GenPI.co - Kampanye media yang dilancarkan Arab Saudi terhadap Uni Emirat Arab (UEA) memperuncing perselisihan di kawasan Teluk.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak negatif terhadap stabilitas kawasan, termasuk di pusat keuangan utama Timur Tengah.
Media pemerintah dan media sosial dipenuhi tuduhan keras, mulai dari pelanggaran hak asasi manusia hingga pengkhianatan.
Dalam kondisi normal, monarki-monarki Teluk berupaya keras mempertahankan citra perdamaian dan stabilitas.
"Kini ketegangan yang telah lama terpendam muncul secara terbuka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar analis keamanan Anna Jacobs, dilansir AFP, Selasa (27/1).
Jacobs mengatakan Riyadh sangat jelas menyoroti keberatannya terhadap kebijakan regional Abu Dhabi dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Meski demikian, sejauh ini Abu Dhabi cenderung memilih sikap diam.
"UEA tidak terbiasa memprovokasi kakak besar," kata pakar ilmu poitik Abdulkhaleq Abdulla.
Kedua negara bertetangga ini merupakan sekutu tradisional dengan hubungan ekonomi yang sangat erat.
Meski kedua pihak berupaya menahan diri, hubungan tetap berada dalam kondisi rapuh.
Analis politik Soliman Al-Okaily menilai keretakan total hubungan masih kecil kemungkinannya.
Namun, dia menyebut Riyadh bisa mengambil langkah-langkah ekonomi yang menyakitkan.
Walau serangan publik yang terjadi tergolong dahsyat, peneliti lembaga think tank New America Adam Baron menilai masih diperlukan waktu panjang sebelum terjadi perpecahan besar.
"Saya pikir ini tidak hanya sinyal tentang potensi pengekangan, tetapi juga soal kemampuan untuk eskalasi," ujarnya. (*)
Simak video pilihan redaksi berikut ini:





