Merapatnya hampir seluruh Armada Amerika (AS) yang dimotori Armada V CENTCOM ke Teluk Persia, bukan sekadar langkah strategis biasa. Dari perspektif geopolitik, itu adalah pamer kekuatan, shock and awe. Suatu penampilan yang lebih mirip gertak sambal secara fisik daripada ancaman nyata. Armada tempur, kapal induk, kapal perusak, dan jet tempur bersiaga. Realitasnya tidak begitu. Sejarah dan kekuatan pihak lawan (Iran) menunjukkan bahwa situasi jauh lebih kompleks.
Yuk kita lihat:
Pelajaran dari SejarahAS pernah menghadapi Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Di Afghan, Taliban yang serba terbatas baik personel maupun persenjataan melawan total, meski AS bersama koalisi NATO dan ISAF didukung mesin perang canggih. Hasilnya? Dua dekade konflik yang melelahkan, biaya triliunan dolar. Untuk memerangi Irak—Stiglitz menulis sebagai perang USD 3 triliun. Sementara Taliban tetap bertahan serta menguasai sebagian besar wilayah. Setelah 20 tahun, AS dan sekutu pun angkat kaki. Media Barat pun kemudian menebar berita buruk pemerintahan Taliban.
Dalam konteks itu, pertanyaannya jelas. Apakah AS akan lebih mudah menghadapi Iran—sendirian, tanpa NATO, tanpa ISAF?
Jawaban berbasis sejarah, kemungkinan besar: TIDAK. Iran bukan Taliban. Mereka memiliki struktur militer terorganisasi, persenjata modern dan canggih, dan jaringan pertahanan yang teruji dalam peperangan.
Kekuatan IranSecara historis dan kronologis, Iran adalah penerus imperium Persia yang berabad-abad menjadi kekuatan regional. Saat ini, Iran memiliki:
Angkatan darat dan laut modern, termasuk rudal balistik presisi dan sistem pertahanan pantai yang kuat.
Program rudal strategis yang mampu menembus wilayah regional, antarbenua, dan sangat mudah menjangkau pangkalan militer AS di Teluk.
Ia juga punya pasukan proksi milisi bersenjata di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman yang bisa meluncurkan serangan baik simetris maupun asimetris.
Sumber daya energi berupa cadangan minyak terbesar ke-4 di dunia, gas terbesar ke-2, yang memberi leverage geopolitik.
Hal ini, membuat Iran jauh lebih sulit dihadapi secara frontal dibanding Taliban yang konvensional, atau Saddam Hussein yang relatif terisolasi.
Realitas GeopolitikTeluk Persia adalah arteri energi global. Hampir sepertiga minyak dunia melewati perairan tersebut (Selat Hormuz punya Iran). Serangan terbuka terhadap Iran akan mengguncang pasar energi global, memicu inflasi berantai, instabilitas global dan niscaya melibatkan negara-negara regional seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki—yang mungkin ikut memihak, wait and see, atau memanfaatkan situasi.
Dalam logika geopolitik, langkah AS harus mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dan politik global, bukan hanya superioritas militer nominal.
Gertak vs RealitasLangkah mengerahkan seluruh Armada V ke Teluk Persia sejatinya hanya simbol kekuatan, bukan indikator kesiapan menyerang. Ini adalah cara AS menunjukkan dominasi serta menekan Iran secara diplomatik, tanpa benar-benar mengambil risiko perang secara penuh. Dengan kata lain, itu strategi psikologis, bukan operasional. Menguji batas kesabaran Iran. Mengirim sinyal ke sekutu regional. Menegaskan posisi global AS di mata dunia.
Namun, jika dihitung secara objektif, kemungkinan keberhasilan serangan konvensional terhadap Iran secara unilateral sangat rendah, sementara konsekuensi eskalasi regional dan global sangat tinggi.
KesimpulanApa yang terlihat di Teluk Persia hari-hari ini, bukanlah kesiapan perang mutlak, melainkan ilusi dominasi Amerika di Persia. Sejarah dan fakta geopolitik mengingatkan bahwa kekuatan militer hanyalah satu sisi dari pertarungan global. Iran memiliki keunggulan strategis, teknologi rudal, jaringan proksi, dan leverage energi yang membuat mereka bukan sekadar “target” yang mudah.
Gertak AS adalah nyata. Tapi, mengintip dari kacamata geopolitik—ini lebih mirip teater kekuatan daripada perang yang nyata. Apalagi Inggris Raya sudah merapat ke China menjalin kerja sama plus hubungan AS dengan NATO yang kian retak.
Teluk Persia hari ini adalah panggung politik, bukan medan pertempuran konvensional. Dan bangsa-bangsa yang menonton, termasuk Indonesia atau negara lain yang bergantung pada stabilitas energi global, harus membaca pertunjukan ini dengan mata terbuka. Dan agaknya, AS sedang menyuguhkan ketegangan belaka, bukan upaya kemenangan. Bahkan, sekadar untuk mengendalikan Iran pun tampak jauh panggang dari api.
Kalau dalam bahasa sastra, apa yang kini tengah berlangsung di Teluk Persia kini adalah "perang kata-kata". Tak lebih.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488063/original/082896200_1769702639-Maruarar_Sirait.jpg)


