Aku pernah percaya bahwa cinta adalah soal bertahan.
Selama masih ada rasa, selama masih bisa diperjuangkan, maka pergi bukan pilihan.
Hubungan itu tidak dimulai dengan luka.
Ada masa ketika aku merasa dicintai, diperjuangkan, dan dianggap penting. Usaha kecil terasa besar. Perhatian sederhana terasa cukup. Pada fase itu, membuka hati terasa aman.
Namun, tidak semua yang dimulai dengan manis akan bertahan manis.
Perlahan, hubungan itu berubah. Bukan dengan satu kejadian besar, melainkan lewat luka kecil yang terus berulang. Aku sering menangis, merasa tertekan, dan mulai mempertanyakan diriku sendiri. Bukan hanya tentang pasangan, tetapi tentang bagaimana aku mulai kehilangan ketenangan dan kendali atas perasaanku.
Yang paling melelahkan ternyata bukan rasa sakitnya, melainkan kebiasaan menunda batas. Aku terus bertahan sambil berharap semuanya akan membaik, sambil meyakinkan diri bahwa semua ini masih bisa diperjuangkan. Aku menormalisasi lelah, memaklumi luka, dan menyebutnya sebagai bentuk cinta.
Padahal, cinta seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Ada satu titik ketika aku mulai sadar bahwa bertahan terlalu lama juga bisa menjadi bentuk pengabaian terhadap diri sendiri. Aku tidak bisa terus menukar kesehatan mentalku dengan harapan orang lain akan berubah. Tidak semua hal bisa diselamatkan hanya dengan kesabaran.
Memasuki fase hidup yang baru, aku perlahan berubah. Aku tidak lagi menangis berlebihan. Bukan karena rasa itu hilang sepenuhnya, melainkan karena aku belajar mengelola perasaan dengan lebih jujur. Aku mulai memahami bahwa kuat bukan berarti menahan semuanya sendirian, tetapi berani berhenti ketika sudah terlalu menyakitkan.
Aku belajar memilih diriku.
Tulisan ini bukan tentang menyalahkan siapa pun. Ini bukan soal siapa yang paling terluka, atau siapa yang paling bersalah. Ini tentang keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua cinta harus dipertahankan sampai habis.
Kadang, bentuk cinta paling dewasa adalah pergi.
Bukan karena tidak sayang,
tetapi karena akhirnya kita memilih untuk tetap utuh sebagai diri sendiri.




