CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bank Indonesia meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 pada Rabu (28/1). Laporan ini menggambarkan prospek ekonomi Indonesia yang tetap solid dalam jangka menengah, meski dihadapkan pada ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dalam LPI 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diprakirakan berada di kisaran 4,7–5,5 persen, meningkat menjadi 4,9–5,7 persen pada 2026, dan terus menguat hingga 5,1–5,9 persen pada 2027. Inflasi diperkirakan tetap terkendali pada sasaran 2,5±1 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa optimisme tersebut perlu dibarengi dengan penguatan kebijakan dan kerja sama lintas otoritas.
“Optimisme perlu terus dibangun dan diperkuat sehingga dapat memperkuat prospek perekonomian, dengan komitmen dan sinergi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Perry Warjiyo dalam peluncuran LPI 2025.
Optimisme yang tercermin dalam LPI tersebut berjalan seiring dengan kebijakan Bank Indonesia yang tetap berhati-hati, sebagaimana tercermin dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20–21 Januari 2026. Dalam RDG tersebut, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan Lending Facility 5,50 persen.
Keputusan tersebut diambil di tengah tekanan global yang berdampak pada nilai tukar Rupiah. Hingga 20 Januari 2026, Rupiah tercatat melemah ke level Rp16.945 per dolar AS, dipengaruhi oleh arus keluar modal asing dan meningkatnya permintaan valuta asing domestik.
Untuk menjaga stabilitas, BI menempuh berbagai langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar spot maupun instrumen non-deliverable forward (NDF dan DNDF).
Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga volatilitas Rupiah agar tetap sejalan dengan sasaran inflasi jangka menengah.
Di sisi lain, kebijakan moneter yang akomodatif terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sejak September 2024, BI-Rate telah turun total 150 basis poin hingga mencapai level terendah sejak 2022. Penurunan ini diperkuat dengan kebijakan likuiditas, termasuk insentif makroprudensial untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483950/original/011566700_1769409077-IMG_6111.jpeg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485532/original/063823000_1769510810-IMG_6221.jpeg)