta. Suara itu nyaris tenggelam oleh klakson kendaraan bermotor dan hiruk-pikuk wisatawan yang berlalu-lalang. Namun sebuah andong tetap melaju tanpa tergesa, mempertahankan ritmenya sendiri di kota yang terus bergerak cepat. Di kursi depan, Sithuk duduk tegak sambil menggenggam tali kekang, mengarahkan kudanya dengan gerakan yang sudah ia kuasai selama bertahun-tahun. Selama dua dekade, Sithuk menggantungkan hidup sebagai kusir andong. Profesi itu telah ia jalani sejak Yogyakarta belum seramai sekarang. Setiap hari, ia menyusuri kawasan wisatadan jalan-jalan utama kota, menyaksikan perubahan demi perubahan yang terjadi disekelilingnya. “Dulu penumpang ramai, apalagi kalau musim liburan. Sekarang sudah berkurang,” ujarnya pelan.

Meski demikian, Sithuk memilih tetap bertahan. Baginya, andong bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah ditinggalkan. Perubahan zaman menjadi tantangan terbesar bagi para kusir andong. Kehadiran kendaraan bermotor, ojek online, dan transportasi modern lainnya membuat andong semakin jarang dipilih sebagai sarana mobilitas. Namun Sithuk percaya, andong menawarkan pengalaman yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kendaraan lain. “Naik andong itu lebih santai. Jalannya pelan, bisa menikmati suasana,” katanya. Bagi Sithuk, pelan bukan berarti tertinggal, melainkan cara lain untuk menikmati kota.

Pandangan serupa juga disampaikan Yatidjo, kusir andong yang biasa mangkal di kawasan Malioboro. Setiap pagi sebelum mulai bekerja, ia memastikan kondisi kudanya dalam keadaan sehat. “Kuda itu partner kerja. Kalau tidak dirawat, kasihan dan tidak bisa kerja lama,” ujarnya. Menurut Yatidjo, hubungan antara kusir dan kuda bukan sekadar relasi kerja, tetapi juga soal tanggung jawab dan kepedulian. Yatidjo mengakui bahwa fungsi andong saat ini telah mengalami pergeseran. Jika dahulu andong digunakan sebagai alat transportasi harian, kini perannya lebih banyak sebagai bagian dari pengalaman wisata. “Sekarang yang naik kebanyakan wisatawan. Mereka ingin merasakan Jogja yang klasik, sambil foto-foto,” katanya.

Meski tidak lagi menjadi pilihan utama untuk mobilitas, andong masih memiliki daya tarik tersendiri sebagai simbol budaya dan pengalaman khas Yogyakarta. Bagi sebagian orang, andong bukan hanya soal perjalanan hari ini, tetapi juga menyimpan kenangan masa lalu. Khalid Nurhaya, mahasiswa yang merantau dari Pati, termasuk salah satu yang memiliki ingatan personal tentang andong. Ia mengaku pernah naik andong saat masih kecil, ketika berwisata ke Yogyakarta bersama keluarganya. “Waktu itu rasanya senang. Jalannya pelan, bisa lihat-lihat kota bareng keluarga,” tuturnya. Pengalaman tersebut membekas hingga kini dan membentuk kesannya tentang Yogyakarta sebagai kota yang ramah dan tidak tergesa gesa.

Kenangan Khalid Nurhaya menunjukkan bahwa andong memiliki nilai emosional yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan angka atau fungsi praktis. Bagi dirinya, andong bukan sekadar kendaraan, melainkan bagian dari pengalaman berwisata yang menyenangkan dan penuh kebersamaan. Meski kini ia lebih sering menggunakan transportasi modern, memori tentang andong tetap melekat sebagai bagian dari cerita masa kecilnya. Berbeda dengan Khalid Nurhaya, Raditya Zain yang juga mahasiswa rantau dari Kudus mengaku belum pernah naik andong. Selama tinggal di Yogyakarta, ia lebih sering menggunakan transportasi yang dianggap lebih praktis untuk menunjang aktivitas sehari-hari. “Biasanya pakai motor atau transportasi online,” katanya.

