Perputaran Ekonomi Besar, tapi UMKM Jateng Masih Kesulitan Tembus Pasar Ekspor

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG — Jawa Tengah harus memaksimalkan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), demi meningkatkan skala perekonomian selain dari sektor industri pengolahan yang masih memainkan peranan dominan 

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menyebut produk lokal di wilayah itu sebetulnya telah mampu bersaing di pasar internasional.

"Banyak kain dan kriya, itu banyak, seperti misalnya Naruna keramik di Salatiga yang sudah ekspor banyak. Serta produk anyaman Rorokenes. Batik Pekalongan bahkan sudah ada yang menggunakan desain berbasis kecerdasan buatan [artificial intelligence/AI] dan berhasil meraih juara pertama di Dekranasda Award tingkat nasional," ujarnya pada Jumat (30/1/2026).

Potensi perputaran ekonomi dari aktivitas usaha di sektor UMKM juga tidak sedikit. Nawal mengungkapkan bahwa di Kabupaten Jepara saja, terdapat 81.600 unit UMKM ukiran yang perputaran ekonominya mencapai Rp3,5 triliun per tahun.

Wilayah itu juga punya potensi lokal berupa Tenun Troso yang telah diakui sebagai budaya tak benda oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sayangnya, UMKM-UMKM tersebut masih menghadapi sejumlah kendala untuk bisa menjangkau pasar internasional yang lebih luas.

Kendala bahasa dan perbedaan budaya kerap menjadi penghambat proses negosiasi perdagangan. Untuk mengatasi hal tersebut, Nawal menyebut kolaborasi antarpemangku kebijakan perlu dilakukan seperti misalnya dengan Bank Indonesia untuk mendorong penguatan kurasi produk UMKM.

Baca Juga

  • Catat! Tak Semua UMKM Bisa Jadi Pemasok MBG, Ini Alasannya
  • Riset: Omzet dan Aset UMKM Penerima Pinjol Naik Signifikan

Pelaku UMKM juga bisa menjadi katalisator bagi upaya peningkatan kualitas dan daya saing. Strategi "Foster Parent" dimana UMKM besar ikut membina UMKM lain yang lebih kecil, menjadi program prioritas yang coba dipromosikan oleh Dekranasda Provinsi Jawa Tengah.

"Ke depannya, kita harus lebih menumbuhkan keberanian daripada UMKM yang masih embrio, supaya nanti bisa berani untuk naik kelas. Ini yang menjadi PR kita, bagaimana business matching itu harus diperkuat untuk mendampingi UMKM agar berani melakukan ekspor," ujar Nawal.

Perancang busana sekaligus Anggota Komisi VII DPR-RI Samuel Wattimena menambahkan bahwa produk UMKM asal Indonesia sulit untuk bisa bersaing dengan produk lain di luar negeri lantaran banyak pelaku UMKM yang tidak paham pentingnya narasi.

"Kalau kita sudah punya showroom di Kedutaan Besar luar negeri, tolong dilengkapi dengan narasi yang tepat. Banyak barang di kedutaan hanya menjadi tumpukan, karena tidak ada data asal daerah, cara produksi, dan bahan dasarnya," ungkapnya.

Selain masalah narasi, tantangan geopolitik dan perubahan standar pasar global menjadi hambatan nyata. Samuel menambahkan bahwa pasar internasional saat ini sangat sensitif terhadap isu lingkungan. Produk yang mengusung konsep green craftsmanship atau ramah lingkungan menjadi syarat mutlak untuk menembus negara-negara maju.

Selain itu, legalitas usaha yang di era sebelumnya sering terabaikan, kini menjadi komponen vital yang mulai disadari oleh para pelaku UMKM kontemporer.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Imigrasi Aceh Gratiskan Denda Penggantian Paspor Hilang dan Rusak untuk Korban Bencana
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Kemenkes Imbau Warga Tak Menyalahgunakan Gas Medik N2O
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Zodiak yang Sulit Melihat Orang Lain Bahagia, Anda Termasuk?
• 18 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Rekomendasi acara menarik saat akhir pekan di Jakarta
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Polisi Cegat Bus di Bandung, Tangkap Penculik Anak yang Nekat Usai Putus Cinta
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.