Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Rabu (28/1) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kebijakan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI). IHSG dibuka melemah tajam di zona merah pada level 8.393,51 atau turun lebih dari 6 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pantauan RTI Business, hingga pukul 11.14 WIB IHSG tercatat ambles 7,66 persen atau turun 687 poin ke posisi 8.292,73. Sepanjang perdagangan, tekanan jual terjadi secara merata dengan 765 saham melemah, hanya 26 saham menguat, dan 13 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 26,87 triliun dengan volume perdagangan 38,94 miliar saham.
Sejumlah analis menilai pelemahan IHSG kali ini tidak terlepas dari pernyataan dan kebijakan terbaru MSCI. Pada Selasa (27/1), MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks.
MSCI menyatakan kebijakan diambil untuk mengurangi risiko investability sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk melakukan penguatan pada sejumlah aspek yang dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham.
Meski demikian, pengamat pasar mengimbau investor agar tak bereaksi berlebihan terhadap koreksi tajam IHSG. Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menilai kondisi ini justru bisa dimaknai sebagai momentum perbaikan bagi pasar modal nasional.
"Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional," kata David dalam keterangannya, Rabu (28/1).
Kata David, tantangan ke depan ialah memastikan infrastruktur regulasi, transparansi data, serta konsistensi kebijakan dapat terus ditingkatkan agar sejalan dengan perkembangan pasar. Dia menilai koreksi IHSG saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru yang muncul.
"Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global," imbuh ia.
Pandangan senada disampaikan oleh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta. Menurutnya, pelemahan IHSG hari ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi RI yang masih relatif solid.
"Secara dinamika perekonomian, fundamental makroekonomi Indonesia sebenarnya masih solid," kata Nafan.
"Dengan adanya penurunan IHSG ini, investor sebaiknya tidak panik dan dapat mempertimbangkan strategi buy on dip," sambungnya.
Prediksi Pergerakan Investor ke Depan
Syailendra Research memaparkan, jika sampai Mei 2026 tak ada perbaikan yang memadai, maka bobot Indonesia di indeks MSCI EM bisa dikurangi sehingga ada potensi foreign outflow dari para investor asing pasif.
Selain itu, status Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Frontier Market sehingga secara reputasi dianggap turun kelas.
Menurut Syailendra Research, efek dari pengumuman MSCI ini juga bakal dirasakan oleh deretan saham momentum yang telah naik signifikan sejak 2-3 tahun terakhir dengan penurunan masif sekitar 15 persen.
Lalu, momentum tren Index Contenders (narasi indexing) mulai menunjukkan pelemahan dan terdapat indikasi telah mencapai puncaknya.
"Ke depannya investor akan kembali mencermati pilihan saham yang berfokus ke kondisi fundamental yang solid (growth earnings terjaga), mampu membayar dividen dengan yield yang atraktif, komoditas tertentu seiring dengan pembatasan supply yang mendorong kenaikan harga komoditas global, dan melakukan aksi korporasi tertentu dengan risk to reward yang menarik," tulis Syailendra Research, Rabu (28/1).





