Jakarta, VIVA – Pasar mobil Low Cost Green Car (LCGC) kembali menunjukkan dinamika menarik pada Januari 2026, seiring penyesuaian harga yang dilakukan sejumlah merek untuk menjaga daya saing. Segmen ini tetap menjadi pilihan utama konsumen yang mencari kendaraan baru dengan harga terjangkau dan biaya kepemilikan yang relatif rendah.
Dari merek Toyota, Calya masih diposisikan sebagai MPV LCGC untuk kebutuhan keluarga dengan konfigurasi tujuh penumpang. Dilihat VIVA Otomotif di laman resminya, Sabtu 31 Januari 2026, Calya 1.2 E STD M/T Basic dibanderol Rp170,2 juta on the road Jakarta, sementara varian tertingginya 1.2 G A/T Basic mencapai Rp193,2 juta.
Selain Calya, Toyota juga menawarkan Agya sebagai hatchback LCGC yang menyasar konsumen muda dan penggunaan harian di perkotaan. Harga Agya 1.2 E M/T dengan status spot order tercatat Rp173,8 juta, sedangkan varian Stylix 1.2 G CVT menjadi yang termahal di lini ini dengan banderol Rp201,2 juta.
Di sisi lain, Daihatsu tetap konsisten mengandalkan Ayla sebagai hatchback LCGC dengan pilihan mesin beragam. Varian termurah Ayla 1.0 M MT dipasarkan Rp140,2 juta, sementara Ayla 1.2 R CVT berada di angka Rp190,2 juta.
Masih dari Daihatsu, Sigra menjadi penantang langsung Calya di segmen MPV LCGC dengan kapasitas tujuh penumpang. Harga Sigra 1.0 D MT tercatat Rp143,2 juta, sedangkan varian tertinggi 1.2 R AT dibanderol Rp183 juta.
Perbedaan harga antarvarian LCGC umumnya dipengaruhi oleh pilihan mesin, transmisi, serta kelengkapan fitur keselamatan dan kenyamanan. Transmisi otomatis atau CVT menjadi faktor utama yang membuat banderol naik cukup signifikan dibandingkan versi manual.
Dari sisi konsumen, rentang harga LCGC pada awal 2026 ini masih dianggap kompetitif untuk segmen mobil baru. Kehadiran banyak pilihan varian memungkinkan pembeli menyesuaikan anggaran dengan kebutuhan penggunaan sehari-hari.
Segmen LCGC juga masih diandalkan pabrikan sebagai pintu masuk bagi konsumen pembeli mobil pertama. Selain harga yang relatif terjangkau, biaya perawatan dan konsumsi bahan bakar menjadi nilai jual utama.
Meski demikian, tren kenaikan harga secara bertahap tetap menjadi perhatian pasar. Penyesuaian ini tidak lepas dari faktor biaya produksi, fitur tambahan, serta kondisi ekonomi secara umum.