Meski belum merasakan langsung pengalaman naik andong, Raditya Zain menilai keberadaannya tetap penting dalam membentuk wajah kota. Menurut Raditya Zain, andong hadir sebagai penanda visual yang kuat di ruang publik Yogyakarta. “Andong itu sudah jadi ciri khas Yogyakarta. Kalau di kawasan wisata seperti Malioboro, hampir selalu kelihatan andong lewat,” ujarnya. Bagi Raditya Zain, andong mungkin bukan alat transportasi yang ia gunakan, tetapi keberadaannya memberi warna tersendiri pada kota tempat ia menuntut ilmu. Keberadaan andong hari ini memang berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, perubahan pola mobilitas masyarakat membuat andong semakin tersisih dari fungsi praktisnya.

Di sisi lain, andong tetap bertahan sebagai simbol budaya, identitas kota, dan bagian dari pengalaman wisata. Para kusir seperti Sithuk dan Yatidjo berada di tengah perubahan tersebut, berusaha menyesuaikan diri tanpa sepenuhnya meninggalkan tradisi. Bertahan sebagai kusir andong bukan perkara mudah. Penghasilan yang tidak menentu, persaingan dengan transportasi modern, serta tuntutan perawatan kuda menjadi tantangan sehari-hari. Namun bagi Sithuk dan Yatidjo, profesi ini bukan sekadar soal ekonomi. Ada nilai, kebanggaan, dan tanggung jawab untuk menjaga keberadaan andong agar tidak hilang dari jalanan Yogyakarta.

Keberlangsungan andong juga sangat bergantung pada bagaimana masyarakat dan wisatawan memaknai keberadaannya. Di tengah upaya pelestarian budaya, andong sering kali hanya dipandang sebagai objek wisata, bukan bagian dari sistem transportasi yang pernah menopang kehidupan kota. Pandangan ini membuat andong hadir secara simbolik, tetapi belum tentu diiringi dengan perhatian terhadap kesejahteraan para kusir dan hewan yang menariknya. Sithuk menyadari perubahan tersebut. Ia mengatakan bahwa bekerja sebagai kusir andong hari ini membutuhkan kesabaran lebih. Tidak setiap hari ia mendapatkan penumpang, terutama di luar musim liburan.

Meski demikian, ia tetap datang ke pangkalan setiap pagi. “Kalau tidak mangkal, ya tidak ada harapan dapat penumpang,” katanya. Baginya, bertahan berarti terus memberi ruang bagi andong untuk tetap terlihat dan diingat. Hal yang sama dirasakan Yatidjo. Ia berharap andong tidak hanya dipertahankan sebagai pajangan kota, tetapi juga dihargai sebagai bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Menurutnya, keberadaan andong seharusnya dipandang sebagai warisan hidup yang masih berjalan, bukan sekadar simbol masa lalu.

“Kalau masih ada yang mau naik dan menikmati, berarti andong masih punya tempat,” ujarnya.

Selama masih ada orang yang ingin menikmati perjalanan tanpa tergesa, andong akan terus menyusuri jalanan kota. Pelan, sederhana, dan setia pada ritmenya sendiri. Di antara derap kaki kuda dan deru kendaraan bermotor, andong tetap membawa cerita tentang Yogyakarta yang terus berubah, tetapi belum sepenuhnya melupakan jejak masa lalunya.

Evan Faiz Daniswara, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,Prodi Ilmu Komunikasi


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Foto: Tekanan Militer Suriah Meningkat, Anggota SDF Mulai Letakkan Senjata
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenangan 3-2 atas Arsenal, Bryan Mbeumo Cetak Rekor Debutan MU Sejak Van Persie
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Gempa Magnitudo 4,4 Guncang Yogyakarta, Titik Pusat di Darat 16 Km Timur Bantul
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pramono: Secara Tata Ruang Jakarta Tak Mungkin Bebas Banjir
• 23 jam laludisway.id
thumb
Newcastle ingin ulang kenangan manis di Paris
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.