Pemerintah perlu menambahan perguruan tinggi dan negara tujuan studi dalam program beasiswa LPDP, terutama jalur Perguruan Tinggi Utama Dunia atau PTUD. Selain memperkaya perspektif keilmuan dari beragam negara, hal tersebut dapat menjadi peluang diplomasi baru bagi Indonesia.
Setiap tahun, ribuan talenta unggul Indonesia berhasil melanjutkan jenjang pendidikan berkat dukungan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tidak hanya terbatas di dalam negeri, para putra-putri bangsa ini dapat menempuh studi di kampus-kampus unggulan luar negeri.
Diperuntukkan bagi jenjang studi master, doktor, dan dokter spesialis, beasiswa LPDP bertujuan untuk membantun sumber daya manusia yang unggul sehingga dapat berkontribusi dalam bidang masing-masing di Indonesia. Maka itu, beasiswa LPDP ini bak investasi strategis bagi masa depan SDM unggul Indonesia.
Meski tampaknya baru populer beberapa tahun terakhir, program ini sudah dimulai sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2010. Lembaga LPDP sendiri berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang melakukan pengelolaan dana abadi pendidikan melalui program beasiswa dan pendanaan riset.
Seiring dengan meningkatnya pamor beasiswa ini, jumlah dana abadi yang diperuntukkan bagi LPDP terus bertambah. Pada tahun 2010, alokasi dana dari APBN untuk LPDP masih berkisar Rp 1 triliun. 15 tahun berselang, yakni pada 30 November 2025, dana abadi LPDP naik berlipat-lipat hingga mencapai Rp 154,11 triliun. Dengan dana ini, setidaknya sudah ada 54.149 orang penerima beasiswa LPDP sepanjang 2013-2014.
Dalam perjalanannya, LPDP juga terus berkembang. Seperti pada tahun 2025, pengelola LPDP melakukan penyesuaian skema LPDP agar sejalan dengan tujuan Indonesia Emas 2045 dan Asta Cita. Penyesuaian tersebut di antaranya berupa penambahan perguruan tinggi tujuan studi, baik di dalam negeri ataupun luar negeri. Perubahan fokus bidang studi sesuai agenda strategis pemerintah, dan perluasan kampus-kampus dan negara tujuan studi.
Bertambahnya pilihan universitas dan negara tujuan studi itu patut diapresiasi. Sebab, dengan keberadaan mahasiswa penerima beasiswa LPDP di negara-negara tersebut diplomasi melalui pendekatan soft-power meluas. Jejaring diaspora di kancah globalpun semakin kuat. Selain itu, para penerima beasiswa LPDP yang menempuh studi di beragam negara itu dapat menimba ilmu dengan sistem studi yang berbeda-beda. Dengan itu, mereka dapat membawa perspektif berbeda dalam mengatasi permasalahan negeri.
Dominasi tiga negara
Penyesuaian perguruan tinggi dan negara tujuan studi ini perlu dilakukan mengingat negara tujuan studi pilihan penerima beasiswa LPDP didominasi oleh Australia, Amerika, dan Inggris. Dari universitas di ketiga negara itu, Universitas Melbourne menduduki peringkat pertama untuk tujuan LPDP luar negeri, yakni mencapai 1.391 orang. Pada posisi berikutnya terdapat University College London (UCL); Universitas Wageningen, Universitas Monash, Universitas Manchester, Universitas Edinburgh, dan Universitas Columbia.
Menurut Direktur Investasi LPDP, Muhammad Oriza dalam agenda Sosialisasi Beasiswa LPDP Tahap 2 Tahun 2025 di Nusa Tenggara Timur pada Juli 2025 lalu, universitas di ketiga negara tersebut sudah “saturated” atau jenuh karena terlalu banyak orang Indonesia yang mengenyam studi di sana.
Kondisi tersebut memang tidak terlepas dari tingkat penerimaan kampus (acceptance rate) yang relatif rendah karena seleksi ketat. Hal ini menandakan perguruan tinggi tersebut tidak sembarangan memilih calon mahasiswa yang layak menempuh studi di kampus itu. Keberadaan komunitas atau perhimpunan pelajar Indonesia yang kuat di ketiga negara tersebut juga menjadi pertimbangan penting bagi calon mahasiswa. Selain itu, dengan bahasa sehari-hari yaitu bahasa Inggris, mahasiswa Indonesia merasa relatif lebih adaptif dibandingkan negara lain yang menggunakan bahasa nasional mereka sendiri.
Ditambah lagi, negara-negara itu memiliki pamor tersendiri di dunia pendidikan. Contohnya, di Amerika Serikat, Universitas Columbia yang menjadi incaran anak-anak LPDP luar negeri merupakan salah satu dari delapan kampus Amerika Serikat yang masuk dalam kategori “ivy league”, yaitu perguruan tinggi bergengsi dan kelas dunia. Secara peringkat, Universitas Columbia menduduki posisi ke-38 dunia menurut penilaian QS World University Ranking 2026.
Sejumlah perguruan tinggi unggulan di ketiga negara tersebut juga mendominasi di program seleksi beasiswa LPDP jalur Perguruan Tinggi Utama Dunia (PTUD). Program PTUD merupakan jalur seleksi beasiswa LPDP dengan daftar kampus luar negeri yang tergolong memiliki peringkat tinggi di jajaran perguruan tinggi dunia.
Skema seleksi jalur PTUD itu juga relatif berbeda dibandingkan jalur reguler. Melalui jalur PTUD, peserta seleksi beasiswa wajib memiliki Letter of Acceptance (LoA) atau surat keterangan diterima di universitas yang masuk daftar PTUD. Baru setelah itu mereka harus melewati tes substansi.
Cukup banyak peserta seleksi LPDP yang mengincar jalur PTUD. Sebagian merasa tingkat persaingan seleksi beasiswa relatif lebih rendah dibanding jalur reguler. Sebab, untuk mendapatkan LoA dari kampus yang termasuk dalam daftar PTUD cukup sulit sehingga tidak banyak yang mendapatkannya. Otomatis peserta yang dapat mendaftar jalur PTUD relatif lebih sedikit dibandingkan jalur reguler.
Hanya saja, dengan dominasi Amerika Serikat dan Inggris di daftar kampus PTUD berdampak pada banyaknya peserta seleksi LPDP yang mengincar perguruan tinggi di kedua negara itu. Hal ini menjadi kontras dengan penyesuaian kampus dan negara tujuan studi yang sudah dilakukan LPDP sejak tahun lalu. Penambahan kampus dan negara tujuan studi yang baru banyak dilakukan di jalur reguler dan kemitraan khusus dengan total 181 perguruan tinggi di sejumlah negara. Sementara itu, untuk jalur PTUD, lagi-lagi AS dan Inggris yang mendominasi.
Padahal, negara-negara lain juga memiliki rekam jejak akademik yang luar biasa. Misalnya, China yang banyak kampus-kampusnya menempati jajaran peringkat top 50 dunia, seperti Universitas Tsinghua, Universitas Peking, Universitas Fudan. Tidak hanya memiliki ranking tinggi, kampus-kampus itu juga unggul dalam bidang sains, AI, teknik, teknologi, maupun rumpun ilmu sosial yang selaras dengan agenda strategis nasional. Sayangnya, dari sekian banyak universitas di China yang memiliki rangking tinggi, hanya Universitas Tsinghua yang masuk dalam daftar PTUD.
Tidak hanya China, negara-negara lain yang kurang diminati oleh para penerima LPDP seperti negara skandinavia seperti Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Denmark juga memiliki kualitas pendidikan yang mumpuni. Dari tahun ke tahun, negara-negara ini selalu mendapatkan penilaian baik dari segi demokrasi, riset berbasis STEM, farmasi, bioteknologi, dan energi.
Bahkan, Swedia menjadi rumah bagi kelahiran penghargaan bergengsi, yaitu Nobel. Selain itu, Swedia termasuk 10 negara peraih Nobel terbanyak dengan 34 orang. Norwegia dan Denmark juga tak kalah dengan masing-masing 14 nobel laureate.
Berbagai keunggulan kualitas pendidikan dan biaya pada perguruan tinggi di sejumlah negara selain AS, Inggris, dan Australia dapat dipertimbangkan untuk menata sebaran kampus di jalur seleksi PTUD. Bertambahnya daftar kampus dan negara tujuan studi program PTUD dapat menarik minat calon penerima beasiswa LPDP untuk menyasar negara-negara “antimainstream” untuk menjadi tujuan studinya kelak.
Di sisi pendidikan, ilmu-ilmu yang didapatkan dari beragam negara ini dapat memperkaya perspektif wawasan dan kontribusi bagi Indonesia. Di sisi pembiayaan, pendanaan penerima beasiswa menjadi lebih efisien dengan biaya pendidikan yang lebih ringan di sejumlah universitas di negara-negara yang minim peminat itu. Ditambah lagi, jejaring diaspora Indonesia akan semakin luas.
Penambahan daftar kampus dan negara tujuan studi di PTUD juga perlu didasarkan pada kesamaan karakteristik geografis, jurusan terbaik yang ditawarkan, dan riset-riset unggulan bukan hanya sekadar peringkat dunia. Hal ini dapat diwujudkan dengan membagi PTUD dalam setiap kawasan, misalnya kawasan Asia Timur, Amerika Utara, Eropa Utara, maupun Eropa Barat.
Pemerintah juga dapat memberikan insentif untuk para penerima LPDP di sejumlah kampus anti-mainstream. Contohnya, untuk para penerima LPDP di China, Jerman, Norwegia, Swiss, Jepang, Korea, dan beberapa negara non-bahasa Inggris untuk mendapatkan tambahan dukungan atau pengembangan dana bahasa.
Harapannya, melalui insentif yang diberikan, maka distribusi kampus-kampus tujuan LPDP luar negeri menjadi lebih merata. Penataan kampus tujuan LPDP luar negeri perlu dilakukan untuk memastikan setiap penerima beasiswa mampu mendapatkan pengalaman dan pendidikan terbaik di setiap bidang yang ditawarkan oleh masing-masing negara.
Dalam jangka panjang, perluasan sebaran negara tujuan para penerima LPDP turut diharapkan dapat mereplikasi best practices kebijakan setiap negara di lokasi studi sekaligus meningkatkan hubungan diplomasi bagi Indonesia. (LITBANG KOMPAS)





