Bisnis.com, JAKARTA — Saham-saham perbankan kompak turun tajam pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (28/1/2026), seiring dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 7,34% ke level 8.321.
Tekanan terhadap IHSG dan hampir seluruh sektor tersebut dipicu aksi panic selling investor menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai perlakuan sementara terhadap pasar saham Indonesia.
Dampak sentimen ini terpantau meluas ke seluruh sektor, termasuk sektor keuangan dan perbankan. Berdasarkan data perdagangan Stockbit, seluruh indeks sektoral tercatat berada di zona merah.
Sebagai informasi, MSCI merupakan perusahaan riset investasi global yang menyediakan indeks saham, data, serta alat analisis portofolio yang menjadi acuan utama manajer investasi dan investor institusional di seluruh dunia. Indeks MSCI dirancang untuk mencerminkan pergerakan harga saham pada berbagai kategori pasar.
Secara sektoral, saham teknologi terkoreksi 6,28%, energi melemah 9,68%, dan infrastruktur anjlok 10,19%. Sektor industri dasar turun 7,80%, industrial terkoreksi 6,57%, serta kesehatan melemah 4,35%. Sementara itu, sektor transportasi merosot 6,72%, keuangan terkontraksi 4,21%, sektor cyclical turun 6,19%, properti melemah 7,41%, dan non-cyclical terkoreksi 3,93%.
Di sektor keuangan dan perbankan, mayoritas saham mencatatkan pelemahan hingga penutupan sesi pertama. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) ditutup melemah 4,33% ke level Rp7.175 per saham, mendekati ambang psikologis Rp7.000.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga mengalami kontraksi 4,78% atau 230 poin ke posisi Rp4.580 per saham. Adapun, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terperosok 2,44% atau 110 poin ke level Rp4.390 per saham.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) ditutup melemah 3,93% atau 150 poin ke Rp3.670 per saham. Tekanan jual juga dialami PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) yang terkoreksi 2,20% atau 40 poin ke Rp1.775 per saham.
Selanjutnya, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) melemah 2,81% atau 35 poin ke level Rp1.210 per saham. Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) turun 4,04% atau 90 poin ke posisi Rp2.140 per saham.
Di jajaran bank digital, saham PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) tercatat anjlok 8,41% atau 36 poin ke Rp392 per saham. Saham Superbank juga merosot 9,66% atau 100 poin ke Rp935 per saham, sementara PT Bank Jago Tbk. (ARTO) terkoreksi 7,55% ke level Rp1.715 per saham.
MSCI Ungkit Soal TransparansiMSCI disebut akan menangguhkan sejumlah perubahan untuk saham-saham Indonesia di dalam perhitungan konstituennya. Penangguhan itu dilakukan hingga regulator pasar modal RI dapat mengatasi kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi (tightly held) pada emiten-emiten yang tercatat. Langkah ini pun menjadi kemunduran terbaru bagi pasar saham terbesar di Asia Tenggara.
Penangguhan itu dilakukan hingga regulator pasar modal RI dapat mengatasi kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi (tightly held) pada emiten-emiten yang tercatat. Langkah ini pun menjadi kemunduran terbaru bagi pasar saham terbesar di Asia Tenggara.
Penyusun indeks tersebut menyatakan akan segera menghentikan penambahan saham ke dalam indeks-indeksnya serta membekukan peningkatan jumlah saham yang dianggap tersedia bagi investor.
"[Masih ada] masalah mendasar terkait kelayakan investasi," tulis MSCI dalam keterangannya, dikutip Bloomberg pada Rabu (28/1/2026).
MSCI juga menyebut masih ada kekhawatiran terhadap upaya terkoordinasi untuk mendistorsi harga untuk saham-saham asal Indonesia. Apabila Indonesia gagal menunjukkan kemajuan yang memadai dalam peningkatan transparansi hingga Mei, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.
Langkah ini pun berpotensi menyebabkan penurunan bobot seluruh saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index, bahkan membuka kemungkinan penurunan status menjadi pasar frontier.
Keputusan penangguhan untuk saham Indonesia ini kelanjutan dari peninjauan ulang MSCI terhadap free float saham Indonesia dengan memperketat definisi free float, yaitu saham yang tersedia untuk diperdagangkan dan menjadi faktor kunci dalam penentuan bobot saham.
Jika MSCI menemukan bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia, yang saat ini sudah memiliki rata-rata free float terkecil di Asia, memiliki saham yang tersedia untuk diperdagangkan lebih sedikit dari yang dilaporkan, investor pasif akan dipaksa mengurangi kepemilikan mereka. Setiap perubahan akan mulai berlaku pada tinjauan MSCI bulan Mei.
“Tinjauan free float MSCI yang akan datang menambah lapisan kehati-hatian,” ujar Ernest Chew, kepala ekuitas ASEAN di BNP Paribas Asset Management.
Komitmen BEI Junjung TransparansiSeiring dengan hal ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi di pasar modal Indonesia yang sesuai dengan standar global.
Hal tersebut disampaikan otoritas bursa saham RI usai penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan penangguhan perubahan konstituen saham asal Indonesia yang membuat IHSG longsor.
Sekretaris Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad menyatakan bahwa otoritas pasar modal yang meliputi OJK, BEI, KPEI, dan KSEI akan terus melakukan diskusi intensif dengan pihak MSCI setelah pengumuman tersebut.
Selain itu, otoritas Bursa juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan transparansi data emiten guna memenuhi standar global.
“Kami telah meningkatkan keterbukaan dengan menyampaikan pengumuman data free float di situs web BEI. Namun, jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ucap Kautsar, Rabu (28/1).
Langkah penangguhan oleh MSCI ini menjadi kemunduran terbaru bagi pasar saham Indonesia setelah penyusun indeks tersebut mengidentifikasi adanya masalah mendasar terkait kelayakan investasi.





