Lonjakan percobaan bunuh diri pada remaja Indonesia menjadi alarm serius atas rapuhnya kesehatan jiwa kelompok usia muda. Percobaan bunuh diri siswa usia 13–17 tahun meningkat hampir tiga kali lipat pada 2023 dibandingkan 2015 dengan angka lebih tinggi pada remaja perempuan.
Skrining nasional menemukan gejala depresi dan kecemasan paling banyak muncul pada usia sekolah dan remaja. Kerentanan ini dipicu oleh belum matangnya pengelolaan emosi, tekanan sosial dan akademik, paparan media digital, serta renggangnya komunikasi antara remaja dengan orangtua dan guru sehingga banyak masalah luput terdeteksi sejak dini.
Di sisi lain, kelelahan mental kerap hadir secara sunyi dan dinormalisasi sebagai bagian dari keseharian. Burnout yang ditandai dengan gangguan tidur, penurunan motivasi, rasa hampa, hingga kesepian, seringkali diabaikan sampai berkembang menjadi gangguan kesehatan jiwa yang lebih berat.
Tekanan hidup yang kompleks—mulai dari tuntutan produktivitas, ekspektasi sosial, hingga ketidakpastian masa depan—membuat banyak orang, termasuk remaja, “bertahan” tanpa benar-benar pulih. Kurangnya ruang aman untuk bercerita memperburuk kondisi ini.
- Mengapa angka percobaan bunuh diri pada remaja Indonesia meningkat tajam beberapa tahun terakhir?
- Faktor apa saja yang membuat remaja rentan mengalami kelelahan mental dan gangguan jiwa?
- Mengapa remaja sering kesulitan mengenali dan mengungkapkan masalah kesehatan jiwanya?
- Bagaimana tekanan standar keberhasilan hidup berkontribusi pada rapuhnya kesehatan jiwa remaja?
Data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2023 menunjukkan lonjakan signifikan percobaan bunuh diri pada siswa usia 13–17 tahun, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Kenaikan hampir tiga kali lipat ini menjadi indikator kuat meningkatnya kerentanan kesehatan jiwa remaja.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa remaja berada dalam fase perkembangan emosi belum stabil, sedangkan tekanan akademik, sosial, dan ekspektasi lingkungan terus meningkat. Ketidaksiapan mental ini membuat sebagian remaja kesulitan mengelola stres dan emosi negatif.
Selain itu kesehatan jiwa remaja pelajar disebut masih sering diabaikan. Banyak tanda awal gangguan mental—seperti perasaan putus asa, kecemasan berlebih, atau kelelahan emosional—tidak terdeteksi dan tidak tertangani sejak dini.
Selain itu faktor pemicu masalah kesehatan jiwa bisa berbeda-beda di setiap usia. Pada usia remaja, biasanya tidak banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Meski tidak dimungkiri, ada juga anak-anak yang memiliki beban ekonomi karena faktor kondisi keluarga.
Penggunaan media sosial justru ditengarai turut memicu masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Media sosial seperti pedang bermata dua. Di satu sisi dapat bermanfaat untuk mendekatkan berbagai hal dalam satu genggaman tetapi di lain sisi juga dapat menjauhkan hal-hal yang sebenarnya berada di dekat orang tersebut.
Tekanan yang dihadapi remaja tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dari tuntutan sosial yang menuntut mereka untuk terus “baik-baik saja”. Kelelahan mental kerap diawali dari kondisi burnout yang sering disalahartikan sebagai sekadar lelah biasa.
Burnout ditandai dengan menurunnya fokus, gangguan tidur, dan hilangnya semangat, namun tanda-tanda ini kerap diabaikan. Pada remaja, kondisi ini bisa diperparah oleh minimnya ruang aman untuk bercerita dan mengungkapkan emosi.
Ketika tekanan terus menumpuk tanpa pelepasan, remaja berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri, sebagaimana tercermin dalam meningkatnya angka percobaan bunuh diri.
Pada usia produktif, masalah pekerjaan umumnya menjadi masalah utama yang dapat memicu gangguan kesehatan jiwa. Selain beban kerja berlebihan, ketidakpastian ekonomi memerparah tekanan psikologis usia produktif. Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi sumber stres yang signifikan.
Salah satu persoalan utama adalah kecenderungan masyarakat, termasuk remaja sendiri, untuk menormalisasi kelelahan mental. Banyak orang baru menyadari kondisi jiwanya bermasalah ketika sudah berada di titik krisis.
Remaja juga tumbuh dalam budaya yang menilai keberhasilan secara sempit, sehingga perasaan gagal, lemah, atau tidak mampu sering dipendam. Akibatnya, mereka kesulitan mengidentifikasi emosi negatif sebagai sesuatu yang wajar dan perlu dibantu.
Minimnya literasi kesehatan jiwa membuat remaja tidak selalu tahu kapan harus mencari bantuan atau kepada siapa mereka bisa bercerita, sehingga masalah mental berkembang tanpa penanganan.
Saat tekanan hidup semakin bertumpuk, beban psikologis akan semakin nyata dirasakan. Itu sebabnya, kita pun mesti sadar ketika sudah tidak lagi mampu menghadapi tekanan psikologis yang dialami.
Seiring bertambahnya usia, keberhasilan semakin diukur dari pencapaian besar, sedangkan keberhasilan kecil dianggap tidak bermakna. Pola pikir ini turut memengaruhi remaja.
Remaja kemudian merasa harus terus mencapai standar tertentu agar dianggap berhasil, tanpa ruang untuk mengapresiasi proses dan kemajuan kecil. Ketika tidak mampu memenuhi standar itu, muncul rasa tidak cukup baik dan beban mental yang berat.
Pada akhirnya, beban mental tersebut menjadi luka psikologis, perasaan tidak nyaman yang bersifat berlebihan hingga mengganggu aktivitas keseharian. Luka ini muncul akibat kejadian yang berat atau akibat kondisi krisis diri.
Kebiasaan merayakan hal-hal kecil dan mensyukuri kemajuan sederhana dapat membantu menjaga kesehatan jiwa. Ketiadaan kebiasaan ini membuat tekanan psikologis remaja semakin menumpuk dan sulit dilepaskan.



