Usaha Itu Tetap Diperlukan

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang pria di Kairo yang siang dan malam hanya memikirkan satu hal: menjadi kaya. Apa yang dia pikirkan di siang hari, muncul pula dalam mimpinya di malam hari.

Suatu malam, dia bermimpi melihat seseorang muncul dari dalam air. Tubuh orang itu basah kuyup. Begitu membuka mulutnya, dia memuntahkan sebuah koin emas, lalu berkata kepada orang Kairo itu: “Apakah kamu ingin menjadi kaya? Ada ribuan bahkan puluhan ribu koin emas yang sedang menunggumu.”

Orang Kairo itu langsung gelisah dan bertanya dengan penuh semangat : “Di mana? Di mana itu? Tentu saja aku ingin kaya! Aku sudah memikirkannya sampai hampir gila!”

“Baik, jika kamu ingin menjadi kaya, pergilah ke Isfahan. Hanya di sanalah kamu bisa menemukan emas itu,” kata orang yang memuntahkan koin emas itu.

Setelah berkata demikian, sosok itu pun menghilang. Orang Kairo terbangun. Dia berguling ke kanan dan kiri, tak bisa tidur lagi.

“Ya Tuhan… Isfahan itu jauh sekali, di Persia,” pikirnya. “Haruskah aku pergi atau tidak? Jika pergi, aku harus menyeberangi Semenanjung Arab, melewati Teluk Persia, lalu mendaki Pegunungan Zagros untuk sampai ke kota di puncak gunung itu. Aku bisa saja mati di tengah jalan. Tapi jika aku tidak pergi, mungkin seumur hidup aku tak akan pernah menjadi kaya.”

Pergi belum tentu membuatnya kaya—siapa yang bisa sepenuhnya percaya pada mimpi? Namun tidak pergi, pasti akan meninggalkan penyesalan seumur hidup.

Setelah beberapa hari bergulat dengan batinnya, orang Kairo itu akhirnya memutuskan untuk mengambil risiko. Dia pun berangkat seorang diri.

Menempuh ribuan kilometer, melintasi gunung dan sungai, menghadapi berbagai kesulitan dan bahaya, akhirnya dia tiba dengan tubuh letih dan penuh debu di Isfahan, kota yang dikenal sebagai “kota di puncak gunung”.

Namun, kenyataan yang dia temui sungguh di luar dugaan.

Isfahan ternyata bukan negeri yang makmur. Bahkan, saat itu kota tersebut sedang dilanda perampokan. Semua barang berharga yang dibawa orang Kairo itu dirampas oleh para perampok.

Untungnya, pasukan penjaga setempat segera datang, mengusir para perampok, dan menyelamatkan orang Kairo yang sudah sekarat. Mereka memberinya makanan dan air hingga nyawanya tertolong.

“Dari penampilan dan logat bicaramu, kamu bukan orang sini,” kata komandan penjaga.

“Aku datang dari Kairo,” jawabnya lemah.

“Apa? Kairo?” Komandan itu terkejut. “Kamu datang dari kota yang begitu jauh dan begitu kaya, hanya untuk datang ke Isfahan yang tandus ini? Ada urusan apa?”

Orang Kairo itu menjawab jujur :  “Karena aku bermimpi mendapat petunjuk dari Tuhan. Katanya, jika aku datang ke sini, aku akan menemukan ribuan koin emas.”

Mendengar itu, sang komandan tertawa terbahak-bahak :  “Hahaha! Lucu sekali! Aku juga sering bermimpi. Dalam mimpiku, aku punya rumah di Kairo, di belakangnya ada tujuh pohon ara dan sebuah jam matahari. Di samping jam matahari itu ada kolam, dan di dasar kolamnya tersembunyi banyak koin emas. Omong kosong! Cepat pulang ke Kairo-mu. Jangan datang ke Isfahan hanya untuk membicarakan mimpi!”

Dengan pakaian compang-camping dan tangan kosong, orang Kairo itu kembali ke rumahnya. Para tetangga melihat keadaannya dan menertawakannya, mengira dia sudah gila.

Namun, hanya dalam beberapa hari, dia berubah menjadi orang terkaya di Kairo.

Sebab apa yang dikatakan sang komandan penjaga—tujuh pohon ara dan kolam air—ternyata benar-benar ada di halaman belakang rumahnya sendiri.

Dia menggali dasar kolam itu, dan menemukan ribuan koin emas.

Apakah perjalanan orang Kairo ke Isfahan itu sia-sia?

Tentu saja tidak.

Meski emas itu sejak awal berada di rumahnya sendiri, tanpa perjalanan itu, dia takkan pernah tahu.

Bukankah hidup kita juga seperti ini?

Kita sering mendengar orangtua berkata,: “Hidup ini sebenarnya singkat. Sekejap mata sudah berlalu.”

Namun, apakah karena suatu hari kita pasti akan mati, lalu sejak muda kita tidak perlu berusaha?

Apakah karena suatu hari kita akan memahami segalanya, maka kita boleh diam saja di “Kairo” dan tidak perlu pergi ke “Isfahan”?

Tanpa musim semi yang menumbuhkan tunas, tanpa musim panas yang membuat segalanya berkembang, bagaimana mungkin ada panen di musim gugur?

Tanpa perjalanan hidup yang penuh kerja keras dan pengalaman, bagaimana mungkin kita memperoleh pencerahan hidup?

Seperti halnya tanpa kata-kata sang komandan penjaga, bagaimana orang Kairo bisa tahu bahwa kekayaan itu ternyata berada di halaman belakang rumahnya sendiri?

Benar adanya pepatah: “Mencarinya di tengah ribuan orang, tiba-tiba saat menoleh ke belakang, dia berada di tempat yang remang oleh cahaya lampu.”

Suatu hari nanti, kita akan menyadari bahwa kebenaran sejatinya tidak jauh dari diri kita—dia selalu ada di sekitar kita. Dan kita pun akan tersadar bahwa apa yang dikejar seumur hidup ini, sering kali hanyalah sebuah bayangan semu.

Hikmah Cerita

Setiap peristiwa yang kita alami dalam hidup terus menumpuk menjadi pengalaman dan kebijaksanaan.

Cerita ini memberi Erabaru sebuah pelajaran mendalam: meskipun kebahagiaan sebenarnya berada sangat dekat dengan kita, tanpa pernah berjuang mencarinya, kita tidak akan benar-benar memahami rasanya bahagia.

Manusia justru karena pernah menangis, barulah mengerti betapa indah dan berharganya sebuah senyuman. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Bertekad Jadi Pemain Kunci Global di Sektor Emas
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pleno PBNU: Posisi Gus Yahya Dipulihkan, Jabat Ketum Definitif Lagi
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Selamat Tinggal Liga Champions, Ini 12 Tim yang Pulang Gugur
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Sempat Dibuat Kesulitan Kirgistan, Hector Souto Bongkar Kunci Kebangkitan Timnas Futsal Indonesia
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Pesan Onad setelah Bebas dari Rehabilitasi Narkoba, Jangan Bodoh
• 6 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.