VIVA – Virus Nipah merupakan salah satu penyakit menular yang jarang terjadi, tetapi mendapat perhatian besar dari dunia kesehatan global. Penyebabnya adalah tingkat kematian yang tinggi serta belum tersedianya obat khusus maupun vaksin yang disetujui untuk penggunaan luas.
Infeksi ini memang lebih banyak ditemukan di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, namun pemahaman tentang gejala virus Nipah tetap penting agar masyarakat lebih waspada. Scroll untuk info lebih lanjut!
Pada banyak kasus, gejala awal sering kali tampak seperti penyakit umum sehingga berisiko diabaikan. Padahal, infeksi dapat berkembang cepat menjadi kondisi serius, bahkan mengancam jiwa.
Karena itu, mengenali tanda-tanda sejak dini sangat krusial, terutama bagi orang yang baru bepergian dari daerah yang pernah melaporkan wabah. Melansir dari The Guardian, Rabu, 28 Januari 2026, berikut gejala virus nipah.
Gejala Awal Virus Nipah- Pixabay/ Counselling
Pada tahap awal, infeksi virus Nipah dapat menimbulkan keluhan yang mirip dengan flu atau infeksi virus lainnya. Gejala ini biasanya muncul dalam beberapa hari setelah terpapar virus. Tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Sakit tenggorokan
- Muntah
- Lemas dan tidak bertenaga
Karena gejalanya tidak spesifik, banyak orang mungkin mengira hanya mengalami infeksi ringan. Namun, pada sebagian penderita, kondisi dapat memburuk dengan cepat.
Gejala Berat dan Komplikasi
Virus Nipah dikenal dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan radang otak (ensefalitis). Inilah yang membuat penyakit ini sangat berbahaya. Ketika infeksi berkembang, gejala bisa meliputi:
- Pusing berat
- Mengantuk berlebihan
- Kebingungan atau linglung
- Penurunan kesadaran
- Kejang
- Kesulitan bernapas
Dalam kasus berat, penderita bisa mengalami koma dalam waktu singkat. Gangguan pernapasan juga dapat terjadi, terutama jika pasien mengalami gejala saluran napas. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ke orang lain melalui kontak dekat.
Sebagian pasien yang selamat dari infeksi berat juga dilaporkan mengalami gangguan saraf jangka panjang, seperti perubahan kepribadian atau kejang berulang.
Bagaimana Seseorang Bisa Tertular?
Infeksi pada manusia bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah, atau cairan tubuhnya. Banyak kasus juga dikaitkan dengan konsumsi buah atau produk buah yang terkontaminasi kotoran, urin, atau air liur kelelawar.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5487146/original/082719000_1769658473-WhatsApp_Image_2026-01-29_at_10.11.39.jpeg)