Uni Eropa telah menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) sebagai “organisasi teroris” menyusul tindakan keras mematikan terhadap gelombang unjuk rasa antipemerintah di negara tersebut.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan pada Kamis bahwa para menteri luar negeri negara-negara anggota UE telah mengambil langkah tegas dengan memberi label IRGC sebagai kelompok teroris.
“Penindasan tidak boleh dibiarkan tanpa jawaban,” tulis Kallas di media sosial dilansir Al Jazeera.
“Setiap rezim yang membunuh ribuan rakyatnya sendiri sedang menuju kehancurannya sendiri," lanjut Kallas.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keputusan tersebut, menyebut langkah itu “ilegal, politis, dan bertentangan dengan hukum internasional”, serta merupakan pelanggaran terhadap urusan dalam negeri Iran.
Teheran juga menyatakan “menyimpan hak untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam kerangka hukum internasional guna membela kedaulatan, keamanan nasional, dan kepentingan bangsa Iran, serta menuntut pertanggungjawaban Uni Eropa dan negara-negara anggotanya atas konsekuensi dari tindakan ini”.
Didirikan setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979, IRGC merupakan cabang elit militer Iran yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan mengawasi program rudal serta nuklir Iran.
Secara terpisah pada Kamis, Dewan Eropa juga mengumumkan sanksi baru terhadap 15 individu dan enam entitas yang disebut “bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang serius di Iran” setelah penindasan terhadap aksi protes tersebut.
Individu yang menjadi sasaran sanksi termasuk Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dan Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad, demikian pernyataan Dewan Eropa.
Iran menghadapi gelombang kecaman internasional karena menggunakan kekerasan untuk meredam gerakan protes massal yang dimulai akhir bulan lalu, dipicu kemarahan publik atas lonjakan inflasi dan persoalan sosial-ekonomi.
Otoritas Iran mengonfirmasi 3.117 kematian, termasuk 2.427 warga sipil dan anggota pasukan keamanan negara, serta menuduh Israel dan Amerika Serikat memicu kerusuhan tersebut.
Sementara itu, kantor berita berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyatakan pada Rabu bahwa sedikitnya 6.373 orang telah tewas sejak demonstrasi dimulai, termasuk 5.993 pengunjuk rasa.
Al Jazeera menyatakan tidak dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.



