Komisi VIII DPR RI memberi perhatian pada kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia tahun 2026 yang didominasi kelompok berisiko tinggi.
An’im Falachuddin anggota Komisi VIII meminta agar Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memberikan perhatian dan pengawasan ekstra guna menjamin keselamatan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
An’im mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian Agama, sekitar 170.000 jemaah atau setara 83 persen dari total 203.320 jemaah haji reguler Indonesia tercatat masuk kategori risiko tinggi dari sisi kesehatan.
Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan penanganan serius dan terencana.
“Dengan persentase jemaah risiko tinggi yang sangat besar, skema pelayanan dan pengawasan khusus harus menjadi prioritas utama. Ini tidak bisa ditunda,” ujar An’im di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan ibadah haji menuntut kesiapan fisik yang prima, sementara cuaca ekstrem di Arab Saudi diperkirakan mencapai suhu di atas 40 derajat Celsius.
Situasi ini berpotensi memperparah kondisi kesehatan jemaah, khususnya lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Menurutnya, dominasi jemaah lanjut usia merupakan dampak dari panjangnya masa tunggu keberangkatan haji di Indonesia yang bisa mencapai puluhan tahun.
Karena itu, ia menilai pendekatan penyelenggaraan haji tidak bisa disamakan dengan jemaah berusia muda dan sehat.
An’im menekankan pentingnya peran aktif petugas haji dalam melakukan pemantauan kesehatan secara berkala, pendampingan saat pergerakan jemaah, serta penyesuaian jadwal ibadah agar tidak membebani kondisi fisik jemaah risiko tinggi.
“Petugas harus sigap dan responsif. Jangan sampai keterlambatan penanganan menyebabkan kondisi darurat kesehatan di lapangan,” tegasnya.
Selain itu, ia mendorong penguatan koordinasi antara petugas layanan umum dan tenaga medis, serta pemanfaatan data kesehatan jemaah secara akurat sebagai dasar pengambilan keputusan.
An’im berharap penyelenggaraan ibadah haji 2026 mengedepankan pendekatan yang lebih humanis dan berorientasi pada keselamatan jemaah. Menurutnya, keberhasilan haji tidak hanya diukur dari kelancaran prosesi ibadah, tetapi juga dari kemampuan negara memastikan seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat.
“Keselamatan jiwa jemaah harus menjadi tujuan utama,” pungkasnya.(faz)

