Psikolog soroti stres yang kerap dianggap wajar di tempat kerja

antaranews.com
18 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) -

Psikolog dari Universitas Indonesia800 Ayu S. Sadewo S. Psi mengatakan stres kerap tidak disadari oleh pekerja karena dianggap sebagai bagian wajar dari tuntutan kerja sehari-hari, sehingga sering diabaikan hingga berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

Hal tersebut dikemukakan oleh Ayu dalam kegiatan Health Talk bertajuk Mind Matters: Menciptakan Ruang Aman untuk Sadar, Peduli, dan Saling Mendukung yang digelar Perum LKBN ANTARA di Wisma Antara B, Jakarta, Rabu (28/1).

Ayu mengatakan banyak pekerja tetap menjalani aktivitas seperti biasa meski tubuh dan pikirannya sudah berada dalam kondisi tertekan. Stres sering kali baru diakui ketika muncul tanda-tanda yang mengganggu fungsi kerja dan relasi sosial.

Baca juga: Psikolog: Dukungan mental dimulai dari tidak menghakimi

Baca juga: Pentingnya kesadaran diri menjaga kesehatan mental pekerja

“Banyak orang tidak merasa dirinya stres. Mereka baru sadar ketika sudah mudah marah, defensif, menarik diri, atau merasa lelah terus-menerus,” ujar Ayu.

Ia menjelaskan bahwa dalam budaya kerja, stres kerap dipersepsikan sebagai konsekuensi yang harus diterima. Ketahanan mental sering disamakan dengan kemampuan menahan tekanan tanpa mengeluh, bukan dengan kemampuan mengenali batas diri.

Ayu menilai anggapan tersebut membuat pekerja enggan mengakui kelelahan mental. Akibatnya, stres tidak dikelola sejak awal dan terus menumpuk dalam jangka waktu lama.

Ia menambahkan stres yang berlangsung singkat masih tergolong normal dan dapat membantu seseorang tetap waspada serta produktif. Namun, stres yang dibiarkan berlarut-larut tanpa disadari dapat berkembang menjadi burnout atau kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada penurunan motivasi dan kinerja seseorang.

Burnout, kata Ayu, tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya didahului oleh stres yang terus diabaikan, minim jeda pemulihan, dan kurangnya ruang untuk mengekspresikan tekanan yang dirasakan.

Dalam paparannya, Ayu juga menyinggung bahwa stres tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan verbal. Perubahan perilaku kecil, seperti menurunnya fokus, meningkatnya kesalahan, atau enggan berinteraksi, sering menjadi sinyal awal yang luput diperhatikan.

Ia mengajak pekerja untuk mulai mengenali tanda-tanda stres sejak dini, termasuk perubahan pada tubuh, emosi, dan pola pikir. Kesadaran ini penting agar stres dapat dikelola sebelum berdampak lebih jauh.

Melalui kegiatan ini, Ayu menekankan bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tekanan, melainkan memahami kapan tekanan perlu direspons dan kapan tubuh serta pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti dan pulih.

Baca juga: Psikolog ingatkan empati perlu diimbangi batasan sehat

Baca juga: Waspadai kelelahan mental akibat paparan arus informasi

Baca juga: Tindakan yang perlu dilakukan orang tua saat mengetahui anak dirundung


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bocoran Spesifikasi dan Harga Mobil Listrik Buatan Indonesia i2C
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Bidik Milenial, BTN Dorong Kepemilikan Hunian Lewat Ekosistem Gaya Hidup
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Perdagangan Satwa Dilindungi, Polda Jabar Amankan 14 Burung Elang
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Film Tygo Lisa Blackpink Syuting di Tangerang, Jalan K.S Tubun Ditutup Sementara
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati Pati Sudewo Kena 2 Kasus Korupsi, Pakar Ungkap Proses Peradilan-Harap KUHAP Tak Ringankan
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.