"Mami, hapus pesan-pesannya." "Nak, itu terekam." "Hapus percakapanmu sebelum keluar rumah."
Pesan-pesan WhatsApp singkat ini menggambarkan realitas kelam di Venezuela saat ini. Warga kini terpaksa melakukan sensor mandiri demi keselamatan nyawa mereka. Sejak penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pihak Amerika Serikat pada awal Januari lalu, pemerintah Venezuela memperluas tindakan keras terhadap suara-suara sumbang melalui razia ponsel massal.
Razia Ponsel: Pelanggaran Privasi di Setiap Sudut JalanLaporan mengenai aparat keamanan yang menggeledah ponsel warga sipil meningkat drastis setelah pengumuman keadaan darurat nasional. Aparat telah mendirikan berbagai pos pemeriksaan (checkpoint), baik permanen maupun berpindah-pindah, di seluruh penjuru ibu kota dan kota-kota lainnya.
Baca juga : Delcy Rodriguez Melawan: Cukup Sudah Washington Memerintah Venezuela
Meski Pasal 48 Konstitusi Venezuela menjamin kerahasiaan komunikasi pribadi, praktik di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Polisi dan badan intelijen seringkali menghentikan kendaraan dan memaksa warga menyerahkan ponsel mereka untuk diperiksa.
Seorang juru masak di Caracas menceritakan pengalamannya saat dihentikan oleh agen intelijen SEBIN. Petugas tidak menanyakan kartu identitas, melainkan langsung mengetik kata kunci di kolom pencarian WhatsApp seperti "guarimba" (protes jalanan), serta nama-nama tokoh politik.
"Pemeriksaan menyeluruh itu berlangsung sekitar satu jam, di antara pesan-pesan intimidasi dan pertanyaan mencurigakan yang sama," kenangnya. Beruntung, ia memiliki kebiasaan menghapus konten politik setiap hari.
Baca juga : Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez Segera Kunjungi Amerika Serikat
Hidup dalam Kode dan KetidakpastianSejak penangkapan Maduro, peta kekuasaan di Venezuela menjadi kabur. Presiden AS Donald Trump mengeklaim sedang "menjalankan" negara tersebut, sementara Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodríguez menegaskan penolakan terhadap perintah AS.
Di tengah ketidakpastian politik dan krisis ekonomi, warga memilih berbicara menggunakan bahasa kode. Mereka menghindari menyebut nama pemimpin politik, menghapus akun media sosial sebelum masuk ke bandara, dan menolak memberikan pendapat di grup WhatsApp keluarga.
Seorang jurnalis yang sempat terjaring razia menceritakan betapa mencekamnya situasi saat petugas mencari jejak pesan yang bisa dianggap sebagai pengkhianatan. Ia baru bisa bebas setelah menyerahkan uang sebesar $50 sebagai "uang damai."
"Sore ini kami menerima pernyataan dari dewan komunitas lingkungan, dan mereka merekomendasikan agar kami berhati-hati dengan apa yang kami katakan di WhatsApp dan dalam tulisan," bunyi salah satu pesan grup yang ditinjau oleh CNN.
Antara Hak Konstitusi dan Rasa TakutOrganisasi non-pemerintah Espacio Público telah membagikan panduan bagi warga untuk menghadapi pemeriksaan ilegal ini, seperti meminta surat perintah pengadilan dan mencatat nama petugas. Namun, banyak warga yang terlalu takut untuk melawan karena risiko penahanan.
Walikota Maracaibo, Giancarlo Di Martino, sempat menyatakan bahwa inspeksi ponsel "sepenuhnya dilarang." Namun, intimidasi di jalanan terus berlanjut tanpa henti. Bagi banyak warga Venezuela, ponsel kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan barang bukti yang bisa menjebloskan mereka ke penjara kapan saja. (CNN/Z-2)




