Hidup dengan Banyak Penyakit bukan Pilihan, tetapi Bertahan adalah Keberanian

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bagi sebagian orang, pagi hari dimulai dengan rencana. Bagi sebagian lainnya, pagi adalah negosiasi dengan tubuh sendiri, apakah hari ini rasa sakit akan memberi jeda, apakah energi cukup untuk sekadar mandi, sarapan, atau menjawab pesan. Hidup dengan banyak penyakit tidak memberi kemewahan kepastian. Ia memaksa seseorang hidup dalam kemungkinan dan—sering kali—dalam keterbatasan.

Tak ada yang memilih tubuh yang terus sakit. Tak ada yang dengan sadar menginginkan diagnosis berlapis, obat yang harus diminum seumur hidup, atau jadwal kontrol yang tak pernah selesai. Namun, kenyataan itu tetap harus dijalani. Di situlah keberanian dimulai bukan dalam sorotan, melainkan dalam kesunyian.

Masyarakat kita terbiasa mengagungkan ketangguhan. Kuat berarti tidak mengeluh. Tangguh berarti tetap produktif. Sehat seolah diukur dari seberapa jauh seseorang mampu menyamai ritme dunia. Di tengah budaya semacam ini, orang dengan banyak penyakit kerap terpinggirkan secara halus. Mereka tidak ditolak, tetapi juga tidak sepenuhnya dipahami.

Banyak penyakit bersifat tak kasatmata. Tidak semua rasa sakit dapat dilihat. Tidak semua kelelahan memiliki bentuk. Ketika seseorang masih bisa tersenyum, tertawa, atau hadir di ruang publik, dunia menganggapnya baik-baik saja. Padahal, sering kali itu adalah sisa tenaga terakhir yang dipaksakan demi terlihat “normal”.

Kalimat seperti “kamu kelihatannya sehat” atau “yang penting tetap semangat” terdengar baik, tetapi dapat menjadi beban. Di baliknya tersimpan tuntutan tersembunyi: jangan lemah, jangan mengeluh, jangan mengecewakan. Padahal, hidup dengan banyak penyakit berarti harus terus menyesuaikan diri dengan tubuh yang tidak konsisten hari ini untuk mampu.

Bertahan dalam kondisi ini bukan perkara mental baja atau sikap heroik. Bertahan adalah tentang menerima bahwa ada hari-hari ketika bangun dari tempat tidur saja sudah merupakan pencapaian besar. Tentang berdamai dengan rasa bersalah saat harus membatalkan janji. Tentang belajar melepaskan ambisi, bukan karena menyerah, melainkan karena ingin tetap hidup.

Ada kelelahan lain yang jarang dibicarakan, yakni kelelahan emosional. Orang dengan banyak penyakit sering kali harus menjadi penjelas atas kondisinya sendiri, menjawab pertanyaan, menghadapi keraguan, dan menenangkan orang lain agar tidak khawatir. Lama-kelamaan, kejujuran terasa melelahkan. Maka, diam menjadi pilihan bukan karena kuat, melainkan karena tak ingin dianggap berlebihan.

Di ruang keluarga, mereka bisa dianggap terlalu sensitif. Di tempat kerja, dianggap kurang tangguh. Di lingkungan sosial, perlahan ditinggalkan karena tidak selalu bisa hadir. Penyakit tidak hanya menyerang tubuh, tetapi juga relasi dan harga diri. Rasa takut menjadi beban tumbuh pelan-pelan, hingga seseorang mulai menyusutkan dirinya sendiri.

Namun, justru di titik inilah keberanian sejati terlihat. Keberanian untuk tetap memilih hidup, meski tubuh sering menolak. Keberanian untuk tetap berharap, meski kesembuhan tidak selalu dijanjikan. Keberanian untuk bertahan di dunia yang bergerak cepat, sementara dirinya harus berjalan perlahan.

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang makna keberanian. Keberanian bukan hanya tentang melawan dan menang. Bagi mereka yang hidup dengan banyak penyakit, keberanian adalah bertahan tanpa kepastian menghadapi hari demi hari dengan tubuh yang rapuh, tetapi dengan hati yang tetap berusaha utuh.

Empati yang kita butuhkan sebenarnya sederhana: memercayai rasa sakit orang lain, meski kita tidak dapat melihatnya, memberi ruang tanpa menghakimi, dan menghargai usaha kecil yang sering kali tak terlihat. Dunia tidak harus melambat, tetapi dapat belajar memberi jeda.

Hidup dengan banyak penyakit bukan pilihan. Itu adalah keadaan yang datang tanpa izin. Namun, memilih untuk bertahan adalah keputusan paling berani yang diambil setiap hari oleh mereka yang jarang disebut pahlawan keberanian yang tidak berisik, tetapi nyata—keberanian yang seharusnya kita hormati, bukan kita ragukan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Teknologi Low Power Constant Heat Jadi Standar Baru Kompor Listrik Masa Kini
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Raffi Ahmad di Lokasi Longsor Cisarua, Ungkap Pesan Presiden Prabowo dan Dedi Mulyadi
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Tren Karier Gen Z di 2026: Utamakan Kesehatan Mental
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
Regulator Belanda investigasi Roblox soal risiko bagi pengguna anak
• 42 menit laluantaranews.com
thumb
Udinus Semarang Jadi Kampus Pertama Terapkan Ijazah 100 Persen Berbasis Blockchain
• 19 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.