Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi NasDem, Yoyok Riyo Sudibyo, mengungkapkan catatan kritis dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Indonesia pada Selasa (27/1).
Yoyok menyoroti ada ketidakadilan distribusi dan dominasi genre tertentu, dilihat dari data pertumbuhan film nasional.
"Film Indonesia tumbuh Bu, iya betul, tapi enggak adil. Catat itu. Film kita ini kurang apa? Ibu dengan bangga nyampaikan bahwa 2025, 176 film tayang, betul. Oleh 112 rumah produksi," kata Yoyok.
"Tapi Bu, hanya 8 PH yang bisa produksi 3 sampai 12 film per tahun. Mayoritas iku PH-PH cilik, Bu, PH-PH kecil 1 sampai 2 film. Ini saja untuk sampai layar lebar tidak tentu semuanya," lanjutnya.
Apa yang disampaikan Yoyok hampir senada dengan yang disampaikan sebelumnya oleh sineas Angga Sasongko.
Data menunjukkan sepanjang 2025, lebih dari 120 juta tiket bioskop terjual untuk film nasional. Angka ini meningkat signifikan dibanding 2024 yang berada di kisaran 100 juta tiket bioskop yang terjual.
Meski ada peningkatan, Angga menyoroti ada ketimpangan ekstrem dalam distribusi jumlah penonton tersebut.
Dari total 120 juta tiket yang terjual, sebanyak 21 juta tiket atau hampir 18 persen dari total pasar hanya disumbang oleh dua film saja, yaitu JUMBO dan Agak Laen 2.
Menurut Angga, kondisi ini menyiratkan bahwa tingkat keberhasilan per judul film justru mengalami penurunan.
"Artinya, tingkat kemenangan per film menurun. Harus ada transformasi besar di sisi produk-produk filmnya, juga pendekatan penyusunan programnya," tulis Angga.
Komisi VII DPR Desak Pemerintah Tidak Biarkan Industri Film Dikuasai yang Punya UangSenada dengan peringatan Angga, Yoyok mendesak pemerintah agar tidak membiarkan industri film hanya dikuasai oleh mereka yang memiliki modal besar.
"Jadi mohon, ayo Bu, kalian yang atur keadilan ini, bukan mereka yang punya duit dan bukan mereka yang sudah berkuasa," kata Yoyok.




