Harga minyak ditutup menguat sekitar 3 persen pada Selasa (27/1/2026), setelah para produsen terdampak badai musim dingin.
IDXChannel - Harga minyak ditutup menguat sekitar 3 persen pada Selasa (27/1/2026), setelah para produsen terdampak badai musim dingin yang melumpuhkan produksi minyak mentah dan sempat menghentikan ekspor minyak dari Pantai Teluk Amerika Serikat (AS) selama akhir pekan.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup naik 3,02 persen menjadi USD67,57 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,9 persen ke USD62,39 per barel.
Analis dan pelaku pasar memperkirakan produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari, atau sekitar 15 persen dari total produksi nasional, sepanjang akhir pekan.
Gangguan ini terjadi ketika badai musim dingin parah melanda sejumlah wilayah, memberi tekanan besar pada infrastruktur energi dan jaringan listrik.
“Cuaca ekstrem tersebut mendorong kenaikan harga minyak berjangka, dengan risiko jangka pendek condong ke arah penguatan akibat kekhawatiran gangguan pasokan,” ujar Analis Pasar City Index, Fawad Razaqzada, dikutip Reuters.
Sementara, Analis Minyak PVM, Tamas Varga mengatakan, “Cuaca dingin di AS berpotensi menyebabkan penurunan yang cukup signifikan pada persediaan minyak dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika kondisi ini berlanjut.”
Layanan pelacakan kapal Vortexa mencatat ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari pelabuhan-pelabuhan Pantai Teluk AS sempat anjlok ke nol pada Minggu akibat cuaca dingin ekstrem.
“Namun, ekspor kembali pulih pada Senin, bahkan melampaui rata-rata musiman, seiring dibukanya kembali pelabuhan,” ujar Kepala Analisis Pasar Vortexa, Samantha Santa Maria-Hartke.
Di luar AS, ladang minyak terbesar Kazakhstan, Tengiz, diperkirakan hanya mampu memulihkan kurang dari setengah kapasitas produksi normalnya hingga 7 Februari, seiring proses pemulihan bertahap pascakebakaran dan pemadaman listrik, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
“Pemulihan produksi Tengiz tampaknya berjalan lebih lambat dari perkiraan awal, sehingga menjaga pasar minyak tetap ketat,” kata Analis UBS, Giovanni Staunovo, seraya menambahkan, pelemahan dolar AS turut memberi dukungan tambahan.
Meski demikian, Caspian Pipeline Consortium (CPC), operator jalur pipa ekspor utama Kazakhstan, menyatakan terminalnya di pesisir Laut Hitam Rusia telah kembali beroperasi penuh setelah perawatan di salah satu dari tiga titik tambat selesai dilakukan.
Dari sisi geopolitik, sebuah kapal induk AS beserta kapal perang pendukungnya tiba di Timur Tengah, menurut dua pejabat AS. Langkah ini memperluas kemampuan Presiden AS Donald Trump untuk melindungi pasukan AS, atau berpotensi melakukan aksi militer terhadap Iran.
“Dengan pernyataan Trump pekan lalu bahwa AS mengirim ‘armada’ ke arah Iran, ketegangan geopolitik meningkat dan hal itu menopang harga minyak dalam prospek jangka pendek,” ujar Razaqzada.
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler menjelaskan, ketegangan antara Teheran dan Washington, ditambah belum adanya perkembangan terkait kesepakatan damai Ukraina-Rusia, turut menjaga level bawah harga minyak.
Sementara itu, OPEC+ diperkirakan mempertahankan jeda kenaikan produksi minyak pada Maret dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung 1 Februari, menurut tiga delegasi OPEC+ kepada Reuters. (Aldo Fernando)


