Pertamina Dinilai Punya Jam Terbang Tinggi Dalam Menghadapi Bencana

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampil sebagai garda depan negara dalam situasi darurat.

Selain memulihkan pasokan energi sejumlah BUMN juga menjalankan fungsi sosial dengan memberikan bantuan darurat seperti air bersih, sembako hingga dukungan untuk warga di pengungsian.

BACA JUGA: Melalui Inovasi Kompetisi PFsains, Pertamina Bangun Pertanian Terintegrasi di Pesantren

”BUMN meski di bawah pemerintah namun mereka bisa bergerak secara independen,” ujar Guru Besar Ilmu Sosiologi Fisip Universitas Indonesia Prof. Richardi Adnan.

Prof. Richardi mengatakan selama ini memang BUMN kerap dijadikan tumpuan oleh pemerintah dalam menangani bencana alam.

BACA JUGA: Sambut Imlek 2026, ANTAM Luncurkan Emas Batangan Year of the Horse

”Mereka memiliki saldo yang berlebih, terbiasa dengan program tanggung jawab sosial (CSR) dan terlatih karena banyak berhubungan juga dengan perusahaan-perusahaan serupa di mancanegara,” tuturnya.

Dia mengatakan salah satu BUMN yang punya jam terbang tinggi dalam menghadapi krisis adalah Pertamina. Hal ini dikarenakan energi merupakan kebutuhan dasar.

BACA JUGA: Catat Kinerja Positif Sepanjang 2025, Jamkrindo Syariah Perkuat Strategi di 2026

Selain pemulihan operasional, Pertamina melalui program Pertamina Peduli telah menyalurkan bantuan senilai miliaran rupiah untuk pembagunan posko kesehatan terpadu guna melayani lebih dari 15.000 pengungsi di Aceh Utara dan Pidie Jaya.

Menggelar dapur umum mandiri, termasuk menyediakan LPG 12 kg dan Bright Gas secara gratis di 120 titik pengungsian. Membangun sumur bor dan instalasi penjernihan air (Reverse Osmosis) di wilayah yang sumber airnya tercemar lumpur.

Pertamina menyalurkan bantuan berupa bahan makanan pokok (sembako) dan pasokan BBM untuk mempercepat pemulihan di wilayah terdampak parah, seperti Desa Tempur di Jepara, Jawa Tengah, termasuk memberikan bantuan LPG untuk operasional dapur umum guna memastikan kebutuhan pangan pengungsi terpenuhi.

Seperti diketahui Pertamina mengaktifkan skema Regular, Alternative, and Emergency (RAE) untuk memastikan suplai BBM dan LPG tidak terputus.

Sebagai tindak lanjut dari pengalaman tahun 2025, Pertamina kini telah memperkuat infrastruktur depot dan terminal BBM di Sumatera dengan teknologi Early Warning System yang terintegrasi dengan data BMKG.

Hal ini bertujuan agar gangguan distribusi dapat diminimalisir jika terjadi bencana serupa di masa depan.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tanggapi Pernyataan Noel Soal Purbaya Bakal 'Di-Noel-kan', Ketua KPK: Kita Tak Pernah Target Ini Itu
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Boiyen Resmi Gugat Cerai Suami, Padahal Ingin Punya Bayi Tahun Ini
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Hari ke-5 Evakuasi Pasca-Longsor Cisarua, Keluarga Korban Masih Menunggu Identifikasi DVI
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Anak Tikam Ayah hingga Tewas di Karawang, Sempat Mimpi Buruk Ibunya Di-KDRT
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Istana Bantah Reshuffle Kabinet Hari Ini: Hanya Pelantikan Anggota DEN
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.