EtIndonesia. Di Arab, ada seorang pedagang kaya yang memiliki seekor kuda yang sangat kuat dan tangguh. Dalam satu hari, kuda itu mampu berlari menempuh jarak ribuan mil, sehingga menjadi alat transportasi terbaik pada masa itu. Karena itulah sang pemilik sangat menyayangi dan merawatnya dengan sepenuh hati.
Ada pula pedagang lain yang setiap hari menggiring sekawanan unta untuk mengangkut barang ke berbagai tempat. Ketika melihat pedagang pertama bisa mengantarkan barang pulang-pergi dalam satu hari dengan menunggang kuda, dia merasa sangat iri dan kagum.
Suatu hari, pedagang kedua berkata kepada pedagang pertama: “Aku ingin menukar sekawanan unta ini dengan kudamu.”
Pedagang pertama menjawab: “Maaf, aku tidak ingin menukarnya.”
Pedagang kedua terus membujuk: “Asal kamu mau memberikan kudamu, apa pun yang kau minta akan kuberikan.”
Namun pedagang pertama berkata dengan tegas: “Apa pun yang kamu katakan, selama aku masih hidup, aku tidak akan melepaskan kuda ini. Dia adalah sahabat terbaik dalam hidupku, jadi aku tidak bisa menukarnya.”
Pedagang kedua sangat menginginkan kuda itu. Dia tahu bahwa pedagang pertama adalah orang yang penuh kasih. Maka suatu hari, dia sengaja mengenakan pakaian compang-camping dan berpura-pura sakit parah, lalu rebah di pinggir jalan yang biasa dilewati pedagang pertama.
Ketika pedagang pertama melihat seseorang tergeletak di jalan, dia segera turun dari kudanya. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata orang itu adalah pedagang kedua. Melihat kondisinya yang seolah sakit berat, pedagang pertama bersusah payah membantu menaikkannya ke atas kuda, berniat mengantarkannya berobat.
Melihat rencananya berhasil, pedagang kedua langsung berubah sikap dan berkata: “Selama ini aku sudah mencoba berbagai cara dan menawarkan banyak harta untuk menukar kudamu, tetapi kamu tidak mau. Sekarang aku sudah berada di atas kuda ini, berarti kuda ini milikku. Aku akan pergi menungganginya.”
Pedagang pertama menjawab dengan tenang: “Karena kamu sudah berada di atas kuda, maka kuda ini memang bisa dianggap milikmu. Namun dengarkanlah beberapa perkataanku, dan ingatlah baik-baik.”
Pedagang kedua berkata: “Selama kudanya jadi milikku, aku bersedia mendengarkan apa pun katamu.”
Pedagang pertama berkata: “Ingatlah ini: kelak jika ada orang yang bertanya bagaimana caramu mendapatkan kuda ini, jangan sekali-kali kau ceritakan.”
Pedagang kedua bertanya heran: “Mengapa?”
Pedagang pertama menjawab: “Jika kamu menceritakannya, maka di kemudian hari, ketika ada orang yang sakit tergeletak di pinggir jalan, tidak akan ada lagi yang berani menolongnya. Demi mencegah hal itu terjadi, janganlah kamu berkata apa-apa, agar setiap orang tetap memiliki niat baik dalam hatinya.”
Mendengar kata-kata itu, pedagang kedua seketika merasa sangat malu dan diliputi penyesalan.
Dia segera turun dari kuda dan berkata: “Hanya karena satu niat buruk, aku telah mencederai kebaikan manusia. Aku sungguh menyesal. Kuda ini tetap milikmu. Aku kembalikan kepadamu. Mohon maafkan aku.”
Renungan / Hikmah Cerita
Kemajuan media dan maraknya pemberitaan memang membuat orang lebih waspada dan mengurangi risiko penipuan. Namun di sisi lain, hal itu juga menumbuhkan kecurigaan dan kewaspadaan berlebihan antar sesama manusia.
Bukan karena orang-orang berhati baik semakin sedikit, melainkan karena banyak orang takut—takut bahwa setelah memberi pertolongan, yang mereka terima justru penyesalan.
Perlahan, kehangatan dan rasa kemanusiaan di antara sesama pun semakin memudar.
Namun kita tetap percaya bahwa manusia pada dasarnya terlahir baik, dan hukum sebab-akibat akan selalu berputar. Orang yang tulus berbuat baik pada akhirnya akan menuai kebaikan. Sebaliknya, mereka yang menyalahgunakan kebaikan dan simpati orang lain—suatu hari, ketika benar-benar membutuhkan pertolongan—bisa jadi justru akan menemukan bahwa belas kasih telah menjauh darinya. (jhn/yn)





