Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Abdul Wachid, menyoroti nasib guru-guru madrasah di Indonesia. Dalam rapat kerja bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar, ia mengungkapkan masih banyak guru madrasah yang menerima upah sangat rendah.
“Saya risih sekali dengan penyampaian tadi, guru madrasah hanya menerima Rp 50 ribu, Rp 100 ribu. Ini tidak sesuai dengan Asta Cita Presiden, Pak,” ujar Wachid di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (28/1).
Wachid mengatakan, para guru madrasah tersebut telah berulang kali menyampaikan aspirasi mereka, bahkan sejak era Menteri Agama sebelumnya. Persoalan ini juga sudah disampaikan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
“Saya sampaikan ke Bappenas. Mereka kaget ketika mengetahui guru madrasah dalam satu bulan hanya mendapatkan uang rokok Rp 50 ribu, Rp 100 ribu, Rp 150 ribu,” ungkapnya.
Ia kemudian mendesak agar pemerintah menetapkan standar kelayakan upah bagi guru madrasah, mengingat peran mereka yang sangat vital dalam pendidikan nasional. Wachid berharap ada alokasi anggaran yang lebih pantas bagi para pengajar di madrasah.
“Saya sampai menyampaikan, kalau memang belum sesuai standar pendidikan, setidaknya beri mereka Rp 1 juta per bulan, syukur bisa setara UMR,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wachid menilai rendahnya upah guru madrasah juga disebabkan oleh lemahnya pendataan di internal Kementerian Agama. Ia meminta Menteri Agama untuk segera membenahi sistem pendataan hingga ke tingkat bawah agar bantuan dan sertifikasi dapat tepat sasaran.
“Cuma persoalannya, Pak Menteri, pendataannya masih lemah di Kementerian Agama. Tolong selama Bapak menjabat, benahi sampai ke tingkat bawah, mulai dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga aliyah,” pungkasnya.





