EtIndonesia. Di tengah meningkatnya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran, Washington dinilai telah memasuki sebuah “jendela strategis” yang dianggap relatif matang untuk menekan Teheran tanpa terjerumus ke dalam perang besar yang berkepanjangan.
Pengerahan cepat militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir—termasuk pergerakan maju kelompok tempur kapal induk—menunjukkan bahwa Gedung Putih menilai situasi kini bergerak menuju fase yang masih dapat dikendalikan secara militer dan politik.
Opsi Serangan Presisi Mulai Dikaji
Informasi terbaru dari berbagai sumber media internasional mengungkapkan bahwa Pemerintah AS sedang mengkaji opsi serangan yang jauh lebih presisi terhadap Iran, bukan operasi militer skala penuh.
Sasaran utama dari skenario ini adalah pejabat senior Iran yang dituduh terlibat langsung dalam penindasan demonstrasi domestik, dengan bentuk operasi berupa pembunuhan terarah (targeted killings). Beberapa komandan militer Iran juga dilaporkan masuk dalam daftar sasaran potensial.
Para analis menilai, Iran saat ini menghadapi akumulasi tekanan berat—mulai dari krisis ekonomi, konflik sosial internal yang terus membesar, hingga ketegangan di dalam struktur kekuasaan elite negara. Dalam konteks tersebut, operasi bergaya “bedah presisi” dinilai mampu menciptakan efek guncangan internal yang signifikan, tanpa menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik jangka panjang yang menguras sumber daya dan stabilitas global.
Laporan Eksklusif Media Timur Tengah
Media Middle East Talk dalam laporan eksklusifnya menyebutkan bahwa Gedung Putih tengah mempersiapkan pola operasi yang menyerupai strategi Israel, yakni serangan presisi terhadap individu-individu kunci Iran.
Laporan tersebut menyatakan bahwa aksi paling cepat dapat dimulai pekan ini, meski tidak menyebutkan tanggal pelaksanaan secara spesifik. Hingga kini, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi, dan seluruh informasi masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Namun demikian, kecepatan dan skala pengerahan militer AS ke Timur Tengah terlihat jelas, menandakan bahwa opsi militer sedang disiapkan secara serius.
USS Abraham Lincoln Bergerak Maju
Pada 26–27 Januari 2026, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak cepat mendekati kawasan perairan sekitar Iran, dengan orientasi strategis mengarah pada penguncian Selat Hormuz—jalur vital bagi ekspor energi global.
Menurut laporan The Washington Post pada 27 Januari, kelompok tempur ini terdiri dari:
- Kapal induk USS Abraham Lincoln
- Tiga kapal perusak:
- USS Frank E. Petersen Jr.
- USS Spruance
- USS Michael Murphy
- Puluhan pesawat tempur berbasis kapal
- Sekitar 5.000 personel militer
Meski saat ini kapal-kapal tersebut masih berada pada jarak tertentu dari wilayah Iran dan belum dalam posisi serangan langsung, militer AS diperkirakan akan terus mendorong ke depan dalam beberapa hari ke depan, kemungkinan memasuki Teluk Oman atau Laut Arab Utara, guna meningkatkan tekanan strategis terhadap Teheran.
Konfirmasi Pentagon dan CENTCOM
Pada 26 Januari, situs US Naval Institute News melaporkan bahwa seorang pejabat Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi kelompok tempur USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah Timur Tengah dan bergabung dengan Armada Kelima AS.
Di hari yang sama, CENTCOM mempublikasikan foto serta pernyataan resmi di media sosial yang mengonfirmasi bahwa kapal induk tersebut telah memasuki Samudra Hindia. Meski tidak secara eksplisit menyebut Iran, wilayah tanggung jawab CENTCOM mencakup seluruh Timur Tengah, sehingga langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis yang kuat.
