Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebelumnya pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sejumlah aksi indeks saham Indonesia membuat IHSG melemah sampai akhirnya diberlakukan trading halt.
IHSG langsung terjun bebas atau tersungkur 718,44 poin, anjlok 8 persen ke level 8.261,78 pada perdagangan Rabu (28/1) yang bikin perdagangan dihentikan sementara.
“Ya menurut saya IHSG kan jatuh karena berita yang MSCI yang menganggap kita kurang transparan dan banyak goreng-gorengan saham segala macam kan. Persyaratan mereka ya itu manajemen bersih dan free float-nya berapa persen. Ini saya pikir reaksi yang berlebihan, karena kan ini baru laporan pertama kan. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei kan,” kata Purbaya ditemui di Istana Negara, Rabu (28/1).
Purbaya sudah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membereskan persoalan yang disorot oleh MSCI. Ia juga menyebut kondisi pelemahan IHSG hari ini hanya merupakan situasi ‘syok’ sesaat.
“Saya udah bicara dengan ketua OJK, dia bilang semuanya akan diberikan sebelum Mei. Jadi ini hanya syok sesaat, jadi pasti perusahaan-perusahaan itu akan bisa menyesuaikan MSCI dan bisa masuk ke indeksnya MSCI maupun saham yang boleh diinvestasikan oleh perusahaan-perusahaan asing global,” ujarnya.
Terkait anggapan terkait transparansi Bursa Efek Indonesia (BEI), Purbaya sudah sejak lama meminta agar BEI memperbaiki kondisi pasar dari keberadaan penggoreng saham gorengan.
“Kan saya bilang dari pertama itu, waktu saya di bursa kan. Dia minta insentif, saya bilang perbaiki pasar saham dari ulah para penggoreng saham. Sebetulnya arahnya ke situ. Cuma kemarin mereka geraknya agak pelan atau mungkin masih dalam plan mereka,” kata Purbaya.
Sementara dari sisi fundamental ekonomi, Purbaya mengira hal itu sudah cukup bagus. Ia juga menjelaskan bahwa saat ini Kemenkeu dan BEI sudah semakin sinkron.
Ke depan, Purbaya berkomitmen untuk terus memperbaiki perekonomian utamanya dari sisi pendapatan fiskal seperti mengumpulkan pajak dan cukai, hingga perbaiki iklim investasi.
"Sehingga hasilnya akan lebih optimal. Tanpa menaikkan tarif pajak atau cukai. Terus nanti kita akan dorong semua kementerian lembaga untuk belanja tepat waktu, tepat sasaran. Habis itu kita perbaiki juga kan dari sidang-sidang debottlenecking, akan kita perbaiki ekonomi investasi dan itu gak main-main,” ujarnya.



