Bos OJK Kompak Mengundurkan Diri, Ekonom Singgung Kepercayaan Publik

disway.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Belum surut kehebohan yang ditimbulkan usai kabar pengunduran diri Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman pada Jumat (30/01) ini, dunia keuangan Indonesia kembali dihantam oleh kabar mundurnya dua petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dari posisinya masing-masing.

Tidak tanggung-tanggung, para bos OJK yang mengumumkan pengunduran dirinya diketahui adalah Ketua OJK Mahendra Siregar, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi.

Dengan mundurnya ketiga petinggi otoritas keuangan itu, sejumlah pertanyaan terkait dengan dampak serta masa depan sektor keuangan di Indonesia pun turut menjadi bahan perbincangan tersendiri.

BACA JUGA:OJK Diterpa Pengunduran Diri Beruntun, Mirza Adityaswara Juga Lepas Jabatan Wakil Ketua

Menurut Ekonom dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, rangkaian peristiwa ini bukan hanya sekadar pergantian kursi, melainkan sinyal bahwa kepercayaan keuangan Indonesia sedang mundur. 

"Masalahnya bukan hanya indeks turun, lalu naik lagi. Ketika puncak pengawas dan operator bursa mundur bersamaan, publik akan bertanya apakah sistem sedang kehilangan kendali, atau minimal sedang mengalami tekanan yang lebih besar dari yang disampaikan lewat konferensi pers," jelas Achmad ketika dihubungi oleh Disway, pada Jumat (30/01).

Lebih lanjut, Achmad juga turut menambahkan bahwa hal ini sendiri juga akan menimbulkan krisis kepercayaan tersendiri bagi para investor.

Hal ini sendiri juga didukung oleh MSCI, yang mengangkat isu “investability” Indonesia, menyoroti transparansi struktur kepemilikan dan kekhawatiran perilaku perdagangan yang mengganggu pembentukan harga, serta membuka kemungkinan peninjauan ulang hingga Mei 2026 jika tak ada perbaikan material.

BACA JUGA:Diperiksa KPK 4 Jam, Eks Menag Gus Yaqut: Saya Sampaikan Apa yang Saya Tahu

"Investor tidak menunggu kesimpulan resmi. Mereka mengurangi paparan lebih dulu. Dalam situasi seperti ini, pernyataan “kegiatan tetap berjalan” sering kalah kuat dibanding sinyal “tanggung jawab moral” yang diikuti pengunduran diri," tegas Achmad.

Selain itu, Achmad menambahkan, dalam laporan media internasional, gejolak terbaru bahkan disebut dipicu peringatan MSCI, disertai langkah langkah yang kemudian ditempuh pemerintah untuk menahan kepanikan, termasuk menaikkan batas investasi saham bagi dana pensiun dan asuransi serta wacana menaikkan ketentuan free float. 

"Kepercayaan pasar dibangun dari dua hal. Transparansi dan penegakan. Jika transparansi kepemilikan dianggap kurang memadai, maka pembentukan harga diragukan. Jika pembentukan harga diragukan, maka keputusan investasi berubah dari kalkulasi ke kehati hatian ekstrem," tutup Achmad.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Kampung Sawah Gelar Aksi Tolak Hiburan Malam Party Station
• 8 jam lalusuara.com
thumb
[FULL] Respons Jokowi soal Namanya Disebut dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Analisa Harga Emas Sabtu 31 Januari 2026: Ada Potensi Rebound Usai Terkoreksi Tajam?
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Banjir & longsor, Jalur Bandung–Prigi Trenggalek tertutup total
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
DPRD Bali Kukuhkan Komang Dyah Setuti sebagai Anggota PAW
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.