Namun, CNN mengutip sumber internal yang menyatakan bahwa pengerahan ini tidak serta-merta berarti serangan militer akan segera terjadi, karena Presiden Donald Trump masih mengevaluasi berbagai opsi.
Penguatan Udara dan Koordinasi dengan Israel
Di sektor udara, peningkatan kekuatan militer AS juga berlangsung paralel. Media Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan:
- Jet tempur F-15 dan F-35
- Pesawat pengisian bahan bakar udara
- Berbagai sistem pertahanan rudal regional
Pada 24 Januari, Komandan CENTCOM Jenderal Brad Cooper dilaporkan mengunjungi Israel untuk melakukan koordinasi intensif terkait skenario operasi militer dan antisipasi kemungkinan serangan balasan Iran terhadap Israel. Kedua pihak kini menyusun rencana pertahanan bersama.
Media Israel menyebutkan bahwa meski Trump belum menetapkan waktu serangan secara final, para pejabat tinggi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menganggap pekan ini sebagai periode krusial, sehingga persiapan dipercepat dengan asumsi serangan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Respons Keras Teheran
Menghadapi tekanan eksternal, Iran tetap menunjukkan sikap keras di hadapan publik.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Rezanik, memperingatkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi target serangan jika AS bertindak agresif.
Tak lama berselang, militer Iran merilis video peringatan berbasis AI, yang menampilkan simulasi peluncuran salvo rudal Iran dan visualisasi kapal induk AS yang tenggelam. Dalam video tersebut, Iran mengklaim akan menghancurkan seluruh pangkalan militer AS dalam radius 2.000 kilometer jika terjadi serangan.
Selain itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengumumkan telah memperkuat pengerahan di Teluk Persia dan Selat Hormuz, termasuk penempatan rudal jelajah anti-kapal Abu Mahdi dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.
Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada Israel, menyatakan bahwa jika Tel Aviv ikut campur, mereka akan membayar harga yang jauh lebih mahal dibanding konflik yang oleh Iran disebut sebagai “Perang Dua Belas Hari” pada Juni 2025.
Diplomasi Masih Terbuka, Namun Bersyarat
Di tengah ketegangan ini, Washington menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi salah satu opsi.
Dalam wawancara dengan Axios pada 26 Januari, Trump menyatakan bahwa kekuatan laut AS di sekitar Iran kini bahkan lebih besar dibandingkan armada yang sebelumnya dikerahkan di dekat Venezuela. Namun ia menolak mengungkap opsi militer secara spesifik.
“Iran ingin berunding. Saya tahu itu. Mereka sudah berkali-kali menelepon dan ingin berbicara,” ujar Trump.
Beberapa jam kemudian, seorang pejabat senior AS menegaskan bahwa Gedung Putih membuka pintu dialog, asalkan Iran bersedia memenuhi syarat inti, yaitu:
- Menghentikan seluruh pengayaan uranium
- Membatasi secara ketat pengembangan rudal
- Menghentikan dukungan terhadap kelompok proxy regional
Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Trump masih akan melakukan konsultasi lanjutan pekan ini dan mendengarkan proposal militer tambahan. Kehadiran kapal induk di kawasan dinilai memberi Gedung Putih ruang opsi yang jauh lebih luas.
Keputusan Masih di Tangan Trump
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Trump sempat hampir menyetujui serangan militer terhadap Iran, namun pada pertengahan Januari 2026 memilih menunda.
Media asing menilai, sebagian penasihat dan sekutu AS di Timur Tengah memperingatkan bahwa tindakan militer yang tergesa-gesa—tanpa kesiapan penuh—berpotensi memicu serangan balasan Iran berskala besar dan memperluas konflik regional. Kekhawatiran inilah yang sejauh ini membuat Gedung Putih masih menahan diri.
Situasi Timur Tengah kini bergerak menuju titik kritis yang sangat berbahaya, dengan setiap keputusan Washington berpotensi mengubah arah konflik regional dalam hitungan hari.



