Waspadai Virus Nipah, Pakar Sarankan Cuci Tangan Pakai Sabun sebagai Proteksi Utama

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A Subsp.IPT mengatakan hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk menangkal virus Nipah.

Masyarakat diimbau untuk memperkuat proteksi diri melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal ini menjadi langkah preventif paling efektif guna menekan risiko penularan infeksi penyakit tersebut.

BACA JUGA: Indonesia Masih Bebas dari Virus Nipah, Pemerintah Tetap Optimalkan Alat Deteksi Suhu di Bandara

“Secara umum PHBS itu berlaku universal. Intinya adalah membersihkan semua yang menempel, yang bukan dari kita, cuci tangan dengan air mengalir adalah yang terbaik, menggunakan sabun,” kata Dominicus dalam paparan di webinar bersama IDAI yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Dominicus mengatakan dalam situasi tertentu tidak ada air, tidak ada sabun, alternatifnya boleh memakai alkohol glycerin.

BACA JUGA: Bea Cukai Jambi Siap Bantu Sukseskan Desa Ekspor UMKM Nipah Panjang

Ia mengatakan kebiasaan PHBS perlu ditingkatkan kembali dan dilakukan setiap saat akan melakukan kegiatan seperti mengonsumsi sesuatu atau setelah kontak dengan orang lain.

PHBS bisa dilakukan dengan menggunakan alat pembersih tangan yang sudah banyak saat ini seperti hand sanitizer yang memudahkan jika tidak terdapat air bersih. Jika dibiasakan akan sangat baik mencegah berbagai penyakit infeksi dan virus.

BACA JUGA: Bea Cukai Kawal Ekspor Perdana 7,05 Ton Teh Nipah Asal Sulsel ke Korea Selatan

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya itu mengatakan PHBS juga bisa diterapkan pada makanan yang akan dikonsumsi dengan mencucinya secara menyeluruh untuk mencegah menempelnya virus, terutama virus nipah pada liur hewan yang terkontaminasi yang mungkin menempel di makanan dan tangan.

“Kalau cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, liur itu bersih. Itu risiko kena nipah menjadi tidak. Ini tidak berlaku untuk Ebola, untungnya Ebola di kita enggak ada. Kalau Ebola itu, walaupun cuci tangan dilakukan dengan baik, belum tentu bisa menghambatnya. Namun, nipah ini bisa. Jadi, saya kira kalau kita cuci tangan dengan baik, enggak kena kita,” kata Dominicus.

Dominicus mengatakan saat ini uji fase vaksinasi nipah masih menjalani tahap kedua yang dilakukan di Oxford, Inggris, dan masih membutuhkan waktu sekitar tiga atau lima tahun lagi untuk vaksin ini bisa digunakan pada manusia.

Di Indonesia, vaksin yang sudah ada dan beredar di masyarakat masih belum terbukti memiliki efek pencegahan dari virus nipah.

Ia juga mengatakan masa inkubasi virus nipah membutuhkan waktu 4-12 hari sejak masuknya virus, dan pada masa ini perlu memperhatikan gejala yang muncul mulai dari flu, demam, nyeri kepala dan otot, muntah.

Adapula dua gejala berat utamanya pada sistem saraf karena infeksi otak yang menyebabkan penurunan kesadaran dan menyerang sistem saluran napas dengan tanda sesak karena pneumonia dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jordy Wehrmann Ceritakan Momen Pertemuan dengan Robin Van Persie: Spesial dan Tak Terlupakan
• 19 jam lalubola.com
thumb
Dibanding Bitcoin (BTC), Tether Nyatanya Lebih Pilih Investasi di Emas
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PIS Berhasil Kurangi 116 Ribu Ton Emisi Sepanjang 2025
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Bursa Saham Wall Street Stagnan, The Fed Tahan Suku Bunga Dolar AS
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kota Tua Dipakai Syuting Film Lisa BLACKPINK, Jalanan Ditutup 1-7 Februari
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.