Pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil konsultasi mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float lebih cepat dua hari dari yang dijadwalkan.
Pada pernyataan sebelumnya, MSCI sedianya akan membagikan hasil konsultasi tersebut pada Jumat (30/1) lusa. Namun, pada Selasa (27/1) malam waktu AS atau Rabu (28/1) pagi WIB, pengumuman sudah keluar. Isinya pun berada di luar ekspektasi banyak kalangan lantaran MSCI memutuskan untuk membekukan sementara semua perubahan indeks yang terkait dengan saham-saham RI.
Pengumuman mendadak tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok pada perdagangan hari ini, ditutup rontok 7,35% atau 659,67 poin ke level 8.320. Pada perdagangan sesi kedua, Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan memberlakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt karena indeks rontok hingga 8% pada pukul 13.43 WIB ke level 8.261.
Free float adalah porsi saham yang dimiliki oleh publik atau masyarakat, tidak termasuk saham yang dikuasai oleh pemegang saham pengendali, pemegang saham mayoritas, komisaris, direksi maupun karyawan perusahaan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan, pengumuman yang disampaikan MSCI hari ini merupakan hasil dari diskusi yang dilakukan otoritas BEI pada 15 Januari 2026 lalu bersama MSCI.
Menurut dia, dalam pertemuan tersebut. MSCI menyatakan memerlukan data untuk menghitung free float saham Indonesia dengan lebih transparan. Merespons hal tersebut, dalam diskusi itu BEI menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan perubahan terkait penyampaian free float ke publik sejak 2 Januari lalu. Namun ternyata, perubahan tersebut belum memuaskan MSCI.
Padahal, kata Iman, dalam diskusi tersebut MSCI sebenarnya tidak memberikan secara spesifik kebutuhan data yang mereka minta selama proses diskusi pada pekan lalu. BEI pun menyampaikan baru mengetahui hasilnya dari pengumuman yang disampaikan MSCI hari ini.
“Jadi sekarang ini, per 2 Januari sudah kita tampilkan di website untuk mengumumkan daripada free float per segmen sesuai segmentasi yang lebih komprehensif,” kata Iman di Gedung BEI, Rabu (28/1).
Iman menjelaskan, sebelumnya, MSCI telah membuka konsultasi kepada para konstituennya terkait metodologi perhitungan free float di Indonesia. Meskipun sejatinya Iman tidak mengetahui latar belakang munculnya isu tersebut.
Iman mengatakan sejak awal BEI menekankan agar MSCI tidak keliru dalam menggunakan data KSEI, khususnya terkait kepemilikan saham di bawah dan di atas 5% yang berpotensi tercampur.
Dalam berbagai diskusi bersama MSCI, termasuk yang melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kata Iman, MSCI mengaku kesulitan karena data yang dibutuhkan tersebar di berbagai sumber, mulai dari KSEI, bursa, hingga keterbukaan informasi emiten.
Ia menegaskan, BEI bukan tidak ingin mengikuti metodologi MSCI, melainkan berupaya membantu lembaga itu dengan menyediakan data secara setara dan terstruktur. Salah satunya adalah memublikasi data free float yang lebih tersegmentasi melalui situs resmi BEI sejak 2 Januari 2026.
Iman mengatakan, BEI akan kembali meminta waktu untuk berdiskusi dengan MSCI guna menyamakan pemahaman terkait data yang diminta. Dia juga menuturkan, diskusi dengan MSCI akan terus berlanjut dan tidak berhenti pada pengumuman pembekuan bobot tersebut.
BEI, OJK dan MSCI Harus Segera KoordinasiSenior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyatakan, BEI), OJK, dan KSEI dapat segera berkoordinasi secara intensif agar meningkatkan transparansi pasar dan meredam sentimen negatif.
"Perlu adanya koordinasi antara BEI, OJK, dan MSCI. Pastinya juga MSCI akan terus memantau pengembangan new market Indonesia," kata Nafan.
Menurut dia, jika otoritas telah melakukan koordinasi secepat mungkin, diharapkan sentimen negatif tersebut akan mereda.
Sementara itu Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, OJK, BEI, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI. Sebelumnya, SRO telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan menyampaikan pengumuman data free float di website BEI.
“Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” kata Kautsar kepada wartawan, Rabu (28/1).




