Kekuasaan di Ujung Senjata: Penangkapan Jenderal PKT Picu Siaga Perang Tak Resmi di Beijing

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi politik dan militer di Beijing dalam beberapa hari terakhir digambarkan oleh banyak pengamat sebagai “pedang telah terhunus dan busur sudah ditarik”. Ketegangan mencapai titik tertinggi dan tidak lagi bisa ditutupi oleh diplomasi simbolik, foto bersama, atau pernyataan formal semata.

Guncangan besar dipicu oleh penangkapan dua tokoh paling berpengaruh di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT): Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Umum Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Liu Zhenli. Dampaknya tidak hanya bersifat internal, tetapi langsung terasa di lapangan melalui pergerakan militer berskala besar di berbagai wilayah strategis.

Pengumuman Resmi 24 Januari: Titik Balik Krisis

Pada 24 Januari, Kementerian Pertahanan Tiongkok secara resmi mengumumkan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli sedang diselidiki atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”. Pengumuman ini segera diikuti editorial keras di surat kabar militer resmi.

Editorial tersebut melontarkan tuduhan berat terhadap Zhang Youxia, antara lain:

Inti tuduhan ini bukan sekadar korupsi finansial, melainkan “merusak sistem tanggung jawab ketua”—sebuah frasa yang dalam terminologi PKT berarti tantangan langsung terhadap otoritas pemimpin tertinggi.

Inilah yang membuat perhatian internasional segera bergeser dari isu antikorupsi ke spekulasi jauh lebih serius: konflik internal bersenjata, perebutan kekuasaan, bahkan kemungkinan kudeta.

Pergerakan Pasukan dan Pengetatan Keamanan: Fakta Lapangan

Sejak 24–26 Januari, berbagai rekaman video dan laporan saksi mata beredar luas di media sosial luar negeri, menunjukkan:

Pada 24 Januari, di gerbang tol Tianjin, terpampang papan merah besar bertuliskan: “Arah Beijing pada Jalan Tol Beijing–Tianjin–Tanggu ditutup. Silakan putar balik.”

Banyak warga mengaku tidak lagi bisa memasuki Beijing.

Di Lapangan Tiananmen, mobil polisi tampak di hampir setiap sudut, jalan-jalan utama diblokade, dan pengamanan diperketat secara ekstrem. Meski tidak ada pengumuman resmi darurat militer, secara de facto Beijing menunjukkan ciri-ciri kota dalam kondisi masa perang.

“Diam yang Menakutkan”: Tidak Ada Gelombang Kesetiaan

Dalam tradisi politik PKT, setiap krisis besar biasanya diikuti gelombang pernyataan kesetiaan dari militer dan pejabat daerah. Namun kali ini, hal itu tidak terjadi.

Kai Xia, mantan profesor Sekolah Partai Pusat, menilai bahwa keheningan massal ini justru merupakan sinyal paling berbahaya. Dalam sistem otoriter, diam sering kali lebih mengerikan daripada teriakan dukungan.

Hingga 27 Januari, belum terlihat pernyataan kesetiaan terbuka dari para komandan teater militer maupun pemimpin provinsi.

27 Januari: Kartu Stabilitas dari Xi Jinping

Di tengah derasnya rumor dan ketegangan, pada 27 Januari, PKT mengeluarkan apa yang oleh pengamat disebut sebagai “kartu stabilitas”.

Xi Jinping dan istrinya tampil di depan publik dengan menerima kunjungan Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo beserta istrinya di Balai Agung Rakyat, Beijing.

Foto dan berita singkat ini memiliki dua fungsi politik utama:

  1. Ke dalam negeri:
    “Saya masih di sini. Saya tidak ditahan rumah. Saya tidak menghilang.”
  2. Ke luar negeri:
    “Saya masih memegang kendali dan dapat berbicara tentang hubungan internasional.”

Dalam sistem PKT, kemunculan publik pemimpin tertinggi adalah alat stabilisasi paling cepat dan paling murah untuk menenangkan pasar kekuasaan.

