Biaya layanan kesehatan diperkirakan masih akan menanjak pada tahun ini. Laporan Willis Towers Watson (WTW) memproyeksikan inflasi medis di Indonesia mencapai sekitar 15%, lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Pasifik sebesar 14%.
Kenaikan tersebut menjadi tantangan bagi individu maupun pelaku usaha dalam mengelola risiko pengeluaran kesehatan. Perusahaan, khususnya, perlu menjaga keberlanjutan program kesehatan karyawan tanpa memberi tekanan berlebih pada arus kas.
PT Sompo Insurance Indonesia menilai tren kenaikan biaya medis mendorong peningkatan kebutuhan terhadap perlindungan kesehatan yang lebih komprehensif. Chief Health Officer Sompo Insurance Dolly Ritonga mengatakan, masyarakat kini semakin menyadari pentingnya proteksi kesehatan yang berkelanjutan di tengah kompleksitas kebutuhan layanan medis.
“Kami tentu berkomitmen menghadirkan produk yang tidak hanya memberikan perlindungan finansial, tetapi juga memudahkan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas,” ujar Dolly dalam keterangan resmi dikutip Jumat (30/1).
Sompo saat ini menawarkan solusi asuransi kesehatan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan skala bisnis melalui produk Sompo HealthCare+,mulai dari perusahaan besar hingga usaha mikro, kecil, dan menengah. Perseroan memposisikan asuransi kesehatan sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko dan perencanaan jangka panjang perusahaan.
Sompo HealthCare+ dirancang untuk melengkapi manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan. Hingga akhir 2025, Sompo Insurance melayani lebih dari 300 perusahaan dan UMKM dalam lini asuransi kesehatan. Di tengah proyeksi inflasi medis yang masih tinggi, perseroan optimistis pertumbuhan bisnis asuransi kesehatan akan berlanjut pada 2026.


