Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar kompak mengundurkan diri pada Jumat (30/1/2026) di tengah tekanan hebat yang melanda pasar saham Indonesia.
Sentimen negatif menguat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sementara rebalancing indeks saham Indonesia, sekaligus memberi peringatan agar otoritas pasar segera membenahi transparansi data. Jika tidak dipenuhi, Indonesia berisiko turun kelas dari emerging market ke frontier market.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar menaruh harapan besar pada sosok pengganti pimpinan BEI dan OJK ke depan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai figur pengganti harus mampu membawa kebijakan yang jelas dan berpihak pada pasar.
"Saya menaruh harapan pemimpin yang baru, mulai dari Dirut BEI dan para petinggi OJK, agar supaya bisa menerapkan kebijakan pro market. Karena kita akan nantikan terkait dengan komitmen OJK untuk menaikkan batas free float 15% pada Februari 2026. Ini yang kita tunggu-tunggu," ujar Nafan saat dihubungi, Jumat (30/1/2026).
Selain itu, Nafan juga menekankan pentingnya percepatan demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung pada kuartal I/2026. Menurutnya, langkah tersebut krusial untuk meningkatkan akuntabilitas dan kredibilitas bursa di mata investor global.
"Dengan demikian, saya rasa nanti akan bisa membuat MSCI tidak menerapkan interim freeze terhadap indeks saham Indonesia. Supaya kita bisa tetap jadi bagian dari kategori MSCI emerging market, bukan frontier marker. Ini jadi benar-benar harapan para investor, pelaku pasar," tandasnya.
Baca Juga
- Risiko Tekanan Pasar Modal saat Kursi Petinggi OJK Kosong
- Ramalan Nasib Pasar Saham RI Usai Ketua OJK & Dirut BEI Kompak Mundur
- Petinggi OJK Kompak Mundur, Ini Nasib IHSG & Pasar Modal ke Depan
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pengunduran diri petinggi BEI dan OJK justru dapat menjadi langkah yang tepat di tengah guncangan pasar yang berujung pada trading halt selama dua hari berturut-turut pasca-pengumuman MSCI.
"Ini menjadi pukulan telak market, kepercayaan investor global juga mulai mempertanyakan transparansi saham di IHSG. Sepertinya kita perlu wajah baru yang lebih sehat, dan mungkin ini keputusan lebih baik dari sisi regulasi dan penyelenggara supaya lebih kredibel ke depan. Kita perlu orang-orang baru untuk bisa memimpin penyelenggaraan pasar modal lebih kredibel," ujar Reydi.
Reydi menilai dinamika pengunduran diri tersebut akan mulai direspons pasar pada perdagangan Senin (2/2/2026). Menurutnya, IHSG berpotensi mengalami tekanan jual dalam jangka pendek seiring sikap wait and see investor.
"Di awal market pasti ada sedikit tekanan jual tapi itu saya rasa hanya akan dalam jangka pendek. Iya, [market akan pecaya lagi], mereka pasti menunggu kepastian, wait and see terhadap siapa penerus-penerusnya. Harus ada calon yang lebih baik," pungkasnya.
Seperti diketahui, pada Jumat (30/1/2026) jajaran pimpinan Self Regulatory Organization (SRO) menyatakan mundur secara beruntun. Pengunduran diri diawali oleh Direktur Utama BEI Iman Rachman pada pagi hari sekitar pukul 08.30 WIB, disusul Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan dua pejabat pengawasan pasar modal lainnya, yakni Inarno Djajadi serta Aditya Jayaantara pada malam harinya sekitar pukul 19.00 WIB.
Mahendra menyatakan pengunduran dirinya bersama dua pejabat OJK lainnya merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan.
"OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional," tulisnya dalam rilis resmi, Jumat (30/1/2026).





