Sebagai mahasiswa kesehatan, saya sering berhadapan dengan istilah anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Sistem rangka menjadi salah satu materi dasar yang hampir selalu muncul dalam perkuliahan. Awalnya, tulang hanya saya pahami sebagai susunan struktur yang harus dihafal: jumlahnya, bentuknya, dan letaknya. Namun, seiring berjalannya waktu, pemahaman itu perlahan berubah.
Kesibukan sebagai mahasiswa kesehatan membuat saya banyak menghabiskan waktu duduk, berdiri lama saat praktikum, atau membawa beban perlengkapan belajar. Dalam kondisi tersebut, saya mulai merasakan bagaimana tubuh, khususnya sistem rangka, bekerja tanpa pernah benar-benar diberi jeda. Rasa pegal pada punggung, nyeri di leher, atau kelelahan pada kaki menjadi pengalaman yang semakin sering terjadi.
Dari situ, saya menyadari bahwa sistem rangka bukan sekadar materi ujian. Tulang, sendi, dan struktur pendukungnya bekerja terus-menerus menopang tubuh dan memungkinkan setiap aktivitas berjalan normal. Ketika sistem rangka terganggu, aktivitas belajar dan praktik yang menuntut ketelitian justru menjadi lebih berat untuk dijalani.
Sebagai mahasiswa kesehatan, saya merasa ironi ketika memahami fungsi rangka secara teori, tetapi sering mengabaikannya dalam keseharian. Posisi duduk yang kurang ergonomis, kurangnya peregangan, serta kebiasaan menunda istirahat seakan menjadi hal yang lumrah. Padahal, kebiasaan tersebut dapat berdampak pada kesehatan tulang dalam jangka panjang.
Pemahaman tentang sistem rangka seharusnya tidak berhenti pada ruang kelas atau lembar ujian. Pengetahuan tersebut justru menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas dan membutuhkan perhatian. Sistem rangka yang sehat tidak hanya mendukung aktivitas fisik, tetapi juga menunjang kualitas belajar dan konsentrasi mahasiswa kesehatan yang dituntut selalu sigap.
Menurut saya, menjadi mahasiswa kesehatan membawa tanggung jawab ganda. Tidak hanya memahami tubuh manusia secara ilmiah, tetapi juga memberi contoh dalam menjaga kesehatan diri sendiri. Kesadaran terhadap sistem rangka adalah bagian dari upaya menghargai tubuh sebagai alat utama dalam proses belajar dan praktik keilmuan.
Pada akhirnya, sistem rangka mengajarkan saya satu hal sederhana: ilmu kesehatan bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diterapkan. Dengan menjaga kesehatan tulang sejak masih menjadi mahasiswa, kita sedang menyiapkan diri menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu merawat dirinya sendiri.



