Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mayoritas ditutup turun pada perdagangan Kamis (29/1), tertekan saham Microsoft yang anjlok setelah investor mencermati laporan kinerja keuangan terbaru perusahaan teknologi raksasa tersebut.
Indeks S&P 500 turun 0,13% dan ditutup ke level 6.969,01. Nasdaq Composite turun 0,72% ke level 23.685,12. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bergerak berlawanan arah dengan naik 0,11% atau bertambah 55,96 poin ke level 49.071,56.
Tekanan juga terasa di pasar aset digital. Harga bitcoin anjlok lebih dari 5% dan menyentuh level terendah dalam hampir dua bulan terakhir.
Saham Microsoft menjadi pemberat pergerakan indeks di Wall Street, setelah ambles sekitar 10%, mencatatkan penurunan harian terburuk sejak Maret 2020.
Penurunan ini terjadi setelah anggota Magnificent Seven melaporkan perlambatan pertumbuhan bisnis komputasi awan pada kuartal kedua. Microsoft juga memberikan panduan margin operasional yang lebih lemah untuk kuartal ketiga tahun fiskal.
Pelemahan harga saham Microsoft turut menyeret saham-saham sektor perangkat lunak lainnya. Kekhawatiran investor terkait potensi perkembangan AI mengganggu model bisnis perusahaan, meningkat.
“AI saat ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mendorong pertumbuhan dan belanja, sekaligus menjadi alasan di balik valuasi saham saat ini,” ujar Kepala Strategi Investasi Sage Advisory, Rob Williams, dikutip dari CNBC, Jumat (30/1).
Kendati demikian, dia mengatakan kini semakin banyak tanda tanya, sehingga semakin sulit bagi AI untuk terus menghadirkan kabar positif.
Saham ServiceNow terkoreksi sekitar 10% meskipun mencatatkan laba dan pendapatan kuartal keempat di atas ekspektasi pasar. Saham Oracle dan Salesforce masing-masing turun sekitar 2% dan 6%.
Tekanan di sektor ini tecermin pada kinerja iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV). ETF yang melacak saham-saham perangkat lunak tersebut jatuh ke wilayah bear market setelah merosot sekitar 5% dalam sehari. Penurunan itu membuat IGV berada hampir 22% di bawah level tertingginya dan berada di jalur penurunan harian terbesar sejak April tahun lalu.
Dengan hasil kinerja Microsoft yang mengecewakan, perhatian investor kini beralih ke Apple yang dijadwalkan merilis laporan keuangan setelah penutupan Kamis (29/1).
Williams menilai, seiring semakin sulitnya saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mendorong sentimen positif tanpa kinerja yang sangat kuat, diversifikasi akan menjadi kunci bagi investor ke depan.
“Laba perusahaan akan menjadi penopang utama imbal hasil pasar saham tahun ini, karena valuasi tidak lagi memiliki banyak ruang untuk berkontribusi,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham mencatatkan kinerja positif. Saham Meta Platforms melonjak lebih dari 10% setelah induk Facebook itu menyampaikan proyeksi penjualan kuartal pertama yang melampaui perkiraan.
Saham Caterpillar juga naik lebih dari 3% setelah perusahaan alat berat tersebut membukukan kinerja kuartal keempat yang jauh melampaui ekspektasi analis.
Dari sisi politik, ketidakpastian bagi investor Wall Street meningkat setelah Senat Amerika Serikat gagal meloloskan pemungutan suara prosedural terkait paket pendanaan pemerintah pada Kamis.
Kondisi itu meningkatkan risiko penutupan sebagian besar operasional pemerintah federal dalam waktu dekat. Penutupan diperkirakan mulai berlaku pada Sabtu pukul 00.01 waktu setempat (ET) jika parlemen tidak berhasil mengesahkan undang-undang pendanaan.


