Oleh: Sakinah Fitrianti (Pangkep)
Tanpa jembatan penghubung, sekitar 30 anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA harus dibopong aparat saat menyeberangi sungai deras di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros.
Perjalanan itu bermula dari permukiman sekitar Kantor Desa Tompobulu, sebuah titik kecil di kaki Gunung Bulusaraung yang menjadi pusat aktivitas warga Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep. Tak jauh dari sinilah setiap pagi, anak-anak sekolah memulai langkah mereka meninggalkan bangunan desa, memasuki alam yang tak pernah ramah sepenuhnya.
Jarak yang harus ditempuh sekitar tiga kilometer dengan kondisi medan yang terjal. Namun angka itu tak pernah benar-benar menggambarkan beratnya perjalanan. Jalanan yang dilalui bukan aspal, ada rabat beton, namun hanya sekian meter saja. Ia berubah menjadi jalan setapak sempit yang memaksa kaki melangkah pelan, menyusuri pijakan kaki yang belum rata.
Beberapa ratus meter pertama, jalur masih relatif datar. Namun tak lama kemudian, jalan mulai menurun tajam, memasuki lembah yang dipenuhi pepohonan liar. Tanah merah bercampur lumpur menjadi alas pijakan. Saat hujan turun, jalan ini berubah licin seperti sabun, memaksa anak-anak menahan tubuh agar tak tergelincir.
Dari lembah, jalur kembali menanjak. Tanjakan panjang yang menguras tenaga. Nafas tersengal, apalagi di pundak kecil itu harus membungkuk menahan beban tas sekolah. Tidak ada pegangan, tidak ada pagar pengaman, hanya keseimbangan dan kehati-hatian.
Di beberapa titik, jalur menyempit hingga hanya cukup dilewati satu orang. Jika terpeleset, tubuh bisa terguling ke sisi lembah. Namun langkah anak-anak itu terus bergerak. Diam, fokus, dan penuh tekad.
Perjalanan itu tidak hanya dilalui anak-anak. FAJAR yang menyambangi wilayah tersebut pun harus menempuh jalur yang sama, menyusuri lembah, mendaki tanjakan licin, dan melewati jalan setapak yang sebagian tertutup lumpur akibat hujan.
Semakin mendekati tujuan, suara gemuruh air mulai terdengar. Samar, lalu semakin jelas. Itulah pertanda bahwa rintangan terbesar sudah di depan mata.
Di balik belokan terakhir, Sungai Kaloro Singara terbentang. Sungai sepanjang sekitar 30 meter itu memisahkan Desa Tompobulu, Pangkep, dengan Desa Rompegading, Kabupaten Maros. Ia bukan sekadar batas wilayah dua kabupaten, melainkan jalur hidup bagi warga dan satu satunya akses bagi sekitar puluhan anak sekolah yang setiap hari melintasinya.
Saat musim hujan, air sungai meninggi dengan cepat. Arusnya deras, menghantam batu-batu besar di dasar sungai. Air berwarna cokelat keruh, menutupi batu licin yang menjadi ancaman serius. Tidak ada jembatan. Tidak ada tali pengaman. Hanya sungai yang harus dihadapi apa adanya.
Di tepi sungai, anak-anak berhenti sejenak. Seragam sekolah putih merah hingga putih-abu diangkat agar tak basah. Sepatu dilepas dan ditenteng. Beberapa anak saling menggenggam tangan, menunggu giliran menyeberang.
Di saat seperti inilah, peran Babinsa Desa Tompobulu, Serda Suardi, menjadi penentu. Sejak pagi, ia sudah bersiaga di pinggir sungai. Tubuhnya menjadi penopang keselamatan.
Satu per satu, anak-anak dibopong melintasi arus. Setiap langkah di tengah sungai adalah pertaruhan.
Arus mendorong kaki, batu licin mengintai di bawah permukaan air. Namun Serda Suardi melangkah mantap, menjaga keseimbangan agar anak-anak itu bisa sampai di seberang dengan selamat.
“Cuma ini akses warga dan anak sekolah. Tidak ada jalan lain,” ujarnya, usai mengantar seorang siswa ke tepi sungai seberang.
Pemandangan ini bukan kejadian sesekali. Saat hujan turun dan air sungai naik, Babinsa bersama warga harus turun tangan agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
Meski berbahaya, sungai itu tak pernah benar-benar menghentikan langkah mereka. Setelah menyeberang, anak-anak kembali berjalan menyusuri jalur menuju sekolah dengan seragam yang harus tetap rapi, seolah perjalanan ekstrem tadi hanyalah rutinitas biasa.
Namun di balik ketegaran itu, tersimpan harapan besar.
“Kami sangat berharap kepada Bapak Presiden agar dibangunkan jembatan. Ini satu-satunya akses di sini,” ujar seorang warga, Irwandi.
Harapan yang sama disampaikan Kepala Desa Tompobulu, Abd Kadir. Menurutnya, Sungai Kaloro Singara merupakan akses vital warga di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros.
“Setiap hari sekitar 30 anak, mulai SD sampai SMA, melewati sungai ini. Ini akses utama mereka,” katanya.
Ia menegaskan, tanpa jembatan, keselamatan anak-anak selalu terancam, terutama saat musim hujan. Pemerintah desa, kata dia, sudah lama berharap adanya pembangunan jembatan permanen.
“Kami sangat berharap jembatan bisa dibangun di sini. Supaya anak-anak bisa sekolah dengan aman, tidak lagi mempertaruhkan keselamatan setiap hari,” pungkasnya.
Selama jembatan itu belum berdiri, perjalanan dari Kantor Desa Bulusaraung hingga Sungai Kaloro Singara akan terus menjadi bagian dari kisah perjuangan. Jalan setapak, lembah, tanjakan, dan arus sungai akan tetap dilalui oleh langkah-langkah kecil yang menolak menyerah demi masa depan.
“Setiap musim penghujan karena air sungai tinggi, maka anak-anak yang mau ke sekolah harus dibantu menyeberang sungai sama pak Babinsa, karena arusnya berbahaya bagi mereka, dan juga agar pakaiannya tidak basah ketika melintasi sungai itu,” pungkasnya. (fit)



