IBC Targetkan jadi Penguasaan Teknologi Baterai Nasional

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia (IBI) menegaskan arah baru pengembangan industri baterai nasional yang tak lagi berhenti pada hilirisasi bahan mentah, tetapi juga menargetkan penguasaan teknologi produksi baterai di dalam negeri. 

Komitmen tersebut ditegaskan setelah IBI menandatangani Framework Agreement bersama PT Antam Tbk dan konsorsium Huayou yang mencakup Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, dan EVE Energy Co,. Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. 

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif mengatakan kerja sama ini untuk memastikan kelanjutan proyek Titan yang kini digarap bersama konsorsium Huayou, setelah LG Energy Solution (LGES) hengkang. 

“Kami tentu akan terus melanjutkan itu karena IBC memang mengemban misi untuk hilirisasi ke arah baterai,” kata Aditya kepada wartawan, Jumat (30/1/2026). 

Aditya menyebut sejak awal IBC memang dibentuk untuk mendorong hilirisasi industri baterai, dan kerja sama terbaru ini merupakan bagian dari kesinambungan misi tersebut. 

Namun, IBC mulai menekankan pentingnya kemandirian teknologi, bukan sekadar menjadi mitra dalam rantai pasok global. Kerja sama dengan mitra asing harus menjadi sarana transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas nasional. 

Baca Juga

  • Proyek Ekosistem Baterai Listrik Antam-IBI-HYD Groundbreaking Semester I/2026
  • Bahlil: Proyek Baterai Konsorsium Huayou Bakal Dukung Program 100 GW PLTS
  • Prospek Penyimpanan Baterai (BESS) di Tengah Penurunan Harga Proyek

“Jadi kami punya komitmen tinggi juga terhadap pengembangan teknologi yang nantinya juga ownership-nya harapannya di Indonesia gitu,” lanjutnya.

Saat ini, proyek Titan bersama Huayou masih berada pada tahap awal. Aditya menjelaskan langkah berikutnya adalah penyusunan studi kelayakan bersama. 

Studi tersebut akan mencakup seluruh aspek proyek, mulai dari teknologi, lokasi, hingga skema bisnis. IBC menargetkan proses ini bisa rampung dalam tahun berjalan. 

“Semuanya, jadi segala aspek gitu ya, dan ya kita harapkan sih dalam tahun ini juga bisa diselesaikan,” ujar Aditya.

Terkait skala proyek, ia memastikan kapasitas produksi tetap mengacu pada komitmen awal meski detail teknis masih akan dikaji lebih lanjut. 

Aditya juga menegaskan optimisme IBC terhadap masa depan baterai berbasis nikel, di tengah berkembangnya teknologi lain seperti LFP. 

“Optimistik, optimistik. Apalagi kita bicara sekarang kan teman-teman cuma kenalnya LFP dan NMC gitu ya, tapi ke depan itu opsi teknologi baterai sangat banyak dan opsi-opsi yang nanti future battery itu masih akan menggunakan nikel. Jadi kami sangat optimistik sih,” ujarnya.

Melalui proyek Titan, IBC disebut tidak hanya membangun fasilitas industri, tetapi juga menyiapkan fondasi agar Indonesia naik kelas dari pemilik sumber daya menjadi negara dengan kemampuan teknologi baterai yang mandiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kejagung Geledah Rumah Eks Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar Terkait Kasus Sawit
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Trump segera Umumkan Bos Baru The Fed Pengganti Powell, Kevin Warsh Calon Kuat
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Di Rakernas BMBPSDM, Menag Soroti Pentingnya Efisiensi dan Kemaslahatan Umat
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Bareskrim Telusuri Jejak Uang di Kasus Dana Syariah Indonesia
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Kapolresta Sleman Dinonaktifkan Usai Hogi Minaya Korban Jambret Jadi Tersangka Picu Kegaduhan Publik
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.