Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) atau BTN memamerkan sejumlah terobosan teknologi properti guna menjawab tantangan sektor hunian nasional dalam gelaran BTN Expo 2026.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah platform digital yang memfasilitasi skema kepemilikan rumah secara bertahap atau rent to own.
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan bahwa fokus utama inovasi tahun ini mencakup aspek keberlanjutan, efisiensi material, hingga kemudahan akses pembiayaan.
“Kami mengumpulkan startup-startup di bidang perumahan, mulai dari property technology (proptech), produsen material bangunan yang mengandung unsur sustainability, desain rumah rendah emisi atau rumah hijau, dan lain-lain,” ujar Setiyo di sela-sela BTN Expo 2026 di Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Setiyo menyebut terdapat 58 inovator terpilih dari total 8.000 pendaftar ajang BTN Housingpreneur 2025 yang melakukan showcase dalam pameran tersebut. Perseroan mencari mitra baru yang memiliki ide segar untuk kemudian dilakukan peningkatan skala bisnis (scale up) guna memperkuat ekosistem perumahan BTN yang masif.
Aplikasi Ontoown asal Bandung menjadi salah satu yang diperkenalkan. Platform ini menawarkan skema rent-to-own atau sewa-beli yang ditujukan bagi generasi Z dan masyarakat berpenghasilan terbatas yang kerap terbentur masalah riwayat kredit (credit history) serta ketiadaan uang muka (DP) KPR.
Baca Juga
- BTN Ekspansi Ekosistem Terintegrasi, Bukan Hanya Properti
- Punya Aksi Korporasi, Begini Target Harga Saham BTN (BBTN)
- Diversifikasi Investasi jadi Strategi Dapen BTN Saat Pasar Bergolak
Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna membangun kepemilikan rumah secara gradual melalui sistem sewa bulanan. Melalui skema ini, penyewa dapat mengumpulkan dana secara bertahap hingga mencapai nominal yang cukup untuk membayar uang muka KPR, sembari menempati aset hunian yang sebelumnya menganggur.
Selain akses pembiayaan, pameran ini menampilkan inovasi material bangunan ramah lingkungan seperti produk Oriplast dari Parongpong Raw Lab. Produk ini mengolah limbah residual non-plastik, seperti karung semen dan jaring nelayan, menjadi material pengganti kayu guna menekan laju deforestasi dan biaya konstruksi.
Inovasi teknologi juga menyasar mitigasi risiko bencana melalui Geoflood AI. Startup asal Palembang ini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memetakan risiko banjir dan kondisi lahan sejak tahap perencanaan, sehingga pengembang dapat menyesuaikan desain hunian dengan karakteristik risiko iklim di wilayah tersebut.
"Kami menggandeng talenta-talenta muda untuk membangun teknologi dan entrepreneurship di bidang perumahan, karena ekosistem perumahan selalu membutuhkan ide-ide baru. Sebagai bank yang punya ekosistem perumahan paling besar, kami mencari mitra-mitra baru yang dapat diajak berkolaborasi untuk bisa di-scale up,” pungkasnya.


