Ekosistem Baterai Antam-IBC dan Konsorsium Huayou Groundbreaking Semester I 2026

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek ekosistem baterai terintegrasi antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt akan mulai konstruksi (groundbreaking) pada semester I 2026.

Antam, IBC atau Industri Baterai Indonesia (IBI), dan HYD Investment Limited menandatangani kerangka kerja sama (Framework Agreement) pada Jumat (30/1), terkait proyek ekosistem baterai di Indonesia.

HYD merupakan konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.

Proyek ini rencananya akan groundbreaking pada semester I 2026, menyusul proyek serupa yakni Proyek Dragon milik Antam dan IBC yang berkongsi dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) yang sudah lebih dulu dimulai sejak Juni 2025 lalu.

"Insyaallah, tahun ini juga kita melakukan groundbreaking, dalam arahan Bapak Presiden, bisa kita lakukan semester I kalau sudah selesai persiapannya, kemudian kita lakukan," ungkapnya kepada awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1).

Bahlil mengatakan, HYD merupakan pengganti konsorsium Energy Solution (LGES) yang memutuskan hengkang dari proyek yang biasa disebut Proyek Titan itu pada awal tahun 2025.

"Dulu kan LG, tapi kemudian LG-nya karena dia tidak terlalu cepat, maka kita ambil partner yang baru, dan hari ini kita tandatangani perjanjiannya, ini dia akan membangun procursor, cathode, battery cell, dari hulu ke hilir," jelasnya.

Proyek ini mencakup bagian hulu pertambangan nikel beserta smelter HPAL, pabrik prekursor dan katoda akan dibangun di Halmahera Timur (Haltim), serta bagian hilir yakni pabrik battery cell untuk kendaraan listrik dan panel surya di Karawang, Jawa Barat.

Adapun rencana kapasitas produksi baterai listrik ini mencapai 20 Giga Watt hour (GWh), diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Estimasi nilai investasi proyek ini mencapai USD 6 miliar, dengan potensi penciptaan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru.

Bahlil menyebutkan, proyek ini juga menjadi kelanjutan dari pabrik baterai yang sudah dikembangkan join venture (JV) LGES bersama Hyundai Motor Group di Karawang, yakni PT HLI Green Power dengan kapasitas 10 GWh.

"Program ini nilai investasinya USD 6 miliar. Sebenarnya ini merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah dibangun, 10 giga pertama pada tahun 2023, yang sekarang sudah beroperasi," jelas Bahlil.

Proyek ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga mendukung pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program PLTS 100 GW.

Bahlil juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan daerah dalam membangun ekosistem baterai direncanakan melibatkan pihak-pihak setempat, seperti mitra di Jawa Barat dan pengembangan tambang, smelter, serta pabrik hilirisasi yang akan dibangun di Maluku Utara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ketum PP Muhammadiyah Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian: Bertentangan dengan Roh Reformasi 1998
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Pisah Chelsea karena Diasingkan, Raheem Sterling Bilang 7 Klub Besar Berebut Mengontraknya
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Seorang Lansia Tewas Saat Kebakaran Lahap Rumah di Tanjung Barat
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Komisi V DPR RI Minta Tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar Diturunkan
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Kapolres Sleman Dinonaktifkan Buntut Kasus Hogi Minaya
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.