Pantau - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen di jalur Malalak menuju Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sebagai bagian dari upaya pemulihan infrastruktur pascabencana.
Pembangunan jembatan permanen ini dilakukan sambil menyelesaikan pengerjaan jembatan sementara jenis armco dan bailey guna memperlancar mobilitas masyarakat dan arus logistik.
"Oh iya, di samping pembangunan jembatan sementara (armco dan bailey) kita menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen juga," ungkap Menteri PU Dodi Hanggodo.
Lokasi Rawan Bencana Perlu Perencanaan MatangPernyataan tersebut disampaikan Dodi saat meninjau langsung pembangunan infrastruktur yang terdampak bencana alam di akhir November 2025 bersama Gubernur Sumatera Barat, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, dan Bupati Agam.
Ia menjelaskan bahwa perencanaan desain sangat penting karena lokasi jembatan berada di kawasan terjal, curam, dan dikelilingi perbukitan serta jurang.
Selain itu, jalur Malalak–Bukittinggi melintasi kawasan hutan lindung dan konservasi, sehingga pembangunan memerlukan izin dari kementerian terkait.
Kementerian PU juga tengah mengkaji pembangunan sabo dam untuk menahan laju air dari pegunungan menuju kilometer 74, lokasi yang sempat terputus akibat banjir bandang pada 26 November 2025.
Dodi menegaskan bahwa pembangunan sabo dam penting sebagai antisipasi peningkatan aliran sungai saat musim hujan, yang berisiko menimbulkan banjir bandang.
Kementerian juga mempertimbangkan kemungkinan agar sabo dam dapat merangkap fungsi sebagai jembatan, tergantung pada hasil kajian kondisi dan efisiensi di lapangan.
Anggaran Rp667 Miliar Disiapkan untuk Pemulihan Jalur MalalakAnggota DPR RI dari Sumatera Barat, Andre Rosiade, menyampaikan bahwa Kementerian PU telah menyiapkan anggaran sebesar Rp667 miliar untuk pemulihan dan perbaikan Jalan Malalak di Kabupaten Agam.
"Total Rp667 miliar yang disiapkan untuk pengerjaan Jalan Malalak tahun anggaran 2026 dan 2027," ungkap Andre.
Infrastruktur ini menjadi bagian penting dari upaya mitigasi jangka panjang terhadap risiko bencana alam di wilayah rawan seperti jalur Malalak–Bukittinggi.



