Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran, meski penilaian terbaru intelijen Amerika Serikat dan Israel menyimpulkan bahwa program nuklir Iran saat ini belum menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan AS.
Menurut pejabat AS dan Eropa yang dikutip dalam laporan khusus The New York Times pada Jumat, belum ditemukan bukti kuat bahwa Iran telah kembali menjalankan program pengayaan uranium tingkat tinggi atau memproduksi sistem persenjataan baru. Temuan itu berlaku setidaknya hingga enam bulan setelah serangan AS pada Juni tahun lalu.
Dikutip dar Antara, Sabtu, 31 Januari 2026, kesimpulan intelijen tersebut memunculkan pertanyaan mengenai waktu dan dasar pertimbangan pemerintah AS dalam melontarkan kembali ancaman militer terhadap Teheran.
Pada Juni 2025, Trump sempat memperingatkan Iran agar segera “berdamai," seraya menyatakan bahwa serangan lanjutan akan “semakin parah dan semakin mudah” jika peringatan itu diabaikan. Ancaman serupa kembali ia sampaikan pekan ini ketika mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan.
Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa sikap Trump tidak berubah. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan “negara pendukung terorisme nomor satu di dunia” memiliki senjata nuklir.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Departemen Pertahanan AS memperkuat postur militernya di kawasan Timur Tengah. Penguatan itu mencakup pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln, pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, serta puluhan ribu personel militer.
Namun demikian, sejumlah pejabat senior AS secara tertutup mengakui bahwa eskalasi konflik berikut dampaknya masih sulit diprediksi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam rapat dengar pendapat dengan Senat AS pada Rabu (28/1), menyebut bahwa konsekuensi politik dari kemungkinan jatuhnya kepemimpinan Iran masih belum jelas.
“Itu adalah pertanyaan terbuka,” ujar Rubio. Ia menambahkan bahwa struktur kekuasaan Iran terbagi antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Menurut penilaian intelijen, cadangan uranium diperkaya milik Iran yang terdampak serangan AS tahun lalu diyakini masih terkubur dan belum dapat diakses. Kondisi itu membuat pemulihan cepat terhadap kemampuan produksi senjata nuklir dinilai kecil kemungkinannya.
Meski demikian, Iran dilaporkan telah melakukan penggalian lebih dalam di sejumlah fasilitas nuklirnya, termasuk di wilayah Natanz dan Isfahan.
Di dalam negeri AS, sejumlah legislator dari Partai Demokrat menyuarakan keprihatinan atas pendekatan pemerintahan Trump. Anggota DPR AS Jason Crow menilai bahwa langkah yang dibutuhkan saat ini bukanlah unjuk kekuatan militer, melainkan “kesepakatan permanen dan dapat diverifikasi untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir."
Baca juga: Iran Ancam Serang Kapal Induk AS Jika Terjadi Invasi