Status Siaga Perang: Laporan Tidak Resmi

Seorang pengguna platform X menyebut bahwa Divisi Pertama Garnisun Beijing telah masuk status kesiapan perang.
Grup Angkatan Darat ke-83 dari Teater Tengah dilaporkan berada di pinggiran Beijing, sangat dekat dengan pusat kekuasaan.

Menurut laporan lain:

Perintah dan Kenyataan: Dua Narasi yang Bertabrakan

Cendekiawan Liu Junning mengungkap bahwa pada 26 Januari, CMC secara internal memerintahkan seluruh unit militer tidak bergerak dan tetap di tempat.

Namun di lapangan, video warganet menunjukkan hal sebaliknya: pasukan justru bergerak aktif di berbagai wilayah. Ketidaksinkronan antara perintah pusat dan realitas ini memperkuat kesan bahwa kendali atas militer tidak sepenuhnya solid.

Dampak Psikologis di Tubuh Militer

Jurnalis Zhen Fei, mengutip perwira pensiunan Angkatan Darat ke-31, menyebut bahwa penangkapan Zhang Youxia—orang nomor dua di militer—telah memicu kepanikan dan duka mendalam di kalangan perwira.

Banyak perwira berpangkat kolonel ke atas dilaporkan mengajukan pengunduran diri atau mutasi untuk menghindari risiko politik.

Di militer Tiongkok, ikatan daerah dan persahabatan tempur sangat kuat. Tindakan Xi yang dianggap “menyingkirkan sekutu lama setelah tujuan tercapai” dinilai menggerus loyalitas secara luas.

Skala Pembersihan: Angka yang Mengkhawatirkan

Menurut sumber yang dikutip berbagai analis:

Versi Penangkapan: Fakta, Rumor, dan Narasi Berdarah

Hingga kini, detail penangkapan Zhang Youxia dan Liu Zhenli belum diumumkan secara resmi. Beberapa versi yang beredar antara lain:

Kebenaran versi-versi ini belum dapat diverifikasi. Namun semuanya mengarah pada satu kesimpulan: ini bukan pembersihan antikorupsi biasa, melainkan konflik kekuasaan bersenjata tingkat tinggi.

Tuduhan Kebocoran Nuklir dan Spekulasi Politik

Laporan Wall Street Journal menyebut Zhang Youxia dituduh membocorkan rahasia inti senjata nuklir. Banyak pengamat meragukan tuduhan ini, menilai bahwa isu nuklir mungkin digunakan untuk memutus simpati dan legitimasi.

Ada pula spekulasi mengenai suksesi kekuasaan, meski klaim tersebut belum terbukti. Yang jelas, konflik ini menyentuh dua hal paling sensitif bagi rezim mana pun: aturan suksesi dan loyalitas senjata.

Kesimpulan: Kekuasaan di Atas Gunung Berapi

Sejumlah analis menilai bahwa dengan menjatuhkan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, Xi Jinping kini berdiri di atas gunung berapi politik.

Semua keanehan yang terlihat—foto diplomatik mendadak, militer yang tak mengikuti skrip kesetiaan, perintah yang tak ditaati, tuduhan berat yang janggal, Beijing yang tampak seperti di bawah aturan militer—menunjuk pada satu hal:

Rantai kekuasaan sedang menipis dan rapuh.

Dalam sistem yang bertahan karena rasa takut, ketika rasa takut mulai kehilangan efeknya, sering kali hanya dibutuhkan satu kesalahan, satu peluru nyasar, atau satu langkah keliru untuk memicu gempa politik yang sesungguhnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Resmi, Raheem Sterling Tinggalkan Chelsea setelah 3,5 Musim Bersama
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Nasihat Ibnu ‘Athaillah untuk Hidup Lebih Tenteram
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dua Kakak Presiden Prabowo Kunjungi Sekolah Rakyat
• 14 jam lalusuara.com
thumb
Maxim Siapkan Bonus Hari Raya 2026 ke Pengemudi, Ini Ketentuannya
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Update Longsor Cisarua, BNPB: 56 Kantong Jenazah Diserahkan ke DVI
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.