Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Bengkalis
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Bengkalis, Datuk Seri Syaukani Al Karim, menjelaskan bahwa karakter Melayu-Bengkalis terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. Letak Bengkalis yang berada di jalur perlintasan perdagangan Selat Melaka membuat kawasan ini terbuka terhadap pengaruh budaya dari daratan Sumatra maupun Semenanjung Melayu.
Menurutnya, orang Melayu sudah lebih dahulu menetap di Bengkalis sebelum kedatangan Islam. Pada masa lampau, masyarakat lokal memeluk berbagai kepercayaan seperti animisme, dinamisme, hingga politeisme. Namun, perubahan besar terjadi ketika Islam mulai masuk ke kawasan pesisir tersebut.
“Masuknya Islam ke Bengkalis tidak terlepas dari dinamika perdagangan di Selat Melaka. Ketika para pedagang Arab, Gujarat, dan Persia singgah, mereka membawa serta para ulama dan budaya Islam. Dari sinilah terjadi proses penyebaran Islam yang berjalan secara alami,” ujar Datuk dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Islam kemudian menjadi titik penting dalam pembentukan identitas Melayu-Bengkalis. Ketika para raja Melayu memeluk Islam, masyarakat mengikuti jejak yang sama. Konsekuensinya, seluruh tata nilai, adat, dan perilaku sosial masyarakat menyesuaikan diri dengan ajaran agama.
“Orang Melayu memiliki prinsip bahwa agama harus menjadi sandaran kehidupan. Maka lahirlah konsep ‘adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’. Artinya, adat dipandu oleh syariat, dan syariat berpegang pada Al-Qur’an. Falsafah itulah yang menjadi dasar peradaban Melayu hingga kini,” jelasnya.
Datuk menambahkan, pengaruh Kesultanan Melaka juga sangat besar dalam pembentukan pola keberagamaan dan budaya masyarakat Bengkalis. Bengkalis yang pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Melaka menyerap banyak nilai adat dan tata cara berislam dari kesultanan besar tersebut.
Beberapa unsur budaya yang masuk melalui jalur perdagangan turut dimodifikasi menjadi bagian dari tradisi lokal. Misalnya, Zapin, Kompang, serta tradisi memukul Duf yang berasal dari budaya Arab.
Namun saat dikembangkan di Bengkalis, gerak, patuh, dan gaya tarinya disesuaikan dengan nilai kesopanan dan adat istiadat masyarakat Melayu.
Di sisi lain, jejak Islam di Bengkalis dapat dilihat pada sejumlah bangunan masjid tua, di antaranya Masjid Kuning, Masjid Jami’ Kelapa Bati, serta beberapa peninggalan arsitektur berbasis kayu yang telah dipugar dengan konstruksi batu.
“Arsitektur tradisional Bengkalis awalnya berbasis kayu sehingga banyak bangunan asli tidak lagi bertahan. Namun, masjid-masjid tua yang direnovasi dengan batu tetap menjadi tapak sejarah yang menggambarkan kuatnya syiar Islam pada masa itu,” kata Datuk.
Meski perkembangan zaman terus berubah, Datuk menegaskan bahwa warisan terbesar yang masih terpelihara hingga kini bukan semata bentuk fisik, melainkan nilai dan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Melayu-Bengkalis.
“Yang paling terasa hari ini adalah nilai. Masyarakat Bengkalis tetap memegang adat, tata krama, dan sikap hidup berlandaskan Islam. Kearifan inilah yang menjadi warisan termahal dan terus diwariskan dari generasi ke generasi,” tutup Datuk.
Editor: Redaktur TVRINews





