Industri otomotif dalam negeri kian berwarna, utamanya semakin banyak pemain asal China yang mencoba peruntungan di dalam negeri. Menemani pabrikan asal Korea Selatan dan Jepang yang sama-sama memiliki manufaktur di Indonesia.
Negeri Matahari Terbit sudah tentu yang paling dominan, berbekal eksistensi mereka lebih dari beberapa dekade. Ini bisa diamati dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo.
Dirangkum tiga tahun terakhir, merek Jepang yang memiliki fasilitas produksi telah menyumbang lebih dari satu juta unit ekspor kendaraan utuh atau completely built up (CBU). Angkanya stabil pada rentang 400 ribuan unit per tahun.
2023 446.845 unit
2024 408.494 unit
2025 461.569 unit.
Pada 2024, jumlah pengkapalan mobil-mobil merek Jepang sempat alami penyusutan 8,6 persen. Namun tahun setelahnya kembali melonjak 13 persen, bahkan juga lebih tinggi 3,3 persen dibanding 2023.
Nama-nama besar menyumbang angka tersebut seperti Toyota, Daihatsu, Honda, hingga Mitsubishi yang juga memiliki kekuatan secara volume penjualan dan market share di pasar domestik. Ini juga dikarenakan adanya model atau produk yang sudah mapan.
Kemudian pada 2020, jenama Korea Selatan berkomitmen membangun pabrik di Cikarang yang menjanjikan kapasitas produksi 150-200 ribu unit per tahun. Sembari menguatkan kembali citra merek dan penjualannya di dalam negeri.
Lima tahun berjalan, jumlah ekspor Hyundai ke berbagai negara tujuan relatif datar pada kisaran lebih dari 50 ribu-60 ribu unit per tahun sejak tahun 2023 hingga 2025. Kia di bawah manajemen baru diharapkan mampu menambah produktivitas.
2023 56.538 unit
2024 62.443 unit (+10,4 persen)
2025 54.175 unit (-13,2 persen).
Terbaru ada China, dengan jumlah pemain yang semakin banyak dan keharusan untuk membuat produk mereka di Tanah Air oleh pemerintah. Permintaan tersebut dijawab dengan komitmen untuk berinvestasi di dalam negeri.
Namun, tidak semua merek menerapkan investasi pabrik mandiri. Beberapa ada yang memilih menggandeng mitra lokal untuk proses perakitan atau semi knocked down (SKD), di sisi lain berusaha meningkatkan volume penjualan domestik.
Keberadaan sejumlah merek Negeri Tirai Bambu yang baru seumur jagung, kecuali Wuling, menjadi tidak berdaya jika berbicara kemampuan ekspor. Posisi yang memang masih sulit ditiru oleh pemain baru.
2023 1.751 unit
2024 1.256 unit (-0,3 persen)
2025 2.468 unit (+96,5 persen).
Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, Prof. Agus Purwadi mengatakan peta industri otomotif nasional dan kinerja ekspornya melihat fenomena beberapa tahun terakhir tidak bisa dilihat secara parsial.
“Kita harus melihatnya secara komprehensif supaya industri yang sudah matang tidak rontok, tetapi yang baru datang juga tetap berkembang,” buka Agus kepada kumparan akhir pekan ini.
Agus menambahkan, kedatangan pemain baru yang memiliki inisiatif membangun industrinya di dalam negeri perlu dukungan agar Indonesia bisa menjadi basis produksi global yang lebih kuat.
"Kalau merek Jepang di sini basis lokalnya memang sudah lebih dominan dan matang karena sudah lama sekali sejak tahun 70-an. Korea dan China yang ekosistemnya masih baru harus ikut tumbuh bersama-sama, jangan justru timpang," katanya.
Sisi lain, dirinya mengatakan ini menjadi tantangan pemerintah untuk memperkuat sektor lainnya. Salah satunya adalah perumusan kebijakan industri yang lebih kompetitif dan pengembangan sumber daya manusia.
Pandangan tersebut memperkuat pentingnya desain kebijakan yang hati-hati. Menurut Agus, ruang bagi teknologi baru tetap perlu dibuka, tetapi tanpa mengorbankan daya saing industri yang telah memberi kontribusi nyata.
“Kalau bisa menumbuhkan yang baru, jangan mematikan yang lama, yang lama dipelihara dan ditransformasi. Sementara pemain baru didorong agar lokalisasinya kuat dan benar-benar punya basis di sini,” tandasnya.



