JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan deras kembali mengguyur Jakarta pada Januari 2026, memicu banjir di berbagai wilayah ibu kota.
Genangan air tak hanya merendam permukiman bantaran sungai, tetapi juga kawasan padat penduduk yang sebelumnya dianggap relatif aman.
Di tengah kondisi itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali menjadi salah satu instrumen mitigasi yang diandalkan pemerintah untuk menekan risiko banjir.
Namun, seberapa efektif OMC menghadapi hujan ekstrem yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim?
Baca juga: Bom Waktu Banjir Jakarta: Pakar Ungkap Penyebab yang Terus Dibiarkan
OMC Diklaim Turunkan Curah Hujan hingga 60 PersenKetua Tim Kerja Teknik Operasi, Kedeputian Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Bayu Prayoga, menyebut OMC terbukti mampu mengurangi curah hujan, khususnya di Jabodetabek, sekitar 40–60 persen.
“Indikator keberhasilan OMC bukan hilangnya hujan total, tetapi penurunan intensitas dan frekuensi hujan lebat hingga ekstrem,” kata Bayu, Kamis (29/1/2026).
Bayu menegaskan hujan tetap terjadi selama OMC, namun dengan intensitas yang dikendalikan agar tidak masuk kategori ekstrem.
“Bukan berarti hujan berhenti, tapi tujuannya menurunkan jumlah hujan agar tidak ekstrem,” jelasnya.
Meski demikian, efektivitas OMC dipengaruhi kendala teknis dan operasional, seperti keterbatasan armada pesawat, timing pelaksanaan, serta jam operasional bandara yang menjadi homebase penerbangan.
“OMC berperan pada pengelolaan atmosfer, tapi secara saintifik terdapat batas kapasitas atmosfer yang bisa kita intervensi. Penanganan banjir tetap membutuhkan pengelolaan DAS dari hulu ke hilir dan mitigasi struktural di perkotaan,” tutur Bayu.
Baca juga: Pergeseran Pola Banjir Jakarta: Saat Banjir Tak Lagi Hanya “Kiriman”
Hujan Januari 2026 Tergolong EkstremKetua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan hujan ekstrem di Jakarta dipicu aktifnya Monsoon Asia, diperkuat fenomena Cold Surge dan Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS).
“Aliran udara basah dari Asia membentuk pola awan memanjang melalui ITCZ, memicu hujan lebat di Pulau Jawa termasuk Jakarta,” ujar Ida, Selasa (27/1/2026).
BMKG mengeluarkan peringatan dini melalui nowcasting 1–3 jam, disebarkan ke pemerintah daerah, stakeholder, dan masyarakat.
Deputi Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut curah hujan Dasarian II Januari 2026 jauh di atas normal:
- Kemayoran: 412,5 mm
- Tanjung Priok: 529,5 mm
- Cengkareng: 347,2 mm
“Ini merupakan catatan tertinggi sejak 1991. Hujan ekstrem harian tercatat pada 18 dan 23 Januari,” katanya.



