Hogi dan Alarm Sosial: Ketika Hati Peduli, Hukum Tak Pasti

detik.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Ada satu kegelisahan yang tidak diucapkan banyak orang, tetapi terasa di dada sejak kasus Hogi mencuat ke publik. Hogi menjadi tersangka terkait dengan dua pelaku jambret yang tewas kecelakaan. Publik gelisah. Kegelisahan itu sederhana, namun mengena: "Kalau menolong orang bisa berujung masalah, lalu kita harus bagaimana?"

Kasus ini bukan sekadar perkara hukum, namun alarm sosial, yang berbunyi pelan, tetapi menandai sesuatu yang jauh lebih besar yaitu cara sebuah sistem secara tidak sadar mendidik warganya untuk tidak lagi menghormati kebenaran dan kebaikan.

Ilmu perilaku sudah lama mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk yang patuh karena tahu mana yang benar, melainkan makhluk yang belajar dari apa yang "berhasil" dan apa yang "berisiko".

Salah satu studi klasik yang sering dikutip adalah kasus day care di Barat, yaitu ketika pengelola mengenakan denda kecil bagi orang tua yang terlambat menjemput anak, niatnya baik, agar orang lebih disiplin. Hasilnya justru sebaliknya.

Orang tua semakin sering terlambat. Denda itu mengubah makna moral "telat itu salah" menjadi transaksi sederhana yaitu asal bayar, tidak apa-apa.

Yang lebih mengejutkan, ketika denda dicabut, perilaku terlambat tidak kembali normal. Norma sudah rusak. Moral telah diganti harga.

Pesannya jelas, saat pelanggaran diberi sinyal "bisa ditoleransi", manusia berhenti merasa bersalah.

Temuan ini diperkuat oleh riset lintas 11 negara Eropa terhadap lebih dari 1.400 responden, yang meneliti mengapa sebagian orang terus melanggar aturan meski tahu itu salah.

Bukan tidak paham aturan, bukan juga kebal hukuman. Masalahnya satu, melanggar sering "terasa aman".

Ketika hukuman terasa tidak konsisten, tidak proporsional, atau tidak masuk akal secara moral, maka otak manusia tidak mengaitkan "kesalahan" dengan "akibat". Hukuman kehilangan daya didiknya, dimana yang tersisa hanya kepatuhan semu atau penghindaran.

Di banyak negara maju, bahkan pejalan kaki, kelompok paling rentan sekalipun, tetap bisa dimintai tanggung jawab hukum bila melanggar aturan dan membahayakan orang lain.

Yang ditanya bukan cuma "siapa yang kena", tapi "siapa yang bikin keadaan jadi berbahaya".

Itulah kenapa orang merasa aman taat aturan.

Sekarang mari berkaca ke tanah air. Mari jujur. Kita semua pernah melihat situasi :

-Orang melawan arus justru marah dan merasa benar.
-Orang menyerobot antrean dilayani lebih dulu.
-Orang datang terlambat dimaklumi.
-Orang tertib justru mengalah.

Pelan-pelan, masyarakat belajar pesan yang berbahaya:

"Yang galak lebih selamat."
"Yang patuh lebih repot."
"Yang ikut campur bisa kena masalah."

Kasus Hogi memperbesar pesan ini ke layar nasional. Bukan karena hukumnya, tetapi karena sinyal sosialnya.

Hogi bergerak karena refleks, bukan karena niat macam-macam, namun, siapa pun akan bereaksi saat orang yang disayangi terancam.

Dalam ilmu sosial, ini disebut respons fight or flight, yaitu reaksi biologis yang muncul spontan saat ada ancaman, bukan hasil berpikir tenang.

Masalahnya dimulai ketika "respons darurat" ini diperlakukan seperti peristiwa hukum biasa, seolah menekan "rem darurat" sama dengan menabrak.

Bahaya paling serius ialah ketakutan berbuat baik, yang disebut chilling effect. Ketika satu orang yang berniat baik terkena masalah, seribu orang lain memilih diam.

Masyarakat menjadi: lebih aman secara pribadi tetapi lebih dingin secara sosial.

Dan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang bertahan bukanlah yang paling keras hukumnya, melainkan yang paling kuat kepercayaan sosialnya.

Kepercayaan itu tumbuh ketika warga yakin "Kalau saya berbuat benar, sistem tidak akan mengorbankan saya."

Ini bukan penolakan terhadap hukum, melainkan permintaan agar hukum bekerja dengan nurani. Sebab tugas hukum bukan hanya menutup perkara, tetapi menuntun masyarakat ke arah yang benar.

Pertanyaannya sederhana tapi berat yaitu: kita sedang membangun warga yang jujur, atau yang pandai menghindar? Warga yang peduli, atau yang memilih tutup mata? Karena Kebenaran memang tidak selalu menyenangkan, karena sering meminta kita berhenti sejenak dan bercermin.

Kasus ini bukan tentang satu orang, melainkan tentang arah yang sedang kita tempuh sebagai bangsa. Kalau berbuat baik saja bikin takut, jangan kaget kalau nanti semua terlihat rapi, tapi tak ada yang saling peduli.

Dan saat itu, mungkin sudah terlambat bertanya: ke mana perginya orang-orang baik?

Devie Rahmawati CICS. Peneliti Sosial Vokasi UI.




(rdp/tor)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Meski Dibantai Persebaya 0-3, PSIM Yogyakarta Ogah Belanja Pemain di Putaran Kedua
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Berita Foto grup A, AFC Futsal Asian Cup2026: Irak vs Kirgistan
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Nindya Karya Dorong Kualitas Pendidikan Lewat Rehabilitasi Sekolah Dasar di Jakarta
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Luncurkan Logo Imlek 2026: Kuda Lumping
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
GAC Ingin Berikan Kepastian ke Konsumen di IIMS 2026
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.