Penulis: Puji Anugerah Leksono
TVRINews, Probolinggo
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Museum Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin siang, 26 Januari 2026. Peresmian dilakukan setelah revitalisasi rampung dengan tujuan menjadikan museum sebagai pusat informasi dan edukasi budaya masyarakat Tengger Gunung Bromo.
Museum Tengger berdiri pada ketinggian sekitar 1.900 meter di atas permukaan laut. Wajah baru bangunan terlihat lebih representatif setelah revitalisasi yang berlangsung selama enam bulan.
Fadli Zon menyampaikan ide revitalisasi muncul saat kunjungan ke lokasi pada pertengahan Juni 2025, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Yadnya Kasada 1947 Saka.
“Rehabilitasi dan revitalisasi ini sangat penting karena merupakan wujud nyata komitmen kita dalam pelestarian warisan budaya, tradisi, serta adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi," tegasnya.
Fadli Zon menginginkan Museum Tengger berfungsi sebagai pusat informasi sekaligus pusat edukasi terkait masyarakat Tengger Gunung Bromo. Untuk keberlanjutan pengelolaan, ia berharap pengelola museum menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga terkait, termasuk Balai Pelestarian Kebudayaan.
“Saya menyampaikan apresiasi atas kerja sama dalam revitalisasi Museum Tengger ini kepada Pemerintah Kabupaten Probolinggo serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur," ucapnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Januari 2026.
Museum Tengger memiliki dua zona. Lantai pertama dikenal sebagai zona wong atau zona manusia, berisi penjabaran aktivitas masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari. Lantai dua merupakan zona gunung yang menggambarkan aktivitas spiritual masyarakat Tengger dalam menyembah Sang Hyang Widi Wase. Gabungan kedua zona membentuk sebutan wong gunung, identitas masyarakat Suku Tengger Gunung Bromo.
Keberadaan Museum Tengger pascarevitalisasi diharapkan menjadi daya tarik di kawasan wisata Gunung Bromo. Pengunjung dapat mengenal sejarah, asal-usul budaya, serta adat istiadat masyarakat Suku Tengger.
“Nilai-nilai leluhur tentang harmoni antara manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta, semangat berbagi, gotong royong, serta toleransi, merupakan harta yang tak ternilai," pungkas Fadli Zon.
Ia juga menyinggung upaya pemerintah dalam pelindungan warisan budaya melalui registrasi museum, cagar budaya, dan warisan budaya takbenda, serta mengapresiasi peran tokoh adat Tengger.
"Beberapa waktu lalu, dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI), tokoh masyarakat Tengger, Romo Sutomo, turut menerima penghargaan. Ini merupakan bentuk pengakuan negara bahwa para tokoh masyarakat Tengger terus menjadi teladan dan penjaga nilai-nilai budaya," ujarnya.
“Museum Tengger ini menjadi wujud nyata perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian warisan budaya bangsa, khususnya budaya masyarakat Tengger yang sarat nilai historis, filosofis, dan kearifan lokal,” ungkap Menteri.
Sementara itu, Eko Warnoto, Dukun Pandita Tengger, menegaskan peresmian museum menjadi simbol perhatian negara terhadap pelestarian budaya lokal, terutama budaya masyarakat Tengger yang kaya nilai sejarah dan kearifan lokal.
Editor: Redaktur TVRINews